Menjaga Kredibilitas Kebijakan Sektor Keuangan Harus Diiringi Percepatan Reformasi Struktural

Rabu, 17 Jun 2026, 09:13 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M Rizal Taufikurahman mengatakan upaya menjaga kredibilitas kebijakan sektor keuangan harus diiringi dengan percepatan reformasi struktural, peningkatan investasi, penguatan sektor industri, serta perbaikan daya beli masyarakat.

“Hal itu dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi nasional.Penguatan pasar keuangan yang berkelanjutan hanya dapat tercapai apabila didukung oleh fundamental ekonomi yang semakin kuat dan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia,” kata Rizal, Selasa (16/6).

Ket. Foto: Pasaar modal Indonesia — Sumber: istimewa

Pemulihan IHSG dan kurs rupiah tidak hanya bergantung pada sentimen pasar, tapi juga sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah menjaga stabilitas makroekonomi, memperkuat investasi, meningkatkan produktivitas, dan membangun kredibilitas kebijakan.

Sementara itu, Senior Portfolio Manager Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Caroline Rusli menilai investor asing belum kembali masuk secara agresif ke pasar saham Indonesia meski valuasinya saat ini tergolong menarik.

Menurut Caroline, harga saham yang murah belum cukup untuk mendorong arus masuk modal asing karena kepercayaan investor terhadap arah kebijakan dan visibilitas katalis jangka pendek masih belum kondusif.

“Indonesia saat ini berada pada fase selective value. Strategi defensif dan identifikasi saham maupun sektor pilihan melalui pendekatan bottom-up menjadi sangat krusial,” kata Caroline.

Kondisi pasar saat ini jelasnya memperlihatkan perbedaan yang semakin jelas mengenai kawasan, mata uang, dan kelas aset yang relatif lebih tahan terhadap gejolak global.

“Ketika likuiditas global tidak seakomodatif sebelumnya, pasar saham yang dapat unggul adalah pasar yang memiliki potensi pertumbuhan struktural dan laba korporasi yang lebih kokoh bertahan, seperti misalnya Asia Utara,” katanya seperti dikutip dari Antara.

Caroline menilai kawasan Asia Utara masih memiliki daya tarik lebih besar dibandingkan pasar berkembang lainnya karena diuntungkan dengan memiliki keterkaitan langsung dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI), industri semikonduktor, serta belanja modal teknologi global yang terus meningkat.

Selain itu, belanja modal perusahaan hyperscaler atau penyedia infrastruktur digital berskala besar seperti Amazon, Google, Meta, dan Microsoft juga terus mengalami revisi naik.

Peningkatan investasi perusahaan teknologi global tersebut diperkirakan lebih dahulu memberikan dampak positif kepada rantai pasok di Asia, terutama sektor semikonduktor, komponen elektronik, material canggih, dan infrastruktur pendukung energi. Dia pun menilai kekuatan pasar Asia tidak hanya ditopang oleh faktor valuasi yang relatif murah, tetapi juga oleh prospek pertumbuhan laba yang memiliki katalis struktural yang kuat.

Sementara itu, pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, menyatakan tantangan terbesar saat ini adalah menjaga kepercayaan investor di tengah alokasi anggaran yang besar untuk program prioritas.

“Alokasi anggaran APBN sebagian besar digunakan untuk program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Program itu kini jadi sorotan karena kasus korupsi. Kasus tersebut berpotensi menggerus kepercayaan pelaku pasar dan investor terhadap tata kelola anggaran pemerintah.

“Tentu hal ini mengakibatkan distrust para penanam modal di Indonesia. Ditambah pernyataan-pernyataan yang blunder dari Pemerintah sehingga kredibilitas pemerintah dipertanyakan dalam mengeluarkan kebijakan,” kata Esther.

Ke depan, Pemerintah harus menerapkan disiplin fiskal yang ketat. Setiap rupiah yang dikeluarkan dari APBN harus memiliki dampak nyata bagi masyarakat sebagai pembayar pajak.

Kepercayaan pasar tambahnya tidak hanya dibangun dari data ekonomi makro yang positif, tetapi juga dari konsistensi komunikasi kebijakan dan transparansi pengelolaan anggaran. Tanpa itu, sentimen positif terhadap rupiah dan IHSG sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Rebound Jangka Pendek

Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendi Manilet mengatakan penguatan nilai tukar rupiah dan IHSG beberapa hari terakhir belum mencerminkan perbaikan fundamental ekonomi secara signifikan. Pergerakan tersebut lebih tepat dibaca sebagai pemulihan dari kondisi yang sebelumnya sangat tertekan.

Setelah rupiah sempat menyentuh level terlemah dan arus keluar modal asing membesar, kenaikan nilai tukar dan pasar saham memang memberi sinyal positif. Namun sifatnya masih berupa rebound jangka pendek, bukan penguatan struktural.

“Penguatan rupiah dan IHSG saat ini lebih tepat dibaca sebagai pemulihan dari kondisi yang sebelumnya sangat tertekan, bukan sebagai tanda bahwa fundamental ekonomi sudah membaik secara signifikan,” katanya.

Pendorong utama penguatan pasar saat ini bukan faktor jangka panjang seperti reformasi struktural atau kepastian regulasi, melainkan kombinasi kebijakan moneter dan sentimen global.

Keberlanjutan paparnya bergantung pada perbaikan fundamental ekonomi, kredibilitas kebijakan fiskal, dan kemampuan mengurangi kerentanan struktural yang selama ini menekan rupiah,” tegasnya.

Tanpa perbaikan di sektor riil dan penguatan kepercayaan investor terhadap arah kebijakan, penguatan yang terjadi saat ini rentan berbalik arah jika sentimen global kembali berubah.ers/E-9

  • dampak ekonomi

Redaktur: Diapari S

Penulis: Diapari S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.