Lukisan bertajuk God's Day itu dilelang dalam acara Art For Humanity, yakni pameran seni rupa dan lelang lukisan untuk menggalang dana bagi korban bencana banjir di Sumatera.
Kegiatan tersebut digelar oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan dihadiri oleh sejumlah kolektor seni, seniman, serta tokoh masyarakat.
Dalam proses lelang, lukisan God's Day dibuka dengan harga awal sebesar Rp100 juta yang langsung menarik minat peserta lelang. Setelah melalui proses penawaran, lukisan karya SBY tersebut akhirnya terjual dalam waktu sekitar 10 menit dengan harga akhir mencapai Rp311 juta.
Muncul pertanyaan mengenai sosok pembeli lukisan God's Day yang berhasil mencapai harga ratusan juta rupiah tersebut. Lukisan milik SBY itu disebut dibeli oleh seorang kolektor yang mengikuti lelang, namun tidak ingin disebutkan identitasnya kepada publik.
Seluruh uang hasil lelang lukisan God's Day tersebut dipastikan akan disumbangkan sepenuhnya kepada korban bencana banjir. Dana itu akan disalurkan untuk membantu masyarakat terdampak banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Karya-karya lukisan SBY diketahui memang banyak diminati dan dibeli oleh berbagai kalangan dari latar belakang berbeda. Sebelumnya, pada Agustus 2023, lukisan SBY berjudul Kabut Pagi di Dusun Sunyi juga sempat laku terjual dan dibeli oleh politisi sekaligus suami Inggris Kansil, yakni Syarief Hasan.
Sementara itu, lukisan God's Day menggambarkan kondisi banjir bandang yang menyapu desa-desa hingga dipenuhi air berwarna kecokelatan.
Melalui lukisan tersebut, SBY juga menceritakan pengalamannya dalam menghadapi berbagai bencana besar yang menimpa sejumlah daerah di Indonesia saat dirinya masih menjabat sebagai Presiden.
Dalam sebuah kesempatan, SBY membagikan kisah yang menurutnya sangat membekas ketika Indonesia dilanda bencana besar. âThere is a beautiful story.
Dahulu saat Aceh dan Nias kena tsunami, saya juga lagi di Jayapura untuk mengunjungi korban bencana di sana,â ujar SBY di Teater Kecil, kompleks TIM, Jakarta Pusat, Selasa (24/12).
SBY menuturkan bahwa saat itu ia memantau jumlah korban yang sangat besar dan merasa harus segera berangkat ke Aceh meskipun situasi keamanan masih rawan akibat konflik GAM.
Ia menegaskan keputusannya dengan mengatakan, âSaya bilang no, saya harus melihat langsung ke sana,â meskipun harus memikirkan soal keamanan dan lokasi pendaratan.
Setelah itu, SBY berangkat menuju Aceh menggunakan pesawat kecil dan tiba di wilayah tersebut pada hari kedua setelah tsunami melanda. Di sana, ia menyaksikan secara langsung kondisi yang porak poranda akibat gelombang besar, termasuk banyaknya jenazah yang terbawa arus tsunami.
SBY juga mengenang momen emosional ketika berada di Banda Aceh bersama almarhumah istrinya, Ani Yudhoyono, dan bertemu dua anak laki-laki yang kehilangan seluruh anggota keluarganya.
âBu Ani memangku dan menangis, saya menahan air mata,â ungkap SBY, sambil menggambarkan penderitaan mendalam dan rasa putus asa yang dialami para korban.
Pengalaman penderitaan di Aceh dan wilayah Sumatera lainnya itulah yang kemudian menginspirasi SBY untuk melukis God's Day.
Ia menegaskan keikhlasannya melepas lukisan tersebut untuk dilelang demi kemanusiaan dengan mengatakan, âInsya Allah berapapun (harga lelang) saya lepas, saya ikhlas berapapun.â