7 Takhayul Makanan di Asia yang Nggak Masuk Akal Tapi Masih Dipercaya
Kamis, 23 Apr 2026, 19:15 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Kuliner Asia memang dikenal kaya rasa dan teknik memasak yang mendunia. Namun di balik kelezatannya, tersimpan pula sisi lain yang tak kalah menarik: kepercayaan turun-temurun yang masih melekat hingga sekarang. Bagi sebagian masyarakat, makanan bukan sekadar santapan, tapi juga sarat makna, bahkan dipercaya bisa membawa nasib baik atau sebaliknya.
Mulai dari cara makan mi, memilih buah, hingga ritual sebelum ujian, berikut tujuh takhayul soal makanan di Asia yang masih hidup hingga kini:
1. Pir dan Gurita di Jepang: Antara Pertanda Buruk dan Harapan
Di Jepang, memberikan buah pir bukanlah pilihan yang bijak, terutama untuk orang sakit atau pasangan. Alasannya, kata ânashiâ (pir) terdengar sama dengan kata yang bermakna âketiadaanâ atau âkehilanganâ, sehingga dianggap membawa kesialan.
Sebaliknya, ada kebiasaan unik di kalangan pelajar, makan gurita sebelum ujian. Kata âtakoâ diasosiasikan dengan makna âmenempelâ, sebagai simbol harapan agar ilmu yang dipelajari bisa melekat kuat di ingatan.
2. Mi Panjang dan Etika Sumpit di Tiongkok
Di Tiongkok, mi panjang melambangkan umur panjang. Karena itu, memotong mi saat makan, terutama di momen penting seperti ulang tahun, dianggap sebagai pertanda buruk.
Selain itu, menancapkan sumpit secara tegak di dalam nasi juga dihindari karena menyerupai dupa dalam ritual kematian, sehingga dinilai tidak sopan dan membawa aura negatif.
3. Lemon dan Cabai di India: Penangkal Energi Negatif
Kombinasi tujuh cabai hijau dan satu lemon yang digantung di pintu rumah atau kendaraan di India bukan sekadar dekorasi. Benda ini dipercaya mampu menangkal âmata jahatâ atau energi negatif dari orang lain.
Konon, rasa asam dan pedas dari benda tersebut akan âmengalihkanâ energi buruk agar tidak masuk ke dalam rumah.
4. Kue Lengket vs Makanan Licin di Korea Selatan
Menjelang ujian, siswa di Korea Selatan kerap mengonsumsi kue ketan yang lengket. Filosofinya sederhana, ilmu diharapkan ikut âmenempelâ di otak.
Sebaliknya, makanan bertekstur licin seperti sup rumput laut justru dihindari karena dianggap bisa membuat pengetahuan mudah âtergelincirâ dan hilang.
5. Nasi sebagai Simbol Kehidupan di Filipina
Di Filipina, nasi bukan sekadar makanan pokok, tapi simbol kehidupan. Menyisakan atau membuang nasi dianggap sebagai bentuk ketidakhormatan terhadap kerja keras petani.
Bahkan, ada kepercayaan bahwa kebiasaan tersebut bisa membawa kesulitan hidup atau berdampak pada hubungan asmara di masa depan.
6. Air Kelapa di Thailand: Minuman Pembawa Hoki
Air kelapa manis di Thailand sering dikonsumsi sebelum ujian atau wawancara kerja. Minuman ini dipercaya dapat menjernihkan pikiran dan membawa ketenangan.
Selain itu, air kelapa juga kerap digunakan dalam ritual spiritual sebagai simbol kemurnian dan penyucian diri.
7. Nanas untuk Ibu Hamil di Indonesia
Di Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara, nanas, terutama yang masih muda, sering dihindari oleh ibu hamil. Buah ini dipercaya bisa memicu keguguran atau kelahiran prematur.
Meski dikaitkan dengan kandungan enzim bromelain, hingga kini belum ada bukti ilmiah kuat yang menyatakan konsumsi normal nanas berbahaya bagi kehamilan.
Di era modern, sebagian takhayul ini mungkin terdengar tidak masuk akal. Namun bagi banyak masyarakat Asia, kepercayaan tersebut tetap dijaga sebagai bagian dari tradisi dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
- takhayul makanan di Asia yang masih dipercaya
- takhayul makanan
Redaktur: Afifa Khoirunnisa
Penulis: Afifa Khoirunnisa
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.