RM BTS Diisukan Merokok di Area Non Smoking di Jepang, Terancam Cancel Culture?

Doc: Allkpop

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Laporan terbaru dari media Jepang Shukan Bunshun memicu perhatian publik internasional setelah menyebut bahwa Kim Nam-joon, leader dari grup global BTS, diduga melanggar aturan merokok saat berada di Shibuya, salah satu distrik tersibuk di Tokyo.

Kabar ini dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial dan memicu perdebatan di kalangan penggemar maupun publik luas.

Melansir dari laman Allkpop, RM disebut terlihat mengunjungi beberapa tempat hiburan seperti bar dan pub bergaya izakaya. Namun, yang menjadi sorotan utama bukanlah aktivitas hiburannya, melainkan dugaan bahwa ia merokok di area yang jelas-jelas bertanda larangan merokok.

Tidak hanya di ruang terbuka seperti jalanan tertentu di Shibuya yang memiliki regulasi ketat, tetapi juga di area dalam ruangan seperti koridor gedung yang secara hukum dilarang digunakan untuk aktivitas tersebut.

Jepang, khususnya Tokyo, dikenal memiliki aturan yang cukup ketat terkait merokok di ruang publik. Banyak area jalan yang secara spesifik ditandai sebagai non-smoking zone, dan pelanggaran terhadap aturan ini dapat dikenai sanksi tertentu.

Oleh karena itu, tuduhan dalam laporan ini menjadi sensitif, terlebih karena melibatkan figur publik berskala internasional.

Lebih lanjut, laporan tersebut juga mengutip pernyataan saksi yang mengaku melihat langsung kejadian tersebut. Disebutkan bahwa petugas keamanan setempat sempat memberikan peringatan kepada RM terkait perilakunya.

Selain itu, publikasi tersebut menyertakan beberapa foto yang diklaim sebagai bukti pendukung, meskipun keaslian dan konteks gambar tersebut belum diverifikasi secara independen oleh pihak lain.

Hingga saat ini, baik RM maupun agensinya, HYBE, belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan tersebut. Ketiadaan klarifikasi ini membuat spekulasi terus berkembang, sementara sebagian penggemar memilih menunggu pernyataan resmi sebelum menarik kesimpulan.

Kasus ini sekali lagi menunjukkan bagaimana aktivitas pribadi seorang selebritas dapat dengan cepat menjadi konsumsi publik global. Di era digital, batas antara ruang pribadi dan sorotan publik semakin tipis, terutama bagi figur sebesar RM yang memiliki basis penggemar internasional.

Di sisi lain, penting juga untuk melihat isu ini secara proporsional. Tanpa konfirmasi resmi, laporan semacam ini tetap berada dalam ranah dugaan. Publik diharapkan dapat menyikapi informasi dengan bijak, sembari menunggu klarifikasi dari pihak terkait agar tidak terjadi kesalahpahaman yang lebih luas.*

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN