Diet Ekstrem Bisa Ganggu Ovulasi? Begini Penjelasannya

Selasa, 17 Feb 2026, 14:15 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Diet ekstrem kerap dipilih sebagai jalan pintas untuk menurunkan berat badan dengan cepat. Pola makan yang memangkas kalori secara drastis, menghindari kelompok nutrisi tertentu, atau hanya mengandalkan satu jenis makanan dianggap efektif demi tubuh lebih ramping dalam waktu singkat.

Namun, di balik hasil instan tersebut, para ahli kandungan mengingatkan adanya risiko serius terhadap kesehatan reproduksi perempuan, terutama gangguan ovulasi.

Ket. Foto: ilustrasi ovulasi pada wanita — Sumber: Freepik

Apa Itu Ovulasi?

Ovulasi merupakan proses pelepasan sel telur dari ovarium yang terjadi setiap siklus menstruasi. Proses ini sangat dipengaruhi keseimbangan hormon, terutama estrogen dan progesteron. Ketika tubuh kekurangan asupan kalori dan nutrisi penting seperti lemak sehat, protein, zat besi, serta vitamin tertentu, produksi hormon bisa terganggu.

Akibatnya, siklus haid menjadi tidak teratur, bahkan bisa berhenti sama sekali (amenore).

Pengaruh Diet Ekstreme pada Ovulasi

Menurut para dokter spesialis obstetri dan ginekologi, tubuh perempuan membutuhkan persentase lemak tertentu untuk menjaga fungsi reproduksi tetap optimal. Lemak bukan sekadar cadangan energi, melainkan juga berperan dalam pembentukan hormon.

Saat seseorang menjalani diet ekstrem dengan defisit kalori besar dalam waktu lama, tubuh masuk ke mode bertahan hidup. Dalam kondisi ini, sistem reproduksi dianggap bukan prioritas utama, sehingga ovulasi bisa dihentikan sementara.

Gangguan ovulasi tidak selalu langsung disadari. Beberapa perempuan mungkin hanya merasakan haid yang makin jarang atau durasinya berubah. Namun dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berdampak pada kesuburan. Bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan, diet ketat justru bisa menjadi penghambat tanpa disadari.

Selain itu, diet ekstrem juga berisiko menyebabkan gangguan metabolisme, penurunan massa otot, rambut rontok, kulit kusam, hingga gangguan suasana hati.

Ketidakseimbangan hormon akibat kekurangan nutrisi dapat memicu stres berlebihan, yang pada akhirnya semakin memperparah gangguan siklus menstruasi. Lingkaran ini membuat tubuh semakin sulit kembali ke ritme normal.

Ahli kandungan menekankan bahwa penurunan berat badan idealnya dilakukan secara bertahap dan terukur. Defisit kalori ringan yang disertai pola makan seimbang jauh lebih aman dibandingkan pembatasan ekstrem. Karbohidrat kompleks, protein berkualitas, lemak sehat, sayur, dan buah tetap harus dikonsumsi dalam porsi yang sesuai kebutuhan tubuh.

Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi sangat dianjurkan, terutama bagi perempuan dengan riwayat gangguan haid atau sindrom ovarium polikistik (PCOS).

Olahraga juga perlu diperhatikan. Aktivitas fisik berlebihan tanpa diimbangi asupan nutrisi memadai bisa memperparah gangguan hormon.***

  • Diet Ekstrem Bisa Ganggu Ovulasi

Redaktur: Weti Aprianti

Penulis: Weti Aprianti

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.