Lulur Keraton hingga Boreh, Ritual Perawatan Diri yang Kerap Dilakukan pada Malam Satu Suro
Kamis, 04 Jun 2026, 18:15 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Malam Satu Suro tidak hanya dikenal sebagai momen spiritual dalam tradisi Jawa, tetapi juga menjadi waktu yang sering dimanfaatkan untuk melakukan berbagai ritual perawatan diri.
Berbeda dengan konsep kecantikan modern yang banyak berfokus pada penampilan luar, tradisi kecantikan pada malam Satu Suro berangkat dari keyakinan bahwa pesona sejati berasal dari keseimbangan antara kesehatan fisik, ketenangan batin, dan energi positif yang terpancar dari dalam diri.
Selain ritual mandi kembang yang cukup populer, terdapat sejumlah praktik perawatan tradisional lain yang masih dilakukan sebagian masyarakat hingga saat ini.
Beberapa di antaranya adalah penggunaan lulur tradisional berbahan rempah-rempah, mandi susu, boreh, hingga menjalani puasa mutih sebagai bentuk penyucian diri.
Lulur Keraton
Salah satu ritual yang paling dikenal adalah lulur keraton. Perawatan ini menggunakan campuran bahan alami seperti kunyit, temu giring, beras kencur, dan berbagai rempah pilihan lainnya.
Tradisi luluran telah lama menjadi bagian dari budaya perawatan tubuh di lingkungan keraton Jawa dan diwariskan secara turun-temurun.
Kunyit dikenal mengandung senyawa alami yang dipercaya membantu menjaga kesehatan kulit dan memberikan tampilan lebih cerah.
Sementara itu, temu giring sering digunakan dalam ramuan kecantikan tradisional karena diyakini mampu membantu menghaluskan kulit dan menyamarkan warna kulit yang tidak merata.
Beras kencur juga menjadi bahan favorit karena memberikan efek lembut pada kulit sekaligus menghasilkan aroma khas yang menenangkan.
Lulur diaplikasikan ke seluruh tubuh sambil dipijat perlahan untuk membantu mengangkat sel kulit mati.
Setelah mengering, lulur kemudian digosok hingga terlepas dari permukaan kulit sebelum dibilas menggunakan air bersih.Â
Banyak orang meyakini ritual ini dapat membuat kulit terasa lebih halus, segar, dan tampak bercahaya.
Boreh
Selain lulur keraton, terdapat pula tradisi boreh, yakni baluran tubuh yang berasal dari ramuan rempah-rempah hangat.
Boreh biasanya dibuat dari campuran jahe, kunyit, cengkeh, kayu manis, dan bahan herbal lainnya yang ditumbuk halus.
Ramuan ini dioleskan ke tubuh untuk memberikan sensasi hangat dan membantu tubuh merasa lebih rileks.
Mandi Susu
Tak sedikit pula yang memilih melakukan mandi susu pada malam Satu Suro. Tradisi ini dipercaya dapat membantu melembapkan kulit sekaligus menjadi simbol penyucian diri.
Aroma lembut dari campuran susu dan bunga sering kali memberikan efek relaksasi yang membuat tubuh dan pikiran terasa lebih nyaman.
Puasa Mutih
Di sisi lain, beberapa orang menjalani puasa mutih, yaitu berpuasa dengan mengonsumsi makanan sederhana seperti nasi putih dan air putih dalam jumlah terbatas.
Dalam tradisi Jawa, puasa mutih dimaknai sebagai upaya pengendalian diri sekaligus pembersihan batin dari berbagai energi negatif.
Pada akhirnya, berbagai ritual kecantikan malam Satu Suro bukan sekadar perawatan fisik semata.
Tradisi ini mencerminkan filosofi Jawa yang menempatkan kecantikan sebagai perpaduan harmonis antara tubuh yang terawat, pikiran yang tenang, serta hati yang bersih.Â
Dengan menjaga ketiganya secara seimbang, seseorang diyakini dapat memancarkan aura positif dan pesona alami yang lebih berkesan daripada kecantikan yang hanya tampak di permukaan.*
- Tradisi kecantikan malam satu Suro
Redaktur: Weti Aprianti
Penulis: Weti Aprianti
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.