7 Tokoh di Balik Pertempuran Surabaya 10 November yang Harus Kamu Kenal Lebih Dekat
Minggu, 09 Nov 2025, 20:50 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM -Â Setiap kali tanggal 10 November tiba, kita mengenang dan memperingati harinya sebagai Hari Pahlawan.
Tapi, seberapa jauh sebenarnya kita mengenal sosok-sosok yang berjuang habis-habisan dalam pertempuran besar di Surabaya tahun 1945? Di balik pekik âMerdeka atau Mati!â, ada banyak tokoh yang memainkan peran penting dalam sejarah itu. Berikut tujuh di antaranya yang wajib kamu tahu.
1. Bung Tomo, Sang Penyulut Semangat Arek-Arek Suroboyo
Nama Bung Tomo mungkin sudah tak asing lagi ketika bicara tentang Pertempuran Surabaya. Dengan suaranya yang lantang dan pidato-pidato berapi-api, ia mampu membangkitkan semangat rakyat Surabaya untuk melawan pasukan penjajah yang ingin kembali menguasai Indonesia. Pria bernama asli Sutomo ini lahir di Surabaya pada 3 Oktober 1920 dan dikenal sebagai orator ulung yang mampu menyalakan bara perjuangan di dada rakyat. Bung Tomo wafat pada 7 Oktober 1981 di Padang Arafah dan dimakamkan di TPU Ngagel, Surabaya.
2. Gubernur Suryo, Pemimpin yang Teguh di Tengah Kekacauan
Raden Mas Tumenggung Ario Soerjo, atau yang lebih dikenal sebagai Gubernur Suryo, adalah sosok pemimpin yang berdiri di garda depan ketika Surabaya berada dalam situasi genting. Ia menjadi penghubung antara rakyat dan para pemimpin nasional seperti Soekarno dan Hatta, terutama ketika Inggris mengeluarkan ultimatum pada 10 November 1945. Pada malam sebelum pertempuran, Gubernur Suryo mengumumkan keputusan untuk bertempur sampai titik darah penghabisan. Pidato itu dikenal luas sebagai âKomando Keramatâ dan menjadi simbol keberanian rakyat Surabaya.
3. KH. Hasyim Asyâari, Ulama yang Menyatukan Semangat Jihad
Kyai Haji Hasyim Asyâari bukan hanya tokoh agama, tetapi juga pemersatu semangat perjuangan lewat fatwa bersejarahnya. Lewat âResolusi Jihadâ yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945, beliau menyerukan kewajiban bagi umat Islam untuk berjihad mempertahankan kemerdekaan. Seruan ini menggema di seluruh pelosok negeri dan menjadi salah satu pemicu utama pertempuran besar di Surabaya. Lahir di Demak pada 20 April 1875, KH. Hasyim Asyâari juga dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama dan pelopor modernisasi pesantren di Indonesia.
4. HR Mohammad Mangoendiprodjo, Diplomat di Tengah Peluru
Mayjen TKR HR Mohammad Mangoendiprodjo punya peran unik di balik pertempuran besar itu. Ia menjadi perwakilan Indonesia dalam kontak dengan pasukan Inggris di Surabaya. Dalam situasi penuh ketegangan, ia sempat nyaris kehilangan nyawa ketika mencoba menengahi agar pasukan Inggris tidak menembaki massa di sekitar Gedung Bank Internatio. Meski tugasnya berisiko tinggi, semangatnya tak pernah surut demi mempertahankan kehormatan Indonesia. Ia wafat pada 13 Desember 1988 di Bandar Lampung.
5. Mayjen Moestopo, Dokter Gigi yang Jadi Panglima Perang
Sebelum menjadi jenderal, Prof. Dr. Moestopo dikenal sebagai seorang dokter gigi. Namun, semangatnya tak berhenti di bidang medis saja. Lahir di Kediri pada 13 Juni 1913, Moestopo bergabung dengan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) dan menjadi komandan kompi di Sidoarjo. Dalam Pertempuran Surabaya, ia dikenal sebagai pemimpin yang tangguh, mampu mengatur strategi sekaligus turun langsung ke medan tempur. Setelah perang, Moestopo juga dikenal sebagai tokoh pendidikan dan pendiri Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).
6. Mayjen Sungkono, Komandan yang Selalu di Garis Depan
Nama Mayjen Sungkono sangat lekat dengan Surabaya. Lahir di Purbalingga pada 1 Januari 1911, ia memimpin Barisan Keamanan Rakyat (BKR) dan terjun langsung memimpin pasukan di tengah kobaran pertempuran. Tidak hanya memimpin dari balik meja, Sungkono berada di barisan paling depan, mengatur strategi sekaligus ikut bertempur bersama rakyat. Di bawah komandonya, Surabaya bertahan dengan gigih dan akhirnya dikenal sebagai âKota Pahlawanâ.
7. Abdul Wahab Saleh, Sang Fotografer Pejuang
Dari balik lensa kameranya, Abdul Wahab Saleh merekam momen-momen paling bersejarah di Surabaya. Ia adalah fotografer kantor berita Antara yang berhasil mengabadikan peristiwa legendaris perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato. Gambar-gambar yang diambilnya menjadi saksi bisu keberanian arek-arek Suroboyo dalam menentang penjajahan. Selain sebagai fotografer, Wahab juga aktif sebagai wartawan dan pejuang yang berada di tengah pertempuran.
Hari Pahlawan bukan sekadar mengenang tanggal 10 November, tapi juga memahami perjuangan para tokoh yang mengorbankan segalanya untuk kemerdekaan. Dari orator seperti Bung Tomo hingga fotografer seperti Abdul Wahab Saleh, mereka adalah potongan kisah besar yang membuat Indonesia berdiri tegak hingga hari ini.
- pahlawan nasional
- Hari pahlawan nasional
Redaktur: Muhammad Ihsan Karim
Penulis: Muhammad Ihsan Karim
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.