Perceraian Ridwan Kamil dan Atalia Praratya Dihantui Isu Gray Divorce, Ini Alasannya

Doc: Istimewa

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Isu perceraian kembali menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat, terutama ketika menimpa pasangan Ridwan Kamil dan Atalia Praratya yang lama dikenal harmonis.

Belakangan ini, kabar keretakan rumah tangga Ridwan Kamil dan Atalia Praratya menyita perhatian luas dan memunculkan istilah yang belum banyak dikenal publik, yakni gray divorce. Fenomena ini bukan sekadar gosip selebritas, melainkan cerminan perubahan besar dalam dinamika pernikahan di usia matang.

Selama ini, perceraian kerap diasosiasikan dengan pasangan muda atau pernikahan usia dini. Namun, tren terbaru menunjukkan hal sebaliknya. Pasangan yang telah menikah puluhan tahun dan berusia di atas 50 tahun kini semakin banyak yang memilih berpisah.

Selain Ridwan Kamil dan Atalia Praratya, publik sebelumnya juga dikejutkan dengan perpisahan Ari Lasso, yang memperkuat sorotan terhadap fenomena ini.

Gray divorce adalah istilah yang merujuk pada perceraian yang terjadi pada pasangan berusia 50 tahun ke atas. Mengutip laporan dari Verywell Mind, angka gray divorce mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa dekade terakhir.

Jika pada awal 1990-an kasus perceraian di kelompok usia ini masih tergolong langka, kini jumlahnya terus merangkak naik. Bahkan, pasangan berusia 65 tahun ke atas tercatat mengalami lonjakan angka perceraian yang cukup tajam.

Perubahan ini mencerminkan pergeseran cara pandang terhadap pernikahan. Banyak pasangan di masa lalu memilih bertahan demi anak, status sosial, atau tekanan lingkungan. Kini, setelah anak-anak dewasa dan mandiri, pasangan lebih berani mengevaluasi ulang kebahagiaan mereka sendiri.

Fase ini dikenal sebagai empty nest, saat rumah tidak lagi dipenuhi peran sebagai orang tua. Ketika fokus tersebut menghilang, tak jarang pasangan menyadari bahwa mereka telah tumbuh ke arah yang berbeda dan kehilangan kedekatan emosional.

Masalah keuangan juga menjadi pemicu yang tak bisa diabaikan. Perbedaan pandangan soal tabungan, dana pensiun, hingga pengelolaan aset sering kali memicu konflik lama yang tak pernah benar-benar selesai. Di usia matang, kesadaran waktu dan energi semakin terbatas membuat banyak orang ingin menjalani hidup yang lebih sejalan dengan nilai dan keinginan pribadi.

Selain itu, perubahan nilai hidup, minat, dan prioritas juga berperan besar. Seseorang bisa berkembang secara personal, sementara pasangannya tidak berada di jalur yang sama. Ketidakseimbangan ini perlahan menciptakan jarak emosional yang sulit dijembatani.

Dari sisi psikologis, gray divorce bukanlah keputusan ringan. Perceraian di usia matang sering dibarengi rasa kehilangan mendalam, kesepian, hingga ketakutan menghadapi masa depan seorang diri. Identitas yang selama puluhan tahun melekat pada status pernikahan pun harus dibangun ulang.

Meski demikian, tidak semua cerita gray divorce berakhir suram. Bagi sebagian orang, perpisahan justru menjadi awal baru untuk menemukan kembali kebahagiaan, ketenangan batin, dan makna hidup. Keluar dari hubungan yang tak lagi sehat secara emosional memberi ruang untuk membangun kehidupan yang lebih autentik, baik secara mental, sosial, maupun emosional.

Fenomena gray divorce pun kini menjadi refleksi pernikahan bukan sekadar soal bertahan lama, tetapi juga tentang kualitas hubungan dan kebahagiaan di setiap fase kehidupan.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN