Trump Ancam Hentikan Dukungan ke Ukraina jika Tak Teken Perjanjian Damai Usulan AS
Selasa, 25 Nov 2025, 12:51 WIBJAKARTA- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan ancaman bakal menghentikan dukungan bagi Ukraina jika tidak menandatangani perjanjian damai dengan Rusia, sebagaimana dilaporkan Financial Times, mengutip seorang pejabat Eropa.
âItu skenario yang jelas sedang kami siapkan,â kata pejabat Eropa itu kepada Financial Times, merujuk pada kekhawatiran Eropa tentang berakhirnya bantuan AS.
Sebelumnya, Washington Post melaporkan bahwa AS memberi sinyal kepada Ukraina bahwa bantuan militer mungkin akan dihentikan jika pemerintahnya tidak menandatangani rencana perdamaian yang diusulkan AS.
Mengutip seorang sumber, The Guardian sebelumnya melaporkan bahwa AS menekan Ukraina untuk menyetujui rencana perdamaian itu disertai ancaman bahwa syarat-syarat perjanjian bisa menjadi jauh lebih buruk di masa depan.
Pekan lalu, sejumlah media AS mengutip para pejabat yang menyatakan bahwa Trump telah menyetujui rencana 28 poin untuk penyelesaian konflik Ukraina-Russia.
Rencana itu mencakup pengurangan bantuan militer AS, pengakuan resmi terhadap Gereja Ortodoks Ukraina, pemberian status resmi bagi bahasa Russia di Ukraina, pengurangan personel angkatan bersenjata Ukraina, serta pelarangan pasukan asing dan senjata jarak jauh di wilayah Ukraina.
Rencana tersebut juga mengasumsikan bahwa AS dan negara lain mengakui Krimea dan Donbas sebagai wilayah Russia yang sah.
Pada Jumat, Presiden Russia Vladimir Putin mengatakan bahwa rencana perdamaian AS bisa menjadi dasar bagi penyelesaian konflik di Ukraina.
âWake Up Callâ
Pakar Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya, Malang, Aswin Ariyanto Azis, mengatakan, perkembangan konflik Ukraina tersebutseharusnya menjadi wake-up call bagi Eropa, selama mereka bergantung pada AS, keamanan benua tetap berada di bawah belas kasihan politik Washington.
âSementara AS bisa mundur kapan saja, Eropa harus hidup dengan konsekuensi perang Russia-Ukraina setiap hari. Jika Trump benar-benar menghentikan dukungan untuk Ukraina, itu bukan hanya pergantian sikap, ini menunjukkan bahwa fondasi keamanan Barat rapuh dan mudah digoyang,â kata Aswin.
Eropa selama ini berbicara tentang âkemandirian strategisâ, tetapi belum kelihatan mampu mewujudkannya. Kekosongan itu memberi ruang bagi Russia untuk melangkah lebih jauh mengambil 1/5 wilayah Ukraina. âPada akhirnya, krisis ini memperlihatkan satu hal, Eropa harus berani berdiri di kaki sendiri, atau terus hidup dalam bayang-bayang keputusan negara lain,â katanya.
Aswin menambahkan, konflik Rusia-Ukraina yang dipicu oleh campur tangan AS untuk perluasan NATO ke Eropa Timur justru merugikan ekonomi Uni Eropa dan menguntungkan AS karena dapat memaksa Eropa membeli gas dari AS yang lebih mahal.
âKonflik yang diperpanjang oleh kepentingan geopolitik AS menempatkan Eropa pada posisi yang paling rugi, kehilangan energi murah, menghadapi beban sosial dan ekonomi besar, terpecah secara politik, dan tetap bergantung pada keputusan Washington yang tidak stabil,â pungkasnya.
- perang Rusia-Ukraina
Redaktur: Diapari S
Penulis: Diapari S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.