Muncul Narasi Rupiah Sengaja Dilemahkan Demi Ekspor? Ferry Irwandi Tanggapi Begini!

Ket. Tanggapan Ferry Irwandi soal kondisi rupiah yang kini melemah

Doc: YouTube Ferry Irwandi

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Perbincangan mengenai nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar kembali ramai dibahas di media sosial.

Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap kondisi ekonomi, muncul pula berbagai narasi yang mencoba menjelaskan penyebab pelemahan tersebut.

Salah satu yang belakangan banyak dibicarakan adalah anggapan bahwa rupiah sengaja dilemahkan demi meningkatkan ekspor Indonesia.

Narasi tersebut memunculkan beragam respons. Ada yang menganggap strategi itu masuk akal karena barang ekspor Indonesia bisa menjadi lebih murah di pasar internasional.

Namun di sisi lain, tak sedikit yang mempertanyakan logika di balik klaim tersebut. Salah satu tanggapan yang cukup mencuri perhatian datang dari Ferry Irwandi.

Melalui pernyataannya, Ferry menyampaikan kritik terhadap anggapan bahwa pelemahan rupiah dilakukan secara sengaja demi mendongkrak ekspor.

Menurutnya, pemahaman ekonomi tidak bisa disederhanakan hanya pada logika bahwa mata uang yang lebih lemah otomatis menguntungkan negara.

Ferry bahkan menekankan pentingnya pendidikan dalam memahami isu ekonomi yang kompleks.

Dalam komentarnya, ia mengatakan, “Itulah mengapa lo perlu sekolah, dan kenapa lo perlu kuliah.”

Ia kemudian menjelaskan bahwa strategi pelemahan mata uang memang mungkin dilakukan dalam situasi tertentu. Namun, langkah tersebut umumnya dilakukan oleh negara yang memiliki karakter ekonomi berbeda dengan Indonesia.

Menurut Ferry, kebijakan semacam itu lebih mungkin diterapkan pada negara dengan mata uang yang terlalu kuat, riset dan pengembangan industri yang sudah matang, produk yang memiliki daya saing tinggi, serta pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh sektor ekspor.

Logikanya, negara dengan basis ekspor yang sangat besar dapat memperoleh keuntungan ketika mata uangnya sedikit melemah. Harga produk mereka di pasar internasional bisa menjadi lebih kompetitif, sehingga penjualan ke luar negeri berpotensi meningkat.

Namun Ferry menilai konteks Indonesia berbeda. Ia mempertanyakan alasan melemahkan mata uang yang sejak awal sudah berada dalam posisi tidak terlalu kuat.

“Kalau misalkan mata uangnya udah lemah, ngapain dilemahin lagi?” ujarnya.

Menurut pandangannya, Indonesia belum sepenuhnya memiliki struktur ekonomi yang didominasi ekspor. Produk nasional juga dinilai belum menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi.

Ferry menilai konsumsi domestik masih memegang peran besar dalam menggerakkan Produk Domestik Bruto atau GDP Indonesia.

Karena itu, ia menganggap narasi rupiah sengaja dilemahkan demi ekspor menjadi kurang relevan jika melihat kondisi ekonomi nasional saat ini.

Pernyataannya menyoroti bahwa kebijakan ekonomi tidak bisa dipisahkan dari struktur industri, daya saing produk, hingga sumber pertumbuhan suatu negara.

Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, pendapat Ferry juga mengingatkan pentingnya memahami isu ekonomi secara utuh.

Sebab, persoalan nilai tukar mata uang tidak sesederhana hubungan antara rupiah, dolar, dan ekspor semata. Ada banyak faktor yang saling berkaitan, mulai dari kondisi global, kebijakan moneter, hingga kekuatan fundamental ekonomi sebuah negara.*

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN