Sanae Takaichi Jadi Perdana Menteri Perempuan Pertama Jepang, Revolusi atau Kontroversi di Kursi Pemerintahan Jepang?

Senin, 06 Okt 2025, 12:45 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Jepang akan mencatat sejarah baru dengan terpilihnya Sanae Takaichi sebagai perdana menteri perempuan pertama dalam negara tersebut. Di usia 64 tahun, Sanae Takaichi, yang baru saja terpilih sebagai pemimpin Partai Demokrat Liberal (LDP), bersiap untuk menghadapi tantangan berat yang akan menguji kepemimpinan dan visinya dalam membawa Jepang keluar dari stagnasi ekonomi.

Sebagai politisi konservatif garis keras, Sanae Takaichi dikenal dekat dengan mendiang Shinzo Abe, mantan Perdana Menteri Jepang, dan sering dianggap sebagai penerus kebijakan Abenomics.

Ket. Foto: Sanae Takaichi, Perdana Menteri Perempuan Pertama Jepang — Sumber: Istimewa

Meskipun terjun ke dunia politik, Sanae Takaichi juga memiliki sisi unik, seorang drumer heavy metal yang antusias dan pembawa acara TV. Karakternya yang berani dan sering kontroversial menjadikannya sosok yang sulit dilupakan, meskipun banyak pihak meragukan apakah gaya kepemimpinannya bisa menyatukan Jepang yang semakin terpecah.

Sanae Takaichi tidak hanya berhadapan dengan permasalahan ekonomi yang semakin pelik, tetapi juga tantangan untuk menyatukan kembali Partai LDP yang terpecah setelah pengunduran diri Shigeru Ishiba. Meski berada dalam posisi yang kuat untuk menarik dukungan dari sayap kanan, Takaichi menghadapi risiko kehilangan suara dari masyarakat yang lebih luas.

Dalam hal kebijakan, Sanae Takaichi lebih memilih garis keras, termasuk menentang hak-hak perempuan seperti pernikahan sesama jenis dan hak perempuan untuk mempertahankan nama gadis setelah menikah.

Pandangan Sanae Takaichi ini mendapatkan kritik tajam dari sejumlah kelompok, namun ia tetap berkomitmen pada revisi konstitusi Jepang untuk memperkuat sistem pertahanan negara, sekaligus menegaskan kembali pentingnya kebijakan luar negeri yang lebih tegas, terutama terkait hubungan dengan Amerika Serikat.

Namun, Sanae Takaichi bukan tanpa kontroversi. Ia kerap mengunjungi Kuil Yasukuni, yang memicu perdebatan internasional, mengingat di sana terdapat pahlawan perang yang terlibat dalam kejahatan perang. Langkah ini dapat memperburuk ketegangan dengan negara-negara tetangga Jepang yang terlibat dalam Perang Dunia II.

Tidak hanya itu, Sanae Takaichi yang sering disebut "Margaret Thatcher Jepang," memiliki keinginan untuk mengukir perubahan besar di Jepang, namun ia harus menghadapi realitas bahwa visinya yang konservatif mungkin akan sulit diterima oleh sebagian besar rakyat Jepang yang lebih progresif.

Seiring waktu, kita akan melihat apakah kepemimpinannya bisa memberikan solusi terhadap krisis yang sedang melanda negara tersebut atau justru menambah ketegangan politik yang ada.

Jika Sanae Takaichi benar-benar dilantik, Jepang akan menyaksikan sosok perempuan yang siap menerjang tantangan besar dalam menciptakan perubahan drastis.

Akankah dia mampu membimbing Jepang ke arah yang lebih baik, atau justru membawa negara ini ke dalam ketidakpastian lebih lanjut? Waktu yang akan menentukan.

  • Sanae Takaichi
  • Perdana Menteri Jepang

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.