Ratusan Ribu Orang Nonton Marapthon Season 3 Reza Arap Cs, Alasan Psikologisnya Bikin Nyesek

Ket. Marapthon Season 3.

Doc: YouTube

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Live streaming Marapthon: The Last Tale yang dipandu Reza Arap dan kawan-kawan kembali mencetak angka fantastis. Musim ketiga sekaligus terakhir ini konsisten ditonton ratusan ribu pengguna YouTube. Bahkan pada Kamis malam, 12 Februari 2026, lebih dari 200 ribu penonton menyaksikan mereka menjajal berbagai permainan antimainstream secara live.

Angka ini tentu mengundang rasa penasaran. Di tengah banjir konten digital yang serba cepat dan instan, mengapa siaran live berdurasi panjang seperti Marapthon justru begitu diminati?

Pertanyaan serupa dilontarkan akun X @dayatpiliang yang mengaku penasaran secara riset. Ia bertanya, apa sebenarnya yang dicari penonton dari live streaming seperti ini? Hiburan? Edukasi? Atau sekadar mengusir rasa gabut?

Tak sedikit warganet mengaku tak memahami daya tariknya. Namun sudut pandang berbeda datang dari praktisi kesehatan mental ternama, Adjie Santosoputro. Ia mencoba membaca fenomena ini melalui kacamata psikologis, terinspirasi dari buku Lost Connections karya Johann Hari.

Menurut Adjie, di era modern ini banyak orang merasa kesepian, meskipun secara teknis mereka punya keluarga, teman, dan akses komunikasi yang mudah lewat ponsel. Rumah tak lagi terasa hangat, relasi makin terfragmentasi, dan lingkar sosial menyempit hanya sebatas “aku”.

Dalam konteks itu, menonton live seperti “Marapthon” bisa menjadi semacam “ruang bersama virtual”. Penonton merasa ditemani, mendengar obrolan ringan, dan seolah menjadi bagian dari kelompok yang sama. Ada sensasi kebersamaan yang sulit didapat di dunia nyata.

Menariknya, banyak komentar penonton yang mengamini analisis tersebut. Ada yang mengaku menonton sambil bekerja agar tidak mengantuk. Ada pula yang menjadikan live ini sebagai pelarian setelah hari kerja yang melelahkan. Bahkan, pekerja shift malam merasa siaran itu seperti teman yang menemani di jam-jam sepi.

Beberapa penonton juga mengungkap sejak memasuki dunia kerja, waktu untuk nongkrong makin jarang karena kesibukan masing-masing. “Marapthon” akhirnya menjadi pengganti suasana kumpul bareng, meski hanya lewat layar.

Fenomena ini menunjukkan kekuatan utama live streaming bukan sekadar konten, melainkan rasa kebersamaan yang tercipta secara real time. Interaksi live chat, reaksi spontan, dan momen tanpa skrip membuat penonton merasa terlibat langsung.

Jadi, apakah benar “banyak orang Indonesia kesepian” sehingga “Marapthon” begitu ramai? Bisa jadi. Atau mungkin, di tengah hidup yang serba cepat dan penuh tekanan, orang hanya butuh ruang santai tanpa tuntutan tempat mereka bisa hadir, menonton, dan merasa tidak sendirian.

Kalau menurutmu cantiks menonton karena benar-benar terhibur atau karena ingin ditemani?

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN