Terungkap! Studi Membuktikan Kebiasaan Makan Ini Ternyata Bisa Picu Depresi
Rabu, 26 Nov 2025, 11:00 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Siapa yang bisa menolak kelezatan pizza berkeju, ayam goreng renyah, atau es krim yang manis dan menyegarkan?
Sayangnya, di balik rasa yang bikin nagih, makanan-makanan ini ternyata menyimpan ancaman besar, bukan hanya untuk tubuh, tetapi juga untuk kesehatan mental.
Sejumlah penelitian dalam beberapa tahun terakhir sudah sering mengingatkan bahwa junk food dan makanan ultra olahan atau ultra process food bisa menjadi pemicu meningkatnya berbagai penyakit kronis.
Hal ini wajar saja, sebab makanan tersebut biasanya mengandung kadar kalori, lemak jenuh, gula, serta garam tambahan yang jauh di atas batas aman.
Kombinasi ini dapat meningkatkan risiko obesitas dan sederet penyakit lain seperti jantung hingga stroke.
Namun yang lebih mengejutkan, para ahli di berbagai negara menemukan fakta, risiko gangguan kesehatan lain yang jauh lebih sunyi ternyata ikut mengintai yakni depresi.
Temuan terbaru yang dilaporkan New York Post mengungkapkan konsumsi makanan ultra olahan dalam jumlah tinggi dapat meningkatkan risiko depresi hingga 20 sampai 50 persen.
Dampaknya bukan sekadar perubahan mood biasa, melainkan hilangnya motivasi, munculnya perasaan sedih berkepanjangan, bahkan putus asa tanpa sebab jelas.
Riset dari Pakistan yang dimuat dalam European Medical Journal Gastroenterology menemukan hubungan antara junk food dan depresi tetap kuat, bahkan setelah mempertimbangkan berbagai faktor lain yang mungkin memengaruhi kondisi mental seseorang.
Kesimpulan ini berasal dari tinjauan atas sembilan studi yang melibatkan lebih dari 79.700 peserta, jumlah yang cukup besar untuk menunjukkan betapa seriusnya masalah ini.
Apa sebenarnya yang membuat makanan ultra olahan begitu berbahaya bagi kesehatan mental? Para ilmuwan memiliki beberapa teori kuat.
Pertama, makanan cepat saji menyebabkan lonjakan gula darah dalam waktu singkat. Lonjakan ini dapat memicu perubahan mood drastis, meningkatkan stres, serta memunculkan rasa cemas.
Kedua, junk food miskin nutrisi penting, seperti vitamin B, vitamin D, magnesium, serta omega 3 yang semuanya berperan besar dalam menjaga fungsi otak dan kestabilan emosi.
Namun yang paling menarik adalah hubungan antara otak dan usus, atau yang dikenal sebagai gut-brain axis.
Para peneliti menemukan bahwa mikrobiota usus penderita depresi sangat berbeda dibandingkan individu sehat.
Ketidakseimbangan bakteri usus ini dapat memengaruhi produksi neurotransmitter penting seperti serotonin, dopamin, dan GABA, zat kimia yang berperan dalam mengatur suasana hati.
Menurut Cleveland Clinic, neurotransmitter adalah pembawa pesan antarsel saraf yang memengaruhi gerakan tubuh, sensasi, hingga respon emosi. Ketika keseimbangannya terganggu, kondisi mental pun ikut terguncang.
Dengan kata lain, depresi bisa jadi bukan hanya masalah pikiran, tetapi juga apa yang Cantiks makan.
- Depresi
- kesehatan mental
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.