Jerawat Nggak Hilang-Hilang? Ternyata 6 Hormon Ini Jadi Biang Keroknya!

Ket. Ilustrasi Kulit Berjerawat

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Jerawat terkadang tetap muncul meskipun rutinitas skincare sudah dilakukan dengan maksimal. Banyak orang mengira penyebabnya hanya karena kotoran atau ketidakcocokan produk, padahal faktor hormon juga memiliki peran besar dalam timbulnya jerawat.

Perubahan kondisi kulit, seperti munculnya jerawat secara tiba-tiba, berkaitan erat dengan aktivitas hormon dalam tubuh. Ketika kadar hormon tertentu meningkat, produksi minyak di kulit ikut bertambah. Hal ini membuat pori-pori lebih mudah tersumbat dan akhirnya memicu jerawat.

Menariknya, hormon penyebab jerawat tidak hanya aktif saat masa remaja. Orang dewasa pun kerap mengalaminya, terutama karena faktor seperti stres, siklus menstruasi, hingga gaya hidup yang kurang seimbang.

Dilansir dari Healthline, para ahli memiliki pandangan berbeda terkait jerawat hormonal. Mayo Clinic menyebut hormon bukan penyebab utama jerawat pada orang dewasa, namun ketidakseimbangan hormon tetap dapat memicu jerawat, terutama jika ada kondisi medis tertentu yang mendasarinya.

Berikut beberapa hormon yang berperan dalam munculnya jerawat:

  1. Androgen (Testosteron)
    Androgen merupakan hormon utama yang memicu jerawat karena dapat merangsang kelenjar minyak. Ketika kadarnya meningkat, produksi sebum menjadi berlebih, pori-pori mudah tersumbat, dan bakteri penyebab jerawat berkembang. Kondisi ini sering terjadi saat pubertas, menjelang menstruasi, atau pada kasus seperti PCOS.
  2. Estrogen
    Estrogen dikenal sebagai hormon penyeimbang yang membantu mengontrol produksi minyak. Saat kadarnya stabil, kulit cenderung lebih sehat. Namun, ketika estrogen menurun, kulit bisa menjadi lebih berminyak dan rentan berjerawat, seperti menjelang haid, setelah melahirkan, atau saat menopause.
  3. Progesteron
    Hormon ini meningkat setelah ovulasi. Dampaknya bisa menyebabkan pembengkakan ringan pada kulit dan penyempitan pori-pori, sehingga minyak terperangkap dan memicu jerawat, terutama menjelang menstruasi. Inilah yang sering disebut sebagai jerawat PMS.
  4. Kortisol
    Kortisol adalah hormon yang berkaitan dengan stres. Ketika stres meningkat, kadar kortisol juga naik, yang kemudian memicu produksi minyak berlebih dan memperparah peradangan kulit. Akibatnya, jerawat bisa menjadi lebih besar, merah, dan sulit sembuh.
  5. Insulin
    Insulin berkaitan erat dengan pola makan, khususnya konsumsi gula dan karbohidrat tinggi. Kadar insulin yang tinggi dapat merangsang produksi androgen, meningkatkan minyak, dan mempercepat regenerasi sel kulit. Oleh karena itu, konsumsi gula berlebih sering dikaitkan dengan munculnya jerawat.
  6. Tiroid
    Hormon tiroid berperan dalam mengatur metabolisme tubuh. Ketidakseimbangan hormon ini dapat membuat kulit menjadi terlalu kering atau justru sangat berminyak, yang pada akhirnya menciptakan kondisi yang memicu jerawat.

Cara Mengatasi Jerawat Hormonal

Jerawat yang dipicu oleh hormon dikenal sebagai jerawat hormonal, yaitu kondisi yang muncul akibat fluktuasi atau ketidakseimbangan hormon dalam tubuh.

Menurut Dr. Michele Green, dokter kulit kosmetik bersertifikat di New York City, jerawat hormonal terjadi karena adanya gangguan keseimbangan hormon dalam tubuh.

Penanganannya pun bervariasi tergantung tingkat keparahan. Tujuannya adalah mengurangi produksi minyak, mencegah pembentukan jerawat, dan meredakan peradangan.

Untuk jerawat ringan seperti komedo, biasanya dapat diatasi dengan krim topikal seperti tretinoin. Sementara jerawat yang meradang dapat ditangani dengan retinoid topikal, antibiotik, atau benzoil peroksida. Untuk kasus yang lebih parah seperti jerawat kistik, dokter dapat memberikan suntikan steroid.

Selain itu, perawatan lain seperti menjaga kebersihan kulit, memperbaiki pola makan, hingga terapi laser atau cahaya juga dapat membantu mengatasi jerawat hormonal.

Memahami peran hormon dalam munculnya jerawat menjadi langkah penting sebelum mencoba berbagai perawatan. Dengan mengetahui penyebab utamanya, penanganan jerawat bisa lebih tepat sasaran dan tidak hanya mengatasi gejala di permukaan kulit saja.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN