Koleksi Chanel Cruise 2027 Dihujat, Karya Matthieu Blazy Disebut Bukan Chanel Lagi!

Ket. Koleksi Chanel Cruise 2027.

Doc: Vogue

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Musim Cruise 2027 resmi bergulir, dan Chanel langsung mencuri perhatian lewat presentasi spektakuler di Le Casino Municipal, lokasi yang sarat sejarah, hanya beberapa langkah dari tempat Coco Chanel memulai rumah couture pertamanya pada 1915.

Alih-alih menuai pujian mutlak, koleksi terbaru Chanel Cruise 2027 ini justru memicu perdebatan panas di kalangan pecinta mode.

Di bawah arahan Matthieu Blazy, Chanel Cruise 2027 tampil dengan konsep yang puitis sekaligus ambisius. 

Terinspirasi dari kehidupan laut, ombak, terumbu karang, hingga kebebasan bergerak di antara kota dan pantai, Matthieu Blazy menghadirkan koleksi yang dirancang untuk perempuan aktif. 

“Wanita yang berjalan, berlari, bahkan berenang tanpa batas antara kenyamanan dan kemewahan,” begitu visi Matthieu Blazy.

Acara ini turut dihadiri nama-nama besar seperti Nicole Kidman, Tilda Swinton, hingga ASAP Rocky. 

Sementara di runway, model seperti Alex Consani dan Natasha Poly membawakan deretan busana yang memadukan tekstur rafia, siluet longgar, serta detail logo besar yang mencolok.

Namun, di balik kemegahan presentasi, forum komunitas mode justru dipenuhi komentar pedas. Banyak yang menilai koleksi ini terlalu kental dengan DNA lama Matthieu Blazy saat masih berkarya di Bottega Veneta. 

Beberapa bahkan secara blak-blakan menyebutnya sebagai “Bottega dengan logo Chanel yang ditempel paksa.”

Kritik lain menyoroti kurangnya kohesi dalam koleksi. Rok maxi berumbai yang kembali muncul dianggap repetitif dan kehilangan daya tarik. Ada juga yang menilai styling keseluruhan terasa lemah, sehingga ide besar Matthieu Blazy tidak tersampaikan secara maksimal di atas runway.

Komentar tajam seperti “jelek luar biasa” hingga “tidak punya range untuk Chanel” membanjiri diskusi. Bahkan material rafia yang menjadi salah satu elemen utama koleksi ini ikut disorot negatif, dianggap mengganggu estetika dan terlalu dipaksakan.

Meski begitu, tidak semua suara bernada sinis. Sejumlah pengamat justru melihat koleksi ini sebagai langkah berani yang layak diapresiasi. 

Detail logo “CC” berukuran besar, misalnya, dinilai sebagai penghormatan terhadap arsip desain Coco Chanel yang pernah melakukan pendekatan serupa di masa lalu.

Beberapa juga mengakui di balik styling yang diperdebatkan, terdapat potongan busana yang sangat wearable dan berpotensi menjadi incaran pasar. Dengan kata lain, koleksi ini mungkin bukan yang paling rapi, tetapi tetap menyimpan daya tarik komersial yang kuat.

Perdebatan ini justru menegaskan Chanel di era Matthieu Blazy sedang berada di persimpangan. Apakah ia akan terus bereksperimen dengan identitas baru, atau kembali ke akar klasik yang sudah terbukti sukses?

Yang jelas, Chanel Cruise 2027 bukan sekadar koleksi, melainkan medan pertempuran opini. Di dunia mode, terkadang kontroversi adalah bentuk perhatian paling mahal.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN