Tata Kelola Fiskal Indonesia masih Diselimuti Sejumlah Persoalan Mendasar
Senin, 28 Jul 2025, 09:34 WIBJAKARTA-Â Pengamat ekonomi dari Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE), Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata menegaskan bahwa kredibilitas dan reputasi fiskal Indonesia sangat menentukan kemampuan negara dalam bertahan dan menjalin kerja sama internasional.
âKredibilitas dan reputasi fiskal pada intinya adalah soal kedisiplinan dalam mengelola penerimaan dan pengeluaran negara. Ini menuntut kerangka fiskal yang terukur dan transparan,â katanya kepada media ini, Minggu (27/7), menanggapi pertemuan Menkeu Sri Mulaynai dengan Direktur ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO), Yasuto Watanabe.
Menurut dia, sampai saat ini tata kelola fiskal Indonesia masih menyimpan sejumlah persoalan mendasar. âBagaimana beban pajak didistribusikan, atau bagaimana alokasi anggaran dilakukan, sering masih diselimuti kabut. Semula disebut efisiensi, tapi ternyata adalah realokasi dengan sasaran yang menimbulkan kontroversi,â katanya.
Situasi ini, lanjutnya, menciptakan ketidakpastian dan mengikis kepercayaan pelaku ekonomi terhadap arah kebijakan negara.
Ketika kredibilitas fiskal melemah kata Aloysius, maka dampaknya bukan hanya pada pasar domestik, tetapi juga memperlemah posisi Indonesia dalam mencari mitra atau bantuan internasional, termasuk dari kawasan regional seperti ASEAN. Ia mengingatkan bahwa dalam situasi global yang kian terfragmentasi akibat rivalitas geopolitik dan perubahan struktur ekonomi dunia, negara tanpa kredibilitas fiskal akan kehilangan posisi tawar.
âOleh karena itu, gejolak global yang kini terjadi semestinya menjadi momentum bagi pemerintah untuk tidak sekadar responsif, tetapi juga reflektif. Sudah waktunya kita benar-benar mengurusi kredibilitas maupun reputasi fiskal secara menyeluruh,â tutup Aloysius.
Saat menerima kunjungan Direktur ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO), Yasuto Watanabe, pekan lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan komitmen Indonesia menjaga kredibilitas dan reputasi fiskal di tengah gejolak geopolitik.
Pertemuan itu membahas sejumlah tantangan strategis yang dihadapi kawasan ASEAN di tengah ketidakpastian ekonomi global yang makin kompleks akibat dinamika geopolitik, utamnya yang berkaitan dengan kebijakan Amerika Serikat (AS).
Keduanya sepakat ketidakpastian saat ini memberi tekanan besar terhadap stabilitas sektor keuangan dan perdagangan internasional.
Ikut Bergejolak
Diminta terpisah, Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda mengatakan, fokus global saat ini menuju ke kondisi regional ASEAN yang sedang bergejolak.
Ada perang antara Thailand-Kamboja, dan juga protes besar di Malaysia yang menuntut Anwar Ibrahim mundur dari kursi Perdana Menteri. âKondisi ini bisa menyulut ketidakpastian ekonomi di ASEAN, terkait dengan perdagangan antar negara ASEAN,â kata Nailul.
Indonesia sebagai salah satu anggota, juga akan terimbas dari sisi permintaan perdagangan karena Thailand juga salah satu mitra dagang Indonesia.
Maka memang yang harus dikuatkan adalah kondisi dalam negeri yang dijaga agar selalu kondusif. Salah satunya dengan menjaga daya beli masyarakat.
âDaya beli masyarakat ini menjadi krusial dalam mempertahankan perekonomian agar tidak semakin jeblok. Selain itu, pemerintah juga harus mengelola keuangan dengan prudent,âungkapnya.
- gejolak geopolitik
- ketidakpastian global
Redaktur: Diapari S
Penulis: Diapari S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.