Tokyo Taklukkan Macet dengan Transportasi Publik, Jakarta Kapan Bisa Menyusul?

Sabtu, 04 Jul 2026, 19:10 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM – Jakarta terus berbenah untuk memperkuat posisinya sebagai kota global. Berbagai indikator internasional menunjukkan adanya peningkatan daya saing ibu kota, termasuk masuknya Jakarta dalam jajaran kota terbaik dunia. Namun, di balik berbagai pencapaian tersebut, masih terdapat sejumlah persoalan yang setiap hari dirasakan masyarakat.

Kemacetan panjang, polusi udara, banjir musiman, keterbatasan akses air bersih, hingga belum optimalnya jaringan transportasi publik masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya terselesaikan. 

Ket. Foto: Potret transportasi publik di Jakarta. — Sumber: Gemini AI

Kondisi ini kemudian memunculkan pertanyaan, sejauh mana Jakarta siap bersaing dengan kota-kota metropolitan dunia seperti Tokyo?

Berikut sejumlah fakta yang menjadi perhatian.

1. Waktu di Jalan Masih Menghabiskan Sebagian Hari Warga

Bagi sebagian pekerja di Jakarta dan kawasan penyangga, perjalanan menuju tempat kerja masih menjadi aktivitas yang menyita waktu. Tidak sedikit warga yang harus menghabiskan hingga tiga jam setiap hari untuk perjalanan pergi dan pulang.

Kemacetan yang berkepanjangan bukan hanya berdampak pada produktivitas kerja, tetapi juga mengurangi waktu bersama keluarga serta meningkatkan tingkat kelelahan masyarakat.

2. Kemacetan Belum Sepenuhnya Teratasi

Pemerintah memang terus membangun berbagai infrastruktur jalan dan transportasi massal. Namun, kepadatan kendaraan masih menjadi pemandangan rutin di banyak ruas jalan utama, terutama pada jam sibuk.

Pertumbuhan kendaraan pribadi yang terus meningkat membuat kapasitas jalan sulit mengimbangi kebutuhan mobilitas masyarakat.

3. Polusi Udara Masih Menjadi Ancaman

Selain macet, kualitas udara Jakarta juga masih menjadi perhatian. Indonesia bahkan sempat masuk dalam daftar negara dengan indeks polusi udara tertinggi berdasarkan Air Quality Index (AQI).

Paparan polutan, terutama partikel halus PM2.5, berpotensi meningkatkan risiko penyakit pernapasan, gangguan jantung, hingga masalah kesehatan lainnya apabila terjadi dalam jangka panjang.

4. Transportasi Publik Belum Sepenuhnya Terintegrasi

Jakarta memiliki berbagai moda transportasi seperti MRT, LRT, KRL Commuter Line, TransJakarta, hingga layanan pengumpan (feeder). Namun, jaringan tersebut dinilai belum sepenuhnya menjangkau seluruh kawasan Jabodetabek.

Akibatnya, jutaan masyarakat masih mengandalkan kendaraan pribadi untuk beraktivitas setiap hari. Dampaknya tidak hanya memicu kemacetan, tetapi juga meningkatkan konsumsi bahan bakar, biaya transportasi, dan emisi kendaraan.

5. Banjir Musiman Masih Terjadi

Saat musim hujan tiba, sejumlah wilayah Jakarta masih mengalami genangan hingga banjir. Meskipun berbagai proyek pengendalian banjir telah dilakukan, persoalan drainase, tingginya curah hujan, serta perubahan tata ruang masih menjadi tantangan yang harus terus dibenahi.

6. Akses Air Bersih Belum Merata

Persoalan lain yang juga masih menjadi keluhan warga adalah distribusi air bersih.

Data menunjukkan layanan air minum melalui jaringan perpipaan yang dikelola PAM JAYA baru menjangkau sekitar 65 persen dari target layanan penuh. Artinya, sekitar 35 persen warga Jakarta masih belum memperoleh layanan air bersih perpipaan dan masih menggunakan sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

7. Kendaraan Pribadi Masih Mendominasi

Jumlah kendaraan bermotor di Jakarta kini telah melampaui 12 juta unit, terdiri dari sekitar 9,1 juta sepeda motor, ratusan ribu truk, serta jutaan mobil.

Di sisi lain, jumlah penggunaan transportasi publik diperkirakan mencapai sekitar 39 juta perjalanan setiap bulan atau sekitar 1,3 juta perjalanan per hari. 

Jika dibandingkan dengan sekitar 22,4 juta pergerakan kendaraan setiap hari di Jakarta berdasarkan data 2022, angka tersebut menunjukkan bahwa kendaraan pribadi masih memiliki peran dominan dalam mobilitas masyarakat. Perbandingan ini perlu dipahami dengan memperhatikan metodologi dan definisi masing-masing data.

Ruang Terbuka Hijau Masih Menjadi Sorotan

Selain persoalan transportasi, keberadaan ruang terbuka hijau juga menjadi perhatian. Sejumlah kalangan menilai pembangunan gedung dan kawasan komersial membuat ruang hijau berkurang di beberapa lokasi, meskipun pemerintah juga melakukan revitalisasi dan pembangunan taman kota di berbagai titik.

Tokyo Jadi Gambaran Sistem Transportasi yang Terintegrasi

Jika dibandingkan dengan Tokyo, perbedaannya cukup mencolok.

Kawasan metropolitan Tokyo yang dihuni sekitar 37 juta penduduk memiliki sistem transportasi publik yang sangat terintegrasi. Kereta dan bus menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat, dengan sekitar 80 persen penduduk menggunakan transportasi umum untuk aktivitas sehari-hari.

Jaringan transportasi yang saling terhubung membuat mobilitas masyarakat tetap efisien meski Tokyo merupakan salah satu kawasan metropolitan terbesar di dunia. Ketergantungan terhadap kendaraan pribadi pun relatif lebih rendah dibanding banyak kota besar lainnya.

Pengalaman Tokyo menunjukkan kota berpenduduk besar tetap dapat bergerak secara efisien apabila didukung sistem transportasi publik yang luas, terintegrasi, tepat waktu, dan mudah diakses.

Bagi Jakarta, berbagai pembangunan yang dilakukan menjadi langkah awal menuju kota yang lebih kompetitif. Namun, tantangan seperti kemacetan, kualitas udara, banjir, pemerataan layanan air bersih, hingga penguatan jaringan transportasi publik masih menjadi pekerjaan yang perlu terus diselesaikan.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah kota tidak hanya dinilai dari pengakuan internasional atau kenaikan peringkat global, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat dapat menikmati layanan publik yang berkualitas serta memiliki mobilitas yang aman, nyaman, dan efisien dalam kehidupan sehari-hari.

  • Jakarta
  • tokyo

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.