Rekor CBP Harus Cerminkan Stabilitas, Peningkatan Kesejahteraan Petani, dan Kelestarian Lingkungan

Selasa, 12 Mei 2026, 09:52 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa mengatakan peningkatan cadangan beras mestinya merefleksikan tiga hal sekaligus, yaitu stabilitas harga yang mendukung daya beli masyarakat, peningkatan kesejahteraan petani, serta kelestarian lingkungan. 

Menurut Awan, target produksi dan serapan beras besar-besaran tidak boleh mengorbankan lingkungan. Praktik pertanian intensif yang mengejar volume berisiko mempercepat degradasi lahan, pencemaran air akibat pupuk kimia berlebih, dan penurunan keanekaragaman hayati.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

“Kalau stok naik tapi sawah makin rusak, penggunaan air tanah makin boros, dan petani bergantung pada input kimia, itu bukan kedaulatan pangan yang berkelanjutan,” kata Awan, Senin (11/5).

Pemerintah khususnya Kementerian Pertanian diminta tidak terlalu berlebihan mengklaim lonjakan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) hingga 5,23 juta ton sebagai prestasi yang membanggakan. Sebab lonjakan stok tidak hanya dinilai dari sisi ketahanan pangan semata, tetapi harus dilihat dampaknya pada stabilitas harga, kesejahteraan petani, dan kelestarian lingkungan.

CBP 5,23 juta ton harus jadi momentum mendorong pertanian yang ramah lingkungan. Misalnya, penguatan praktik agroekologi, rotasi tanaman, pengurangan pupuk sintetis, dan perlindungan lahan sawah abadi.

Awan menilai, tiga pilar itu harus berjalan bersama. Stabilitas harga menjaga daya beli masyarakat. Harga gabah yang baik meningkatkan kesejahteraan petani. Sementara pola tanam berkelanjutan menjaga daya dukung lahan untuk produksi jangka panjang.

“Jangan sampai kita bangga dengan gudang penuh, tapi 10 tahun lagi sawah tidak produktif karena tanahnya jenuh dan sumber air habis,” tegasnya.

Dia berharap pemerintah mengintegrasikan indikator lingkungan dalam kebijakan pangan. Dengan begitu, rekor CBP 5,23 juta ton benar-benar jadi capaian yang adil bagi petani, konsumen, dan alam.

Pengurus Serikat Petani Indonesia (SPI), Muhammad Qomarun Najmi mengaku upaya pemerintah menyerap hasil panen petani dengan harga baik dinilai sudah terlihat. Kestabilan harga di tingkat petani dan konsumen jadi penanda kehadiran negara di sektor pangan.

“Upaya pemerintah untuk menyerap hasil panen dari petani memang cukup kelihatan, dengan harga yang baik juga,” kata Qomar.

Dia berharap serapan dengan harga menguntungkan petani itu bisa berlanjut. “Semoga bisa dilanjutkan di waktu-waktu yang akan datang, dengan harga yang lebih baik untuk petani,” katanya.

Qomar juga menilai kestabilan harga di dua sisi, petani dan konsumen, penting dijaga. “Kestabilan harga baik di petani dan juga konsumen, memang bisa jadi penanda kehadiran negara,” pungkasnya.

Belum Jamin Stabilitas

Diminta terpisah, Akademisi Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi Universitas Warmadewa (Unwar) Denpasar, Bali, I Nengah Muliarta, menilai lonjakan CBP belum menjamin stabilitas harga pangan. Ujian sesungguhnya bukan pada banyaknya beras di gudang, melainkan pada kemampuan rantai pasok menggerakkan stok hingga ke konsumen dengan harga terjangkau.

“Melihat lonjakan stok beras hingga mencapai 5,23 juta ton memang memberikan angin segar bagi ketahanan pangan nasional, namun secara akademis kita harus melihat melampaui sekadar angka akumulasi di gudang,” kata Muliarta.

Ia menilai, keberhasilan menumpuk cadangan hingga dua kali lipat dibanding dua tahun lalu adalah prestasi kuantitatif yang luar biasa. Namun, ujian sesungguhnya bagi pemerintah bukan pada seberapa banyak beras disimpan, melainkan pada kekuatan rantai pasok.

“Tanpa integritas distribusi yang kuat, stok 5 juta ton tersebut hanyalah angka di atas kertas yang gagal meredam fluktuasi harga di pasar-pasar tradisional,” tegas Muliarta.

Sementara itu, Anggota DPD DIY Pemuda Tani Indonesia, Pranasik Siahaan, menilai peningkatan stok beras nasional menjadi capaian positif yang menunjukkan kemampuan negara menjaga ketahanan pangan nasional. Setidaknya, cadangan beras yang kini mencapai lebih dari 5 juta ton memberi rasa aman, terutama di tengah tantangan cuaca dan dinamika pangan global yang masih terjadi.

Keberadaan stok yang kuat penting agar pemerintah memiliki ruang intervensi ketika terjadi gejolak harga maupun gangguan distribusi di daerah. Menurutnya, ketahanan pangan bukan hanya soal jumlah produksi, tetapi juga memastikan masyarakat tetap bisa memperoleh bahan pangan dengan harga yang stabil dan terjangkau.

Petani jelasnya membutuhkan ekosistem yang membuat sektor pangan tetap menarik dan berkelanjutan secara ekonomi. Karena itu, keberadaan cadangan beras nasional sebaiknya juga diiringi penguatan penyerapan hasil panen petani agar produksi dalam negeri terus terjaga.ers/YK/E-9

  • ketahanan pangan masyarakat

Redaktur: Diapari S

Penulis: Diapari S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.