Tiket BLACKPINK dan Tanda Seru di Pesan Singkat Disebut Jadi Pemicu Konflik Ruben Onsu dan Sarwendah

Ket. Tiket BLACKPINK dan Tanda Seru di Pesan Singkat Disebut Jadi Pemicu Konflik Ruben Onsu dan Sarwendah

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Polemik pasca-perceraian antara Ruben Onsu dan Sarwendah kembali memasuki babak baru. Kali ini, kuasa hukum Ruben, Minola Sebayang, membeberkan sejumlah hal yang disebut menjadi pemicu keretakan komunikasi antara kliennya dengan mantan istri.

Menurut Minola, persoalan tersebut bermula dari berbagai masalah kecil yang kemudian berkembang menjadi konflik besar.

Beberapa hal yang diungkapnya antara lain persoalan penggunaan tanda seru (!) dalam pesan singkat hingga masalah tiket konser BLACKPINK yang disebut berujung pada ancaman bahwa rumah mewah mereka di kawasan Cilandak akan dilelang.

Minola menilai isu mengenai rumah yang disebut akan dilelang bukanlah persoalan baru. Menurutnya, narasi tersebut sudah berulang kali muncul sejak 2025 dan disebut kerap digunakan sebagai bentuk tekanan psikologis kepada Ruben Onsu.

"Sejak tahun 2025, isu lelang ini sudah sering disampaikan oleh S kepada Ruben. Ini adalah polanya dia untuk selalu memberikan tekanan dan memojokkan Ruben, pasti isunya rumah mau dilelang. Dalam komunikasi yang bersifat tertutup dan internal pun ini sering sekali disuarakan oleh S kepada Ruben, dan kami juga sering mendengarnya dari kuasa hukumnya," ujar Minola Sebayang, dikutip dari kanal YouTube Intens Investigasi, Rabu, 29 Juli 2026.

Masalah Tiket BLACKPINK hingga Perdebatan Tanda Seru

Minola kemudian mengungkap salah satu percakapan yang menurutnya menjadi titik awal munculnya isu tersebut. Peristiwa itu disebut terjadi pada Oktober 2025 ketika komunikasi antara Ruben Onsu dan Sarwendah bermula dari pembahasan mengenai tiket konser BLACKPINK.

Menurut Minola, Sarwendah saat itu beberapa kali menanyakan apakah tiket yang dibeli Ruben merupakan tiket duduk. Ruben disebut telah memberikan bukti tiket sekaligus menjelaskan bahwa kursi yang dibeli memang merupakan kategori duduk.

Namun, setelah itu Sarwendah kembali meminta agar Ruben menambah satu tiket lagi di baris yang sama. Permintaan tersebut, kata Minola, tidak dapat dipenuhi karena tiket sudah lebih dahulu dibeli dan kursi di baris tersebut telah habis terjual.

"S minta tambah satu tiket lagi di row yang sama. Kan nggak mungkin kalau kita sudah beli tiket, kemudian beberapa waktu kemudian kita minta lagi tiket tambahan satu di row yang sama, pasti sudah terjual. Makanya Ruben tidak lagi menjawab pertanyaan itu karena sudah berulang-ulang ditanyakan. Nah, karena Ruben menduga pertanyaan tentang tiket ini tidak dijawab, maka muncullah setelah Ruben mengirimkan bukti tiket, kata-kata, 'Maaf ini rumah mau dilelang?'. Jadi Oktober 2025 pun kata-kata lelang itu adalah kata-kata yang sering digunakan oleh S untuk menekan Ruben, untuk menjatuhkan mental Ruben," tegasnya.

Selain persoalan tiket konser, Minola juga mengungkap adanya insiden lain yang menurutnya menunjukkan bagaimana masalah kecil dapat berkembang menjadi konflik lebih besar.

Ia mencontohkan sebuah percakapan melalui pesan singkat ketika Ruben tanpa sengaja mengetik tanda seru (!) saat membalas pesan Sarwendah. Kesalahan pengetikan tersebut, menurut Minola, kemudian menjadi bahan perdebatan panjang.

"Di sini ada satu dialog yang menunjukkan mereka suka miskomunikasi. Misalnya Ruben ini typo dalam menjawab chatting-nya S, ada tanda seru. Itu menjadi pembahasan. 'Kenapa ada tanda seru ini?'. Sampai akhirnya terjadi keributan dalam komunikasi itu dan Ruben bilang, 'Ya udah nggak apa-apa'. Dia minta maaf nih Ruben, 'Iya saya maaf, nggak lihat pakai kata seru. Maaf ya karena kepencet kata seru'. Ruben maaf-maaf terus, ditekan terus," ujarnya.

Minola mengklaim, setelah Ruben meminta maaf terkait persoalan tersebut, pembahasan kemudian bergeser kepada persoalan biaya bulanan anak dan kebutuhan rumah tangga.

"Setelah Ruben minta maaf, balasannya bukan maafnya diterima. Muncul lah tagihan bulanan seperti yang sudah kita ketahui bersama. Anak pokok Rp75 juta, sarang burung Rp9,3 juta, doggy Rp9,5 juta dan seterusnya. Jadi selalu komunikasinya diawali seperti itu, ngomongin apa tiba-tiba terjadi miskomunikasi yang muncul tagihan. Apa lagi kita minta rincian ini ke mana saja? Nggak bisa, Ruben pasti langsung debat terus. Jadi kalau orang-orang bilang, 'Kan tinggal komunikasi masalah jadwal', aduh... masalah sepele kepencet tanda seru aja jadi masalah besar," tutup Minola Sebayang.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Sarwendah terkait pernyataan yang disampaikan oleh kuasa hukum Ruben Onsu tersebut.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN