Mahar Suku Bugis Tembus Miliaran, Cowok Auto Minder? Ini Faktanya!

Selasa, 31 Mar 2026, 13:45 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Di berbagai daerah di Indonesia, mahar atau maskawin menjadi bagian penting dalam prosesi pernikahan adat. Setiap suku memiliki aturan dan tradisi tersendiri terkait mahar yang harus diberikan oleh pihak laki-laki kepada perempuan. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah mahar dari suku Bugis yang terkenal dengan nilainya yang tinggi.

Suku Bugis, yang berasal dari Sulawesi Selatan, dikenal memiliki standar mahar yang cukup fantastis. Tingginya nilai tersebut bukan tanpa alasan, melainkan sebagai simbol kesungguhan laki-laki dalam meminang, sekaligus bentuk penghormatan kepada calon mempelai perempuan. Berikut beberapa fakta menarik tentang mahar dalam budaya Bugis:

Ket. Foto: Ilustrasi pernikahan adat Bugis. — Sumber: istimewa

1. Dikenal dengan sebutan “Sompa”
Dalam adat Bugis, mahar disebut sompa, yang berarti “persembahan”. Biasanya dilambangkan dengan mata uang rella atau riyal. Bentuknya bisa beragam, mulai dari uang tunai, emas, hingga perhiasan, sesuai kesepakatan kedua pihak.

2. Jadi syarat sah pernikahan adat
Sompa memiliki peran yang sangat penting karena menjadi salah satu syarat sah dalam pernikahan adat Bugis. Artinya, pihak laki-laki wajib menyerahkannya kepada mempelai perempuan agar pernikahan dianggap lengkap secara adat.

3. Simbol keseriusan dan tanggung jawab
Makna sompa sejalan dengan konsep mahar dalam Islam, yakni sebagai tanda kesungguhan, cinta, dan penghormatan kepada perempuan. Selain itu, mahar juga menjadi bentuk jaminan finansial dari suami untuk istri dan keluarganya.

4. Besarannya tergantung status sosial
Nominal mahar biasanya disesuaikan dengan latar belakang mempelai perempuan, seperti status sosial, pendidikan, hingga garis keturunan. Semakin tinggi statusnya, semakin besar pula mahar yang harus disiapkan. Bahkan, untuk kalangan bangsawan, nilainya bisa mencapai jutaan hingga miliaran rupiah.

5. Memiliki tingkatan tertentu
Dalam budaya Bugis, sompa terbagi dalam beberapa tingkatan berdasarkan strata sosial, khususnya di wilayah Têllumponcoe (Bone, Wajo, dan Soppeng). Mulai dari sompa untuk kalangan bangsawan tertinggi hingga masyarakat biasa, masing-masing memiliki standar jumlah yang berbeda.

6. Ada kewajiban membayar uang panai
Selain sompa, pihak laki-laki juga diwajibkan memberikan uang panai. Berbeda dengan mahar, uang panai digunakan untuk membiayai prosesi pernikahan, seperti akad dan pesta. Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun dalam masyarakat Bugis.

7. Pallawa tana untuk non-Bugis
Jika calon mempelai laki-laki bukan berasal dari suku Bugis, ia harus memenuhi kewajiban tambahan berupa pallawa tana. Ini merupakan bentuk penghormatan terhadap adat setempat dan biasanya diberikan kepada kepala lingkungan.

Secara keseluruhan, mahar dalam adat Bugis bukan sekadar soal angka, melainkan penuh makna budaya dan nilai penghormatan. Tak heran jika tradisi ini sering dianggap sebagai salah satu yang paling unik dan juga paling mahal di Indonesia.

  • mahar suku bugis
  • suku bugis

Redaktur: Afifa Khoirunnisa

Penulis: Afifa Khoirunnisa

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.