Dr. Tirta Semprot Netizen soal Isu GERD Picu Serangan Jantung, Tegaskan Beda Nyeri Lambung dan Penyakit Jantung

Doc: Instagram/@dr.tirta

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Nama dr. Tirta Mandira Hudhi kembali menjadi sorotan setelah dengan tegas menyemprot netizen yang mengkritisi pernyataan dokter spesialis jantung terkait isu GERD dan penyakit jantung.

Perdebatan ini mencuat di tengah ramainya kabar duka meninggalnya Lula Lahfah, yang diisukan wafat akibat komplikasi asam lambung atau GERD hingga menyebabkan henti jantung mendadak.

Isu tersebut cepat menyebar di media sosial. Salah satu narasi yang paling santer dikaitkan adalah anggapan bahwa GERD bisa memicu serangan jantung fatal secara tiba-tiba. Banyak warganet kemudian menyerang pernyataan dokter spesialis jantung yang menyebut bahwa GERD tidak memiliki kaitan langsung dengan penyakit jantung.

Menanggapi fenomena ini, dr. Tirta Mandira Hudhi angkat bicara melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya pada Minggu (25/1). Dengan gaya bicara khasnya yang blak-blakan, dr. Tirta meluruskan pemahaman publik agar tidak terus menyamakan penyakit lambung dengan kondisi kardiovaskular yang mematikan.

Menurut dr. Tirta, keluhan jantung berdebar yang sering dirasakan penderita GERD kerap disalahartikan sebagai gangguan jantung serius. Padahal, mekanisme medisnya sangat berbeda.

“Kenapa kok bisa berdebar-debar ketika GERD? Ya karena nyeri. Tapi tidak langsung berhubungan. Berdebar karena GERD dan berdebar karena gangguan irama jantung itu beda,” tegas dr. Tirta.

Ia menjelaskan bahwa rasa nyeri hebat di area dada atau ulu hati akibat asam lambung yang naik dan mengiritasi dinding kerongkongan dapat memicu respons stres pada tubuh. Kondisi tersebut membuat sistem saraf simpatik aktif, sehingga denyut jantung meningkat. Namun, peningkatan denyut ini bukan berarti terjadi kerusakan struktural pada jantung seperti pada kasus serangan jantung.

“Jantungnya nggak rusak, pembuluh darahnya nggak tersumbat. Yang ada tubuh sedang merespons nyeri,” jelasnya lebih lanjut.

Tak hanya memberikan edukasi medis, dr. Tirta juga menyindir keras sikap sebagian netizen yang dinilai terlalu percaya diri menilai ilmu kedokteran. Ia menyayangkan banyak orang merasa lebih pintar dari dokter spesialis hanya karena membaca satu atau dua artikel kesehatan di internet.

Fenomena tersebut disebut dr. Tirta sebagai Dunning-Kruger Effect, yakni kondisi ketika seseorang dengan pengetahuan terbatas justru merasa paling tahu.

“Belajar ilmu kedokteran itu ada tahapannya. Jangan sampai kita mengoblok-goblokkan dosen atau senior di bidang jantung hanya karena baca artikel singkat,” ujar dr. Tirta.

Ia pun mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam menyerap informasi kesehatan, terutama yang berkaitan dengan kematian seseorang. Menurutnya, spekulasi tanpa dasar medis yang kuat justru bisa menyesatkan dan menimbulkan ketakutan yang tidak perlu di tengah masyarakat.***

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN