Bahaya Sering Curhat ke ChatGPT, Ahli Ungkap Risiko yang Bisa Ganggu Kesehatan Mental

Minggu, 19 Jul 2026, 14:00 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - ChatGPT dan berbagai chatbot berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari membantu mengerjakan tugas, mencari informasi, hingga memberikan ide kreatif, teknologi ini menjadi solusi praktis bagi banyak orang.

Namun, belakangan muncul fenomena baru. Tak sedikit pengguna yang mulai menjadikan ChatGPT sebagai tempat curhat ketika sedang merasa sedih, kesepian, stres, atau menghadapi masalah pribadi. 

Ket. Foto: Ilustrasi wanita yang sedang curhat ke ChatGPT. — Sumber: Gemini AI

Meski terasa nyaman karena chatbot selalu merespons tanpa menghakimi, para ahli mengingatkan kebiasaan tersebut bisa memicu dampak negatif jika dilakukan secara berlebihan.

Sejumlah orang bahkan mengaku lebih memilih bercerita kepada AI dibandingkan keluarga atau teman dekat. Minimnya komunikasi dalam lingkungan sosial membuat sebagian orang merasa chatbot lebih mudah diajak berbicara kapan saja.

Fenomena ini juga terlihat dalam survei Chatbots and Mental Health yang diterbitkan American Psychological Association (APA) pada 2026. Survei tersebut melibatkan 1.200 psikolog berlisensi di Amerika Serikat yang menangani pasien secara langsung.

Hasilnya menunjukkan 77 persen psikolog pernah berdiskusi dengan pasien yang menggunakan AI sebagai sarana memperoleh dukungan emosional maupun pelengkap terapi kesehatan mental. Temuan ini menunjukkan chatbot mulai menjadi alternatif bagi sebagian orang dalam menghadapi tekanan psikologis.

Meski demikian, para ahli menegaskan AI sebaiknya hanya digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti hubungan dengan tenaga kesehatan mental maupun orang-orang terdekat.

Menurut penjelasan ahli, curhat kepada chatbot masih tergolong aman apabila hanya dimanfaatkan sebagai media untuk mengeksplorasi pikiran atau menyusun langkah awal sebelum mencari bantuan profesional.

Yang perlu dipahami, respons AI bukanlah bentuk empati atau kepedulian yang sesungguhnya. Chatbot memang dirancang untuk memberikan jawaban yang terasa relevan dan suportif, tetapi tidak memiliki emosi, pengalaman, maupun kemampuan memahami kondisi manusia secara utuh.

Ahli bahkan mengibaratkan AI seperti obat. Jika digunakan sesuai kebutuhan, manfaatnya bisa dirasakan. Namun, penggunaan yang berlebihan justru berpotensi menimbulkan dampak buruk.

Bahaya Terlalu Sering Curhat ke AI

Ada beberapa risiko yang dapat muncul apabila seseorang mulai bergantung pada chatbot sebagai tempat utama untuk mencurahkan perasaan.

1. Menjauh dari Lingkungan Sosial

Ketika seseorang merasa lebih nyaman berbicara dengan AI dibandingkan manusia, hubungan dengan keluarga, teman, maupun lingkungan sekitar bisa semakin renggang. Lama-kelamaan, seseorang berisiko menarik diri dari interaksi sosial yang sebenarnya sangat penting bagi kesehatan mental.

2. Memicu Distress Emosional

Ketergantungan terhadap chatbot juga dapat meningkatkan risiko distress emosional. Kondisi ini dapat berupa kecemasan berlebihan, perasaan tertekan, hingga gejala depresi, terutama jika AI dijadikan satu-satunya sumber dukungan emosional.

3. Memperburuk Gangguan Kesehatan Mental

Banyak pengguna memanfaatkan AI untuk mencari tahu apakah mereka mengalami gangguan mental tertentu. Padahal, hasil yang diberikan chatbot belum tentu akurat dan sering kali tidak mempertimbangkan konteks kehidupan seseorang secara menyeluruh.

Jika informasi tersebut dijadikan dasar untuk melakukan diagnosis sendiri atau bahkan menjalani pengobatan tanpa berkonsultasi dengan psikolog maupun psikiater, risikonya justru bisa memperparah kondisi yang dialami.

Gejala yang tampak serupa belum tentu berasal dari penyebab yang sama. Karena itu, penanganan kesehatan mental tetap memerlukan evaluasi langsung oleh tenaga profesional.

Selain itu, American Psychological Association juga mengingatkan sistem keamanan chatbot yang belum sempurna dapat menimbulkan konsekuensi serius, terutama bagi remaja yang sedang berada dalam kondisi rentan. 

Salah satu kasus yang sempat menjadi sorotan terjadi pada Februari 2024 di Florida, Amerika Serikat, ketika seorang remaja berusia 14 tahun meninggal dunia akibat bunuh diri setelah berinteraksi dengan chatbot yang dinilai mendukung pikiran bunuh dirinya.

Karena itu, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti hubungan antarmanusia atau layanan kesehatan mental profesional. 

Ketika perasaan sedih, cemas, atau putus asa mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, berbicara dengan keluarga, teman tepercaya, psikolog, atau psikiater tetap menjadi langkah yang paling aman dan tepat.

  • Kesehatan Mental
  • ChatGPT

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.