5 Alasan di Balik Fenomena 'Sesal di Bali', Wisatawan Mulai Keluhkan Kondisi Pulau Dewata
Kamis, 18 Jun 2026, 17:00 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Popularitas Bali sudah diakui oleh dunia. Namun belakangan, citranya mulai dipertanyakan. Tak sedikit wisatawan yang kecewa liburan di sana.
Belakangan, muncul sebuah anomali. Di balik foto-foto estetik yang bertebaran di Instagram, mulai bermunculan opini jujur dari para pelancong di berbagai travel blog ternama seperti Travel Eat Love, La Vie En Marin, dan Couple of Journeys.
Banyak turis yang secara terbuka mengungkapkan rasa kecewa, bahkan menyesal telah datang ke Bali akibat beberapa persoalan akut yang belum teratasi dengan baik.
1. Fenomena Overtourism (Terlalu Sesak dan Riuh)
Bali memiliki luas wilayah sekitar 5.780 km persegi dengan populasi penduduk asli 4,4 juta jiwa. Ledakan turis membuat Bali sesak karena harus menampung 6,3 juta turis.
Akibat strategi pemasaran pop-kultur yang masif di media sosial, Bali terasa terlalu padat. Esensi liburan untuk mencari ketenangan kini nyaris mustahil didapatkan di kawasan populer.
Alih-alih bisa duduk tenang menikmati deburan ombak, ketenangan turis sering kali terganggu oleh padatnya antrean foto, hilir mudik pelancong lain, hingga agresifnya tawaran jasa guide atau penyewaan alat liburan di sepanjang garis pantai.
2. Darurat Sampah di Spot Populer
Masalah lingkungan, khususnya tumpukan sampah plastik, menjadi pemandangan yang mudah ditemui di titik-titik ikonis seperti Pantai Kuta.
Selain merusak estetika visual, krisis sampah ini menurunkan kualitas air dan udara, yang berisiko membawa dampak buruk bagi kesehatan masyarakat lokal maupun wisatawan.
Sebagai langkah respons cepat, Pemerintah Provinsi Bali sebenarnya telah merilis aturan tegas lewat Surat Edaran (SE) Nomor 9 Tahun 2025 mengenai Gerakan Bali Bersih.
Regulasi ini melarang total penggunaan plastik sekali pakai dalam kegiatan usaha dan mewajibkan pemilahan serta pengolahan sampah sebelum diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Namun, tantangan terbesar di lapangan tetap ada pada konsistensi penegakan hukumnya.
3. Ledakan Sepeda Motor dan Pelanggaran Hukum oleh WNA
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kepemilikan sepeda motor di Bali telah menyentuh angka 4,5 juta unit. Jumlah fantastis ini kian bertambah parah dengan menjamurnya bisnis sewa motor untuk turis asing. Hal ini berdampak langsung pada penurunan kualitas udara akibat polusi emisi.
Bukan hanya kemacetan, perilaku berkendara para Warganegara Asing (WNA) ini kerap memicu keresahan publik.
Banyak turis asing tertangkap kamera berkendara secara ugal-ugalan, tanpa mengenakan helm, tidak memiliki SIM, berkendara dengan pakaian yang kurang pantas, hingga bersikap tidak sopan saat ditegur.
Aktivitas ini memicu desakan publik agar pihak berwajib menindak tegas hingga mendeportasi para turis yang tidak menghormati aturan hukum setempat.
4. Kemacetan Total yang Membuat Frustrasi
Volume kendaraan yang tidak sebanding dengan kapasitas jalan membuat kemacetan di Bali berada di tingkat yang mengkhawatirkan.
Salah satu momen terparah terjadi saat musim liburan Tahun Baru di sepanjang Jalan Raya Canggu, di mana arus lalu lintas macet total hingga membuat pengendara frustrasi.
Kondisi serupa bahkan sempat viral di media sosial saat jalur tol menuju bandara mengalami kelumpuhan total. Demi mengejar jadwal penerbangan, banyak turis domestik dan asing terpaksa turun dari mobil dan berjalan kaki di dalam tol sambil menyeret koper mereka.
Selain Canggu dan bandara, titik-titik yang kini menjadi zona merah kemacetan antara lain Ubud, Bedugul, dan kawasan Tanah Lot.
5. Copet dan Biaya Hidup yang Kian Mahal
Semakin ramai suatu destinasi, semakin tinggi pula potensi kriminalitasnya. Kasus pencopetan barang elektronik dan dompet kini marak terjadi di Bali-sebuah fenomena negatif yang sebenarnya juga dialami oleh kota besar dunia seperti Paris dengan Menara Eiffel-nya.
Selain copet, modus penipuan berkedok akomodasi murah palsu secara daring atau layanan guide bodong yang menelantarkan turis juga mulai sering dilaporkan. Ditambah dengan situasi ekonomi global, biaya hidup dan tarif liburan di Bali kini terasa jauh lebih menguras kantong.
- Fenomena Sesal di Bali
- Alasan Bali Sepi Peminat
Redaktur: Fitrya A Kusumah
Penulis: Fitrya A Kusumah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.