Tangis Haru Keluarga Marsinah di Istana Negara: Perjuangan Buruh yang Kini Diakui Negara

Senin, 10 Nov 2025, 23:18 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM -  Isak tangis mengiringi suasana khidmat di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (10/11/2025).

Wijiati, adik mendiang Marsinah, tak kuasa menahan air mata ketika Presiden Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sang kakak, buruh perempuan yang gugur dalam perjuangan menegakkan keadilan pekerja pada 1993.

Ket. Foto: — Sumber: Istimewa

Momen mengharukan itu terjadi ketika lagu Indonesia Raya berkumandang. Wijiati berdiri tegak memberi hormat kepada Merah Putih sambil menangis pelan. Seusai upacara, ia berjalan perlahan menuju foto Marsinah yang terpajang di ruangan itu. Dengan penuh haru, ia menunduk dan mencium potret kakaknya berulang kali, seolah tak ingin melepaskan kenangan tentang sosok yang begitu ia kagumi.

Di sampingnya, sang kakak lainnya, Marsini, berusaha tegar. Namun suaranya bergetar saat mengenang perjuangan adiknya.

“Saya mohon mulai sekarang, teman-teman tetaplah berjuang,” ujarnya lirih, memancing air mata para hadirin.

Marsinah menjadi salah satu dari sepuluh tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional tahun ini. Namanya disebut setelah Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid dan Presiden ke-2 RI Soeharto. Saat Marsini menerima kotak berisi tanda gelar dari Presiden Prabowo, narator acara membacakan alasan penetapan Marsinah: “Pahlawan bidang perjuangan sosial dan kemanusiaan. Marsinah adalah simbol keberanian, moral, dan perjuangan HAM dari kalangan rakyat biasa.”

Marsinah dikenal sebagai buruh wanita asal Nganjuk, Jawa Timur, yang bekerja di PT Catur Putra Surya (CPS), pabrik arloji di Porong, Sidoarjo. Ia lantang menyuarakan hak-hak pekerja, mulai dari upah layak hingga cuti haid dan cuti hamil. Namun perjuangan itu harus dibayar mahal.

Pada 4 Mei 1993, aksi buruh yang ia dukung berujung pada penangkapan 13 rekan kerjanya oleh aparat. Keesokan harinya, Marsinah mendatangi Koramil setempat untuk mencari tahu nasib mereka. Sejak saat itu, ia menghilang. Empat hari kemudian, jasadnya ditemukan di hutan dengan tanda-tanda kekerasan.

Kini, lebih dari tiga dekade setelah kepergiannya, nama Marsinah akhirnya diabadikan oleh negara sebagai simbol perjuangan sosial dan kemanusiaan. Penghargaan ini bukan sekadar bentuk pengakuan, tetapi juga pengingat bahwa suara keadilan yang ia bawa masih relevan hingga hari ini.

Di tengah air mata keluarga dan tepuk tangan hadirin, nama Marsinah kembali bergema, bukan lagi sebagai korban, melainkan sebagai pahlawan yang menginspirasi perjuangan buruh dan perempuan Indonesia.

  • Upacara Istana Negara
  • marsinah

Redaktur: Muhammad Ihsan Karim

Penulis: Muhammad Ihsan Karim

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.