Dikenal Vokal Edukasi Skincare, Doktif Malah Langgar Aturan BPOM? Ini Faktanya!

Ket. Doktif

Doc: Instagram

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Nama Dokter Detektif, atau yang lebih akrab disebut Doktif, selama ini dikenal sebagai sosok yang berani bersuara lantang dalam membongkar fakta-fakta di balik produk kecantikan. Lewat berbagai platform media sosial, ia sering mengedukasi publik tentang pentingnya memahami kandungan skincare dan memilih produk yang aman. Namun kini, Doktif justru tersandung masalah yang bertolak belakang dengan citranya sendiri.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI pada Kamis (7/8) merilis daftar 21 produk kosmetik yang izin edarnya resmi dicabut. Empat di antaranya diketahui berafiliasi dengan Doktif, yakni:

Pencabutan ini dilakukan setelah BPOM menemukan adanya ketidaksesuaian komposisi antara bahan yang digunakan saat produksi dengan yang didaftarkan dalam proses notifikasi. Hal ini dinilai berpotensi merugikan konsumen, terutama mereka yang memiliki kulit sensitif atau alergi terhadap kandungan tertentu.

“Risiko yang dapat timbul berupa reaksi alergi bagi pengguna yang sensitif terhadap bahan tidak tercantum dalam label produk,” jelas Prof. Taruna Ikrar, Kepala BPOM RI.

Lebih lanjut, BPOM menegaskan bahwa komposisi yang tidak sesuai juga bisa menggugurkan klaim manfaat produk yang dijanjikan di kemasan. Dengan kata lain, konsumen bisa saja tertipu oleh janji hasil tanpa tahu bahwa kandungannya tak sesuai.

Menanggapi kabar ini, Doktif memberi respons singkat yang cukup mencengangkan, “Nggak apa-apa, kan saya nggak pernah jualan keranjang produk berbahaya,” ujarnya.

Namun, pernyataan tersebut justru menambah tanda tanya dari publik apalagi mengingat perannya selama ini sebagai garda depan edukasi skincare yang aman.

BPOM sendiri menegaskan bahwa mereka tetap netral dan konsisten dalam melindungi masyarakat dari produk berisiko. “Pelaku usaha harus jujur dan bertanggung jawab kepada konsumen,” tutup pernyataan resmi BPOM.

Kasus ini membuka ruang diskusi: apakah edukator skincare juga perlu lebih transparan soal produk yang mereka rilis sendiri? Satu hal yang pasti, publik kini semakin kritis, dan kepercayaan bukan hal yang bisa dibangun dengan klaim semata.

Kirim
Tulisan Terkait
FAVORIT PEMBACA

TERBARU
PILIHAN