Raja Charles III dan Paus Leo XIV Ciptakan Sejarah, Doa Bersama Pertama dalam 500 Tahun

Ket. Pertemuan Raja Charles III dan Paus Leo XIV

Doc: Instagram/theroyalfamily

JAKARTA, KUCANTIK.COM - RajaCharles III (76) menorehkan sejarah baru sebagai raja Inggris pertama yang berdoa secara terbuka bersama paus, menandai momen simbolis dalam hubungan antara Gereja Katolik dan Gereja Anglikan. Peristiwa bersejarah ini dianggap sebagai langkah penting menuju rekonsiliasi dua gereja besar yang telah terpisah selama hampir lima abad.

Momen itu terjadi di bawah langit-langit Kapel Sistina yang megah, dihiasi fresco karya Michelangelo, tempat di mana Paus Leo XIV atau paus pertama asal Amerika Serikat terpilih pada Mei lalu untuk memimpin 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia.

Dalam kebaktian tersebut, Raja Charles dan Ratu Camilla hadir berdampingan bersama Paus Leo XIV dalam suasana khidmat dan penuh makna.

Peristiwa ini menjadi momen pertama sejak masa pemerintahan Henry VIII, ketika sang raja memutus hubungan dengan Vatikan pada abad ke-16 dan mendirikan Gereja Inggris (Anglikan) dengan monarki sebagai kepala gereja.

Kunjungan Bersejarah di Tengah Isu Keluarga Kerajaan

Kunjungan kenegaraan ke Vatikan ini berlangsung di masa yang cukup sensitif bagi Raja Charles III. Pasalnya, sang adik, Pangeran Andrew, baru saja setuju untuk melepaskan gelar "Duke of York" akibat kontroversi yang melibatkan hubungannya dengan mendiang Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur.

Meski situasi keluarga kerajaan tengah memanas, Raja Charles tampak bersemangat dan santai. Saat disambut oleh Paus di Istana Apostolik, ia sempat berseloroh mengenai kamera-kamera televisi yang merekam acara tersebut, menyebutnya sebagai “bahaya yang konstan.”

Doa Bersama di Kapel Sistina

Kebaktian lintas gereja itu diawali dengan doa Bapa Kami dalam bahasa Inggris, diikuti oleh lantunan lagu rohani yang dipersembahkan oleh paduan suara Kapel Sistina, bekerja sama dengan dua paduan suara kerajaan Inggris yakni Kapel St. George dari Kastil Windsor dan Chapel Royal dari Istana St. James.

Momen doa bersama ini bukan hanya simbol toleransi, tetapi juga menjadi gambaran tekad Raja Charles untuk menghadirkan monarki yang terbuka dan berjiwa inklusif, selaras dengan visinya tentang keberagaman spiritual di bawah satu payung kerajaan.

Munculnya Kritik dari Kalangan Protestan

Namun, kebaktian yang berlangsung pada Kamis (23/10/2025) itu tidak luput dari kritik. Seorang pendeta Protestan terkenal asal Irlandia Utara, Kyle Paisley, menilai tindakan Raja Charles sebagai pelanggaran terhadap sumpah raja untuk menegakkan iman Protestan.

“Iman Protestan, secara historis dan teologis, benar-benar berbeda dari Katolik. Saya sama sekali tidak mengerti bagaimana dia bisa terlibat dalam bentuk ibadah bersama seperti itu,” ujar Paisley, dikutip dari The Guardian.

Paisley, yang juga dikenal sebagai putra dari mendiang politisi unionis Ian Paisley Sr., bahkan menyatakan bahwa Raja Charles seharusnya turun takhta jika tetap terlibat dalam doa lintas denominasi semacam itu.

Selain itu, Independent Loyal Orange Institution, organisasi Protestan konservatif yang mendukung Irlandia Utara tetap menjadi bagian dari Kerajaan Inggris, juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas partisipasi sang raja dalam acara keagamaan tersebut.

Meski menuai kontroversi, banyak pihak menilai langkah Raja Charles III ini sebagai simbol perdamaian dan keterbukaan lintas iman, memperkuat citranya sebagai raja modern yang ingin menyatukan, bukan memisahkan, umat beragama di bawah naungan monarki Inggris.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN