Buku Langka Diduga Dihancurkan Demi Kembangkan AI, Praktik Kontroversial Ini Picu Kemarahan Pecinta Buku
Rabu, 05 Agu 2026, 19:00 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Buku selama ini dikenal sebagai sumber ilmu pengetahuan, sejarah, dan warisan budaya yang tak ternilai. Namun, di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), muncul kabar yang mengejutkan sekaligus memicu kontroversi. Sejumlah perusahaan AI diduga menghancurkan ribuan hingga jutaan buku fisik setelah dipindai sebagai bagian dari proses pengembangan model AI.
Isu ini mencuat setelah dokumen pengadilan di Amerika Serikat mengungkap praktik yang disebut destructive scanning atau pemindaian destruktif. Kasus tersebut menjadi sorotan karena melibatkan perusahaan AI Anthropic, yang sedang menghadapi gugatan hak cipta dari sejumlah penulis.
Dalam dokumen yang dipublikasikan ke publik, dijelaskan perusahaan membeli buku fisik, kemudian memotong bagian punggung buku agar setiap lembar halaman dapat dipindai dengan lebih cepat menggunakan mesin pemindai berkecepatan tinggi. Setelah seluruh isi buku didigitalisasi, fisik buku tersebut tidak lagi digunakan dan pada banyak kasus dihancurkan sehingga tidak dapat dikembalikan ke bentuk semula.
Metode ini dinilai jauh lebih efisien dibandingkan memindai buku secara manual satu per satu. Namun, konsekuensinya tidak kecil. Ribuan bahkan jutaan buku harus dikorbankan demi menghasilkan data digital yang akan digunakan untuk melatih sistem AI.
Yang membuat kontroversi semakin besar, dokumen pengadilan juga mengungkap praktik tersebut dilakukan tanpa banyak diketahui publik. Meski demikian, dalam perkara tersebut hakim menyatakan proses pemindaian destruktif tersebut termasuk dalam kategori transformative use atau penggunaan transformatif berdasarkan hukum hak cipta Amerika Serikat. Artinya, proses digitalisasi untuk tujuan tertentu dinilai tidak secara otomatis melanggar hak cipta, meski putusan tersebut tetap menuai perdebatan.
Lalu, mengapa perusahaan AI membutuhkan begitu banyak buku?
Jawabannya berkaitan dengan kualitas data. Untuk mengembangkan model AI, perusahaan memerlukan data dalam jumlah sangat besar. Namun, seiring meningkatnya konten yang dihasilkan AI di internet atau yang sering disebut sebagai AI slop, memperoleh data berkualitas tinggi menjadi semakin sulit.
Buku-buku yang diterbitkan sebelum era AI generatif berkembang luas pada 2023 dianggap memiliki nilai yang sangat tinggi karena seluruh isinya ditulis oleh manusia. Data tersebut dinilai lebih akurat, lebih kaya konteks, dan lebih bermanfaat untuk melatih model AI agar menghasilkan jawaban yang lebih baik.
Beberapa laporan juga menyebut perusahaan AI menggunakan pihak ketiga untuk membeli buku dalam jumlah besar secara anonim. Salah satu nama yang disebut adalah perusahaan asal Kanada, Zoom Books, yang disebut melakukan pembelian melalui berbagai marketplace buku bekas seperti AbeBooks dan Biblio.
Sejumlah pemilik toko buku bekas di Australia mengaku menerima pesanan dalam jumlah yang tidak biasa. Menariknya, buku-buku yang dipesan berasal dari berbagai kategori yang sangat beragam, mulai dari buku akademik, buku lama yang sudah lama tersimpan di rak, hingga koleksi yang tergolong langka.
Hal tersebut memunculkan tanda tanya di kalangan penjual. Mereka menilai pembeli tampak tidak terlalu mempermasalahkan harga maupun tema buku. Fokus utamanya hanya memperoleh sebanyak mungkin buku fisik.
Kondisi ini menimbulkan dilema tersendiri bagi para penjual buku bekas. Di satu sisi, pembelian dalam jumlah besar tentu menguntungkan secara bisnis. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran buku-buku tersebut justru akan dihancurkan setelah dipindai.
Bagi para pecinta buku, persoalan ini bukan sekadar soal digitalisasi. Buku-buku lama, terutama edisi langka atau yang sudah tidak lagi dicetak, memiliki nilai sejarah dan budaya yang sulit digantikan. Jika salinan fisiknya hilang, sebagian warisan intelektual juga dikhawatirkan ikut lenyap.
Kontroversi ini pun memunculkan perdebatan yang lebih luas mengenai batas antara kemajuan teknologi dan pelestarian warisan budaya. Di satu sisi, perusahaan AI membutuhkan sumber data berkualitas untuk mengembangkan teknologi yang semakin canggih. Namun di sisi lain, banyak pihak menilai proses tersebut seharusnya tidak mengorbankan buku-buku yang memiliki nilai historis maupun budaya.
Perdebatan mengenai praktik destructive scanning diperkirakan masih akan terus berlanjut, seiring meningkatnya kebutuhan industri AI terhadap data berkualitas tinggi. Kasus ini juga menjadi pengingat perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan pertimbangan etika, penghormatan terhadap hak cipta, serta upaya menjaga keberadaan buku sebagai salah satu warisan pengetahuan umat manusia.
- AI
- buku dihancurkan untuk ai
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
Berita Terkait:
-
Viral di Threads: Isu Pasien BPJS Meninggal Usai 8 Jam Tak Dapat Ruangan, Komentar Nirempati Diduga Nakes Tuai Sorotan
-
Aisar Khaled Sambangi Keluarga Satpam Sumarna, Dituding Pansos Usai Pajang Wajahnya di Momen Duka
-
10 Kota Paling Layak Huni di Dunia 2026: Vancouver hingga Tokyo, Ada Kabar Baik untuk Jakarta?
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.