Balas Dendam Jadi Cuan, Kisah Pecah Restoran Ayam Goreng Suharti Usai Perselingkuhan Suami

Kamis, 16 Apr 2026, 06:00 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Bagi para pecinta kuliner Nusantara, Ayam Goreng Suharti tentu sudah melekat kuat di ingatan. Namun, di balik kelezatan ayam goreng yang legendaris, tersimpan kisah dramatis yang tak banyak diketahui publik, kisah tentang cinta, pengkhianatan, hingga balas dendam yang berujung pada kesuksesan.

Fenomena dua logo berbeda dengan nama yang sama kerap membuat pelanggan bertanya-tanya. Sebagian mengira itu adalah pemalsuan merek, padahal kenyataannya jauh lebih rumit. Perbedaan tersebut justru lahir dari konflik rumah tangga antara pendiri usaha ini sendiri.

Usaha ayam goreng ini dirintis sejak 1962 oleh Ibu Suharti bersama sang suami, Sachlan. Berbekal resep turun-temurun yang berasal dari Mbok Berek, keduanya membangun bisnis dari nol hingga berkembang menjadi salah satu ikon kuliner Indonesia. Cita rasa khas dan konsistensi kualitas membuat usaha ini cepat dikenal luas.

Namun, di balik kesuksesan tersebut, badai rumah tangga mulai mengguncang. Perselingkuhan yang terjadi dalam hubungan mereka menjadi pemicu utama perpisahan. Konflik ini tidak hanya mengakhiri pernikahan, tetapi juga memecah bisnis yang telah mereka bangun bersama.

Dalam prosesnya, hak atas merek awal disebut jatuh ke tangan sang suami, yang kemudian melanjutkan usaha dengan logo bergambar dua ekor ayam. Sementara itu, Ibu Suharti tidak tinggal diam. Ia bangkit dan membangun kembali bisnisnya dari awal, menciptakan identitas baru dengan logo bergambar dirinya sendiri, sebuah langkah yang dianggap sebagai simbol kemandirian sekaligus “balas dendam” elegan.

Menariknya, meski berasal dari resep dasar yang sama, kedua versi ayam goreng ini memiliki karakteristik yang cukup berbeda. Versi Ibu Suharti dikenal dengan potongan ayam yang lebih besar, warna yang lebih pucat, serta tekstur renyah yang bertahan lama. Rasanya pun cenderung lebih lembut di lidah.

Sebaliknya, versi yang dijalankan Sachlan menawarkan ayam dengan ukuran lebih kecil namun berwarna lebih cokelat pekat, dengan bumbu yang terasa lebih meresap. Perbedaan juga terasa pada sambalnya, versi Sachlan cenderung lebih manis, sementara milik Ibu Suharti memiliki cita rasa pedas yang lebih kuat.

Dari segi harga, keduanya juga memiliki selisih yang cukup terasa, meski tidak terlalu jauh. Namun, hal ini justru semakin menegaskan kedua usaha tersebut berkembang dengan identitas dan strategi masing-masing.

Hingga kini, dua versi Ayam Goreng Suharti tetap eksis berdampingan. Kisah di baliknya menjadi bukti dari konflik dan luka pribadi, bisa lahir dua kekuatan bisnis besar yang sama-sama bertahan dan dicintai pelanggan.

  • Ayam Goreng Suharti
  • kisah perceraian pemilik ayam goreng suharti

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.