Klarifikasi Manohara: Ngaku Korban Kekerasan Seksual, Ogah Disebut Mantan Istri Pangeran Kelantan Tengku Fakhry

Rabu, 07 Jan 2026, 10:45 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Manohara Odelia kembali mengguncang ruang publik dengan kalrifikasi mengejutkannya perihal mantan suaminya, Pangeran Kelantan Tengku Fakhry.

Figur publik yang lama memilih diam itu mendadak menjadi sorotan setelah mengunggah surat terbuka di Instagram, berisi klarifikasi tegas tentang masa lalunya yang selama bertahun-tahun terus dilekatkan pada dirinya.

Lewat pernyataan panjang dan emosional, Manohara mencurahkan isi hatinya terkait bayang-bayang masa lalu yang menurutnya tak pernah benar-benar pergi. Ia menilai publik dan media kerap menyeret kisah lama tersebut ke dalam kehidupannya saat ini, padahal hal itu sudah tidak relevan dan justru melanggengkan kesalahpahaman.

Karena itu, Manohara secara terbuka meminta agar masyarakat berhenti mengaitkan masa lalunya dengan kondisi yang ia jalani sekarang. Ia berharap permintaan tersebut dapat dipahami dan dihormati.

“Selama bertahun-tahun, saya berulang kali disebut dalam artikel dan judul berita sebagai ‘mantan istri’. Saya menulis surat ini untuk dengan hormat mengklarifikasi bahwa deskripsi tersebut tidak akurat dan menyesatkan,” tulis Manohara, dikutip Rabu (7/1/2026).

Pernyataan itu sontak memicu rasa penasaran publik. Apa sebenarnya maksud Manohara? Mengapa ia menolak label yang selama ini sudah melekat kuat?

Manohara menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya di masa remaja bukanlah hubungan romantis, bukan hubungan atas dasar persetujuan bersama, dan bukan pula pernikahan yang sah sebagaimana dipersepsikan banyak orang.

Ia menegaskan tidak pernah ada hubungan yang ia inginkan, setujui, atau jalani secara sukarela. Saat itu, Manohara masih berada di bawah umur dan berada dalam situasi yang penuh tekanan, tanpa kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri.

“Pada saat itu, saya masih di bawah umur dan berada dalam situasi paksaan serta keterbatasan kebebasan. Artinya, saya tidak memiliki pilihan nyata atau kemampuan untuk memberikan persetujuan,” tegasnya.

Menurut Manohara, penggunaan istilah mantan istri secara tidak langsung menyiratkan adanya hubungan pernikahan yang sah, sukarela, dan dilakukan oleh dua orang dewasa yang setara. Padahal, bagi dirinya, implikasi tersebut sepenuhnya keliru.

“Ini membingkai ulang situasi paksaan sebagai hubungan yang sah dan mendistorsi realitas dari apa yang sebenarnya terjadi,” ungkap Manohara.

Tak berhenti di situ, Manohara juga melayangkan permintaan tegas kepada berbagai pihak, termasuk media massa dan platform digital, agar menghentikan penggunaan label tersebut saat merujuk kepadanya.

“Saya meminta media Indonesia, editor, penulis, serta platform digital seperti Google dan Wikipedia untuk berhenti menggunakan label ini,” ujarnya.

Ia menilai terus menyajikan narasi yang keliru bukan hanya soal ketidakakuratan, tetapi juga menyangkut etika jurnalistik. Baginya, klarifikasi ini bukan upaya mengungkit masa lalu, melainkan perjuangan untuk keakuratan, tanggung jawab, dan penggunaan bahasa yang lebih berempati.

“Penggunaan bahasa yang hati-hati itu penting, karena kata-kata memiliki konsekuensi,” kata Manohara.

Menutup pesan panjang tersebut, Manohara menegaskan para penyintas berhak agar kisah hidup mereka disampaikan secara jujur dan bermartabat, bukan dipelintir dengan narasi yang menyesatkan.

Unggahan tersebut pun memicu diskusi luas di media sosial tentang pentingnya bahasa, perspektif korban, serta tanggung jawab media dalam membentuk opini publik.

Ket. Foto: Manohara Odelia Pinot. — Sumber: Instagram
  • kekerasan seksual
  • Mantan Suami Manohara

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.