Hingga kini, alasan di balik keretakan hubungan keduanya belum terungkap secara pasti. Namun, berbagai studi dan laporan menunjukkan bahwa perceraian umumnya dipicu oleh sejumlah faktor psikologis, sosial, dan emosional yang kompleks.
Menurut laporan Forbes Advisor, kurangnya dukungan keluarga menjadi penyebab utama pasangan berpisah, bahkan mengungguli isu perselingkuhan dan masalah keuangan. Temuan ini menyoroti betapa pentingnya peran keluarga besar dalam menjaga kestabilan pernikahan.
Sementara itu, Dr. Helen Fisher, PhD, seorang antropolog dari Universitas Rutgers sekaligus penulis enam buku tentang cinta dan hubungan, mengungkap bahwa banyak pasangan memilih berpisah setelah empat tahun menikah.
Hal ini disebut sebagai âfase realitaâ, di mana pasangan mulai menyadari perbedaan mendasar dalam karakter dan tujuan hidup.
Pendapat itu diperkuat oleh Bettina Hindin, seorang pengacara perceraian ternama, yang menyatakan bahwa periode 5â8 tahun pernikahan adalah masa paling rawan perceraian.
Dalam fase tersebut, tekanan pekerjaan, anak, dan perubahan prioritas sering kali menjadi pemicu utama konflik rumah tangga.
Perceraian, menurut para ahli, tidak hanya soal berakhirnya hubungan, tetapi juga rasa kehilangan mendalam yang dirasakan kedua pihak. Bagi pasangan yang memiliki anak, kehilangan waktu bersama buah hati menjadi beban emosional terbesar.
Tak jarang pula, mereka merasa kehilangan sahabat, keamanan finansial, serta arah masa depan yang dulu dibangun bersama. Berdasarkan studi Forbes Advisor, berikut 13 alasan utama perceraian yang paling sering ditemukan pada pasangan modern:
1.â â Kurangnya dukungan dari keluarga (43 persen)
2.â â Perselingkuhan atau hubungan di luar pernikahan (34 persen)
3.â â Ketidakcocokan (31 persen)
4.â â Kurangnya kedekatan (31 persen)
5.â â Terlalu banyak konflik atau pertengkaran (31 persen)
6.â â Stres keuangan (24 persen)
7.â â Kurangnya komitmen (23 persen)
8.â â Perbedaan dalam pola asuh atau pendekatan sebagai orang tua (20 persen)
9.â â Menikah terlalu muda (10 persen)
10.â â Nilai atau moral yang bertentangan (6 persen)
11.â â Penyalahgunaan zat (3 persen)
12.â â Kekerasan fisik atau emosional (3 persen)
13.â â Perbedaan gaya hidup (1 persen)
Hingga berita ini diturunkan, baik Raisa maupun Hamish Daud belum memberikan pernyataan resmi mengenai gugatan cerai tersebut. Namun, publik berharap keduanya dapat menyelesaikan masalah ini dengan baik demi kebahagiaan putri mereka, Zalina Raine Wyllie.