dr Tirta Soroti Dampak Kenaikan BBM, Beri 3 Solusi Untuk Dipraktikkan

Doc: X/@folkative

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Dokter sekaligus pegiat media sosial, dr Tirta, memberikan tanggapannya terkait isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berpotensi memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat.

Melalui unggahan terbarunya di media sosial, ia menyoroti bahwa dampak kenaikan BBM tidak berhenti pada biaya transportasi semata, melainkan dapat memicu efek berantai terhadap berbagai sektor kehidupan sehari-hari.

Dalam unggahan di laman X, dr Tirta menuliskan bahwa persoalan keuangan pada dasarnya memiliki tiga solusi utama yang sering diajarkan dalam teori ekonomi maupun manajemen keuangan.

Solusi keuangan kan tiga kalau diajari dosen:

1. Tambah revenue (income), kalau ga iso
2. Potong pengeluaran (expenses) sampai mentok, kalau masih ga bisa
3. Ajukan pinjaman (bisa jangka pendek/jangka panjang)."

Menurutnya, ketika harga bensin mengalami kenaikan, langkah tersebut secara sederhana dapat dipahami sebagai upaya menambah pemasukan negara.

Namun, konsekuensi berikutnya adalah masyarakat harus bersiap menghadapi dampak lanjutan yang mungkin terjadi pada pengeluaran rumah tangga.

Bapak dua anak ini pun kemudian mengingatkan bahwa kenaikan BBM biasanya menjadi pemicu naiknya harga berbagai kebutuhan lain.

Biaya distribusi barang meningkat, ongkos transportasi bertambah, dan pada akhirnya harga produk maupun jasa ikut mengalami penyesuaian.

"Kenaikan bensin itu baru langkah awal, yang akan memberikan efek domino ke naiknya harga-harga yang lain. Yang tercekik itu yang finansialnya dan gajinya terbatas," tulisnya.

Pernyataan tersebut menyoroti kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap gejolak harga, yakni mereka yang memiliki pendapatan tetap dan ruang keuangan yang sempit.

Rekomendasi juga buat kamu:

Ketika harga kebutuhan pokok naik sementara penghasilan tidak berubah, daya beli masyarakat berpotensi menurun.

Sebagai bentuk antisipasi, dr Tirta menilai langkah berikut yang realistis bagi banyak orang adalah melakukan efisiensi pengeluaran.

Ia menyebut bahwa setelah kenaikan pendapatan sulit dilakukan dalam waktu singkat, maka pengurangan biaya yang tidak terlalu penting menjadi pilihan yang dapat dipertimbangkan.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, masyarakat dapat mulai mengevaluasi pengeluaran rutin seperti biaya hiburan, langganan yang jarang digunakan, hingga pola konsumsi yang kurang efisien.

Selain itu, penggunaan kendaraan secara lebih hemat, berbagi kendaraan untuk perjalanan tertentu, atau memanfaatkan transportasi umum juga bisa menjadi alternatif untuk mengurangi dampak kenaikan biaya bahan bakar.

Meski demikian, dr Tirta menegaskan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama untuk melakukan penghematan.

Bagi keluarga dengan penghasilan pas-pasan, ruang untuk memangkas pengeluaran sering kali sudah sangat terbatas.

Karena itu, ia mengingatkan bahwa efek kenaikan BBM perlu dipahami bukan hanya dari sisi harga bensin, tetapi juga dari dampaknya terhadap keseluruhan biaya hidup masyarakat.

Pandangan dr Tirta tersebut menjadi pengingat bahwa kenaikan BBM bukan sekadar perubahan angka di pom bensin.

Dampaknya dapat merembet ke berbagai aspek ekonomi rumah tangga, sehingga masyarakat perlu lebih cermat mengelola keuangan dan mempersiapkan strategi menghadapi kemungkinan kenaikan harga kebutuhan lainnya.*

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN