Apa Itu Lipstick Effect? Fenomena 'Kemewahan Kecil' di Tengah Ekonomi Sulit
JAKARTA, KUCANTIK.COM - Sebuah cuitan viral di media sosial belakangan ini menarik perhatian banyak orang. Unggahan tersebut menyoroti kondisi pusat perbelanjaan dan kedai kopi yang tetap ramai meski kondisi ekonomi disebut sedang sulit.
Fenomena ini memicu rasa penasaran karena terlihat bertolak belakang dengan kondisi ekonomi yang sedang dibicarakan. Banyak orang mulai bertanya-tanya mengapa konsumsi di sektor tertentu justru tetap tinggi.
“Kalian ngerasa enggak sih, mall masih rame, antrian kopi masih panjang, restoran masih penuh. Padahal rupiah lagi di titik terlemah sepanjang sejarah dan ekonomi lagi susah,” tulis akun X TwipsX, dilansir pada Selasa, 19 Mei 2026.
Dalam cuitan tersebut, kondisi ini disebut sebagai “lipstick effect”. Istilah ini kemudian ramai diperbincangkan dan dianggap sebagai salah satu sinyal penting dalam melihat perilaku konsumen.
Lipstick effect sendiri bukanlah fenomena baru, melainkan konsep dalam ekonomi yang sudah lama dikenal. Namun, kemunculannya kembali di tengah situasi saat ini membuat banyak orang ingin memahami maknanya lebih dalam.
Apa itu lipstick effect dan mengapa mal serta kedai kopi tetap ramai saat ekonomi sulit? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini untuk memahami fenomena yang sedang ramai dibahas ini.
Apa Itu Lipstick Effect?
Konsep lipstick effect pertama kali populer setelah dikemukakan oleh The Estée Lauder Companies saat resesi Amerika sekitar tahun 2001.
Kala itu, mantan Chairman Estée Lauder, Leonard Lauder, menyebut penjualan lipstik justru meningkat ketika ekonomi melemah.
Hal ini terjadi karena masyarakat cenderung mencari “kemewahan kecil” yang masih terjangkau saat kondisi ekonomi sedang sulit.
Rekomendasi juga buat kamu:
Melansir Investopedia, lipstick effect termasuk salah satu bentuk psychological spending atau pengeluaran psikologis untuk menjaga kenyamanan emosional.
Konsumen cenderung tetap mengalokasikan uang untuk pengalaman atau barang yang memberi rasa bahagia, meski harus lebih hemat di sektor lain, yang kerap disebut sebagai “healing kecil”.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada produk kosmetik, tetapi juga meluas ke industri makanan dan minuman.
Kedai kopi, dessert, pusat perbelanjaan, hingga restoran cepat saji sering tetap ramai karena dianggap sebagai hiburan sederhana yang masih terjangkau dibanding pengeluaran besar lainnya.
Di Indonesia, tren lipstick effect juga terlihat dari meningkatnya minat masyarakat terhadap produk lokal seperti skincare, parfum, dan minuman kopi kekinian.
Meski terlihat sederhana, lipstick effect menunjukkan bahwa keputusan belanja tidak selalu dipengaruhi kebutuhan dasar semata. Faktor emosional dan keinginan mencari kenyamanan juga menjadi alasan mengapa mal, kedai kopi, dan gerai kecantikan tetap ramai meski ekonomi sedang melambat.
Komentar (0)
Belum ada komentar untuk Apa Itu Lipstick Effect? Fenomena 'Kemewahan Kecil' di Tengah Ekonomi Sulit .
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!