Gemasnya Romansa Soekarno dan Yurike Sanger: Pesona Paskibraka Cantik Hingga Jadi Istri Ketujuh Presiden!

Ket. Romansa Cinta Soekarno dan Yurike Sanger, Gadis Paskibraka dari Poso Menjadi Istri Ketujuh Sang Proklamator.

Doc: Ist.

JAKARTA, KUCANTIK.COM — Kisah cinta antara Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, dan Yurike Sanger tetap menjadi bagian menarik dari lembar sejarah nasional. Sebuah kisah tentang pertemuan tak terduga yang lahir dari aktivitas kenegaraan dan berakhir di persimpangan politik serta kehidupan pribadi.

Dari Poso ke Barisan Bhinneka Tunggal Ika

Yurike Sanger lahir sekitar tahun 1945 di Poso, Sulawesi Tengah, dari keturunan Jerman dan Manado. Sejak masih remaja, ia dikenal aktif dalam kegiatan kenegaraan di sekolahnya. Salah satu perannya: anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika, organisasi yang disebut‐sebut sebagai cikal bakal Paskibraka, ikut menyambut tamu negara dalam upacara Kenegaraan tahun 1963. Pada momen itulah pertama kali tatap mata dengan Bung Karno terjadi, saat Soekarno melihat Yurike mengenakan kebaya, menarik perhatiannya.

Benih Cinta dan Pernikahan di Usia Muda

Setelah beberapa interaksi dalam acara kenegaraan, Soekarno kemudian menyatakan perasaannya dan melamar secara resmi. Pada 6 Agustus 1964, mereka menikah secara Islam di rumah Yurike di Poso. Saat itu, Yurike baru berusia 19 tahun, sementara Soekarno menjelang usia 64–65 tahun. 

Meski menjadi bagian dari keluarga besar presiden, Yurike menjalani kehidupan yang lebih privat dibanding istri‐istri Soekarno lainnya. Ia tidak terlalu sering muncul di publik, lebih memilih berperan di balik layar atau dalam kegiatan sosial.

Masa Perubahan Politik dan Berakhirnya Ikatan

Pernikahan Soekarno dan Yurike berlangsung sekitar empat tahun, dari 1964 hingga 1968. Kondisi politik yang menjadi tidak stabil di era menjelang G30S PKI dan setelahnya mempengaruhi kehidupan sehari‐hari; beberapa versi menyebutkan bahwa Soekarno menyarankan cerai agar Yurike tidak terkena dampak dari situasi politik serta ekonomi yang memburuk. Setelah perpisahan ini, Yurike memilih untuk tidak lagi aktif dalam kehidupan politik nasional dan kemudian menetap di Amerika Serikat. 

Selain itu, Yurike sempat memeluk agama Islam saat menikah dengan Soekarno, dan kemudian kembali ke agama Kristen setelah berpisah.

Akhir Kisah dan Warisan

Pada 17 September 2025, Yurike Sanger meninggal dunia di San Gorgonio Memorial Hospital, California, Amerika Serikat, pada usia sekitar 80 tahun. Keluarganya menyebutkan bahwa Yurike sempat berjuang melawan kanker payudara. Kabar kepergian ini dikonfirmasi oleh putranya, Yudhi Sanger, melalui unggahan di media sosial. Rencananya, jenazah akan dibawa ke Indonesia dan disemayamkan di Rumah Duka RS Fatmawati, Jakarta Selatan. 

Meski masa bersama Soekarno terbilang singkat, Yurike Sanger tetap mencatatkan diri dalam sejarah pribadi Sang Proklamator. Keberadaannya memberi warna pada sisi manusiawi dalam kehidupan seorang pemimpin besar bukan hanya tentang kekuasaan, tapi juga tentang cinta, pengorbanan, serta bagaimana seorang wanita muda menapaki jalan hidup yang tidak mudah di tengah badai zaman.

Kirim
Tulisan Terkait
PILIHAN