Era Baru Dior FW26 Haute Couture di Tangan Jonathan Anderson yang 'Memahat' Pakaian Jadi Instalasi Seni
Selasa, 14 Jul 2026, 19:00 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Ketika sebagian besar desainer memilih aman dengan memberi penghormatan pada sejarah masa lalu saat memegang rumah mode raksasa, Jonathan Anderson justru melakukan hal sebaliknya di Dior.
Lewat koleksi Dior Haute Couture Fall/Winter 2026/2027, Anderson langsung membuka babak baru "Diorisme" yang radikal. Alih-alih membongkar arsip lama Christian Dior, ia berpaling pada karya pematung Amerika, Lynda Benglis, dan memperlakukan studio Dior bak sebuah laboratorium seni pahat.
Hasilnya? Deretan pakaian yang tidak sekadar dijahit untuk mengikuti bentuk tubuh, melainkan memaksa kain menciptakan tubuh dan volumenya sendiri melalui teknik manipulasi material tingkat dewa.
Dari Siluet "Memahat" Tubuh hingga Gaun Armadillo yang Menipu Mata
Bahasa visual koleksi ini didominasi oleh teknik draping, lipit tangan, simpul, dan pembentukan volume yang ekstrem.
Pada look pembuka, Anderson langsung menghentak panggung lewat perpaduan stole shearling abu-abu berlipit di atas blus satin sutra ecru, yang disandingkan dengan celana hitam berdetail simpul trompe-l'Åil.
Eksperimen gila Anderson mencapai puncaknya pada look ikonis bernama "Armadillo". Dari kejauhan, busana ini tampak kaku bagaikan instalasi seni kontemporer dari logam cair.
Namun saat dilihat dari dekat, kemewahan ini ternyata merupakan ilusi optik yang dibangun dari rajutan super lembut, lembaran foil perak, taburan payet, dan bunga dogwood berbahan sifon putih.
Anderson berhasil mengaburkan batas antara tekstil dan material industri, mengubah jaring perak lembut menjadi ilusi kawat yang kokoh namun tetap lentur saat bergerak.
Eksplorasi Budaya Ahmedabad dan Artefak Sejarah pada Lady Dior Mini
Konsep adibusana kali ini bergerak jauh melintasi batas negara hingga ke Ahmedabad, Gujarat (India), sebuah tempat yang memiliki ikatan emosional dengan Lynda Benglis. Di sini, Anderson mengeksplorasi tradisi kain katun bermotif chintz abad ke-18 yang pernah mengubah sejarah dekorasi Eropa.
Hebatnya, kain-kain antik chintz dan indiennes ini tidak sekadar menjadi hiasan busana, melainkan diaplikasikan langsung sebagai material utama pada tas ikonik Lady Dior mini dan Petit Dîner.
Langkah ini sukses mengubah aksesori mewah tersebut menjadi layaknya sebuah artefak sejarah yang bernilai tinggi.
Pertemuan lanskap hijau Ahmedabad dan gurun Santa Fe di New Mexico kemudian dituangkan ke dalam dialog warna koleksi, mempertemukan motif bunga dengan tekstur organik yang menyerupai tanah liat, batu, dan logam.
Modifikasi Radikal Bar Jacket dan Kemegahan Gaun Pengantin Lanskap Hidup
Warisan emas Christian Dior tetap dihadirkan secara genius pada look ke-26 melalui interpretasi ulang Bar Jacket.
Jaket legendaris ini terlahir kembali menggunakan bahan tweed hitam dengan tepian berserat yang sengaja dibuat berjumbai lewat keahlian tangan, lalu dipadukan dengan rok lilit berlipit matahari bersiluet arsitektural.
Sebagai penutup yang dramatis, sebuah gaun pengantin hadir meringkas seluruh visi arsitektural Anderson. Gaun berbahan sifon putih berlipit tangan dengan ekor menjuntai panjang ini dilapisi renda bermotif kaktus dan pakis.
Detailnya disempurnakan dengan sulaman manik-manik berbentuk pakis serta dandelion berbulu putih yang halus.
Saat model berjalan di atas runway, gaun tersebut tidak lagi terlihat seperti pakaian biasa, melainkan menjelma sebagai sebuah lanskap alam hidup yang bergerak dengan begitu anggun dan emosional.
- Jonathan Anderson
- Paris Fashion Week 2026
Redaktur: Fitrya A Kusumah
Penulis: Fitrya A Kusumah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.