Wang Yi Soal Hubungan AS dan Tiongkok: Kerja Sama Lebih Baik daripada Konflik

Senin, 16 Feb 2026, 08:27 WIB

JAKARTA- Setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio di sela-sela Konferensi Keamanan Munich, Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi menegaskan bahwa dialog akan lebih baik daripada konfrontasi dalam hubungan bilateral antara dua negara ekonomi terbesar dunia yakni Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Kedua menteri bertemu pada Jumat (13/2) untuk membahas persiapan pertemuan Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump pada April 2026.

Ket. Foto: Menteri Luar Negeri Tiongkok Wng Yi — Sumber: istimewa

Dalam pertemuan itu, Wang mengatakan kedua kepala negara telah memberikan arahan strategis bagi perkembangan hubungan Tiongkok-AS dan mendorong tahun ini menjadi momentum untuk saling menghormati, hidup berdampingan secara damai, dan saling menguntungkan.

“Dialog lebih baik daripada konfrontasi, kerja sama lebih baik daripada konflik,” kata Wang dalam pernyataan di laman Kementerian Luar Negeri Tiongkok yang dilihat pada Sabtu (14/2).

Ia menambahkan kedua negara perlu memperluas kerja sama dan mengelola perbedaan agar hubungan bilateral berkembang secara stabil dan berkelanjutan.

Wang menyebut pertemuan dengan Rubio berlangsung positif dan konstruktif serta sepakat memperkuat komunikasi dan koordinasi diplomatik.

Sementara itu, Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott mengatakan Rubio juga menilai pertemuan tersebut positif dan menekankan pentingnya komunikasi yang berorientasi hasil dalam isu bilateral, regional, dan global.

Menurut Pigott, kedua pihak turut membahas rencana kunjungan Presiden Trump ke Tiongkok pada April.

Dalam kesempatan terpisah di Konferensi Keamanan Munich, Wang menyatakan Tiongkok memandang hubungan dengan AS dari perspektif tanggung jawab terhadap sejarah dan masyarakat internasional.

Ia mengatakan terdapat dua kemungkinan arah hubungan Tiongkok-AS, yakni kerja sama yang saling menguntungkan atau konfrontasi jika AS memilih menekan dan membatasi Tiongkok.

“Kami berharap skenario pertama yang terjadi, tetapi juga siap menghadapi berbagai risiko,” kata Wang.

Menahan Diri

Peneliti Mubyarto Institute Awan Santosa menyoroti bahaya perang kepada keseimbangan ekonomi politik global, makanya perlunya semua negara khususnya negara negara kuat untuk menahan diri.

Kerja sama yang berlandaskan kesetaraan lebih baik dibanding permusuhan yang akan merugikan semuanya.

“Konfrontasi hingga perang hanya akan menyengsarakan rakyat kecil dan memperkaya segelintir elit global yang penuh ambisi keserakahan,”ungkap Awan.

Dampak perang papar Awan sangat merusak kehidupan rakyat, mengancam pasokan pangan dan energi global dan bisa menghancurkan ekonomi negera-negara yang masih rentan pangan.ers/E-9

  • hubungan bilateral

Redaktur: Diapari S

Penulis: Diapari S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.