- Home
-
- Entertainment
-
- 6 Film Indonesia yang Be...
6 Film Indonesia yang Berani Mengkritik Penguasa, dari Eksil hingga Pesta Babi
Sabtu, 24 Okt 2026, 08:00 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Demonstrasi menuntut biaya hidup yang lebih terjangkau dan film dokumenter kritik sosial-politik menjadi dua cara masyarakat menyuarakan keresahan.
Keduanya mengangkat persoalan yang berkaitan dengan kebijakan publik, ketimpangan, lingkungan, hingga demokrasi.
Sejumlah film Indonesia turut menjadi bahan diskusi karena membahas isu sensitif, mulai dari sejarah politik 1965 hingga dampak pembangunan terhadap masyarakat adat. Berikut deretan film yang bisa ditonton untuk memahami berbagai kritik sosial dan politik di Indonesia.
1. Eksil, Mengangkat Kisah Warga yang Terasing dari Tanah Air
Eksil merupakan film dokumenter karya Lola Amaria yang dirilis pada 2022. Film ini mengangkat kisah mahasiswa Indonesia yang berada di luar negeri ketika situasi politik berubah setelah peristiwa 1965, sehingga sebagian dari mereka tidak dapat kembali ke tanah air.
Melalui kesaksian para eksil, film ini menyoroti pengalaman pengasingan, kehilangan kewarganegaraan, dan dampak panjang konflik politik terhadap kehidupan pribadi. Eksil juga membuka ruang diskusi mengenai ingatan sejarah dan hak asasi manusia.
2. Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, Kritik atas Pembangunan di Papua
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita mengangkat persoalan pembangunan di Papua, terutama dampak proyek berskala besar terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat adat.
Film ini menyoroti kekhawatiran mengenai perubahan bentang alam, hak atas tanah, serta ruang hidup masyarakat lokal. Pemutarannya juga memunculkan perdebatan tentang kebebasan berekspresi setelah sejumlah kegiatan nonton bareng dilaporkan mengalami pembatalan atau pembubaran.
Isu yang diangkat film ini memperlihatkan bagaimana pembangunan, perlindungan lingkungan, dan hak masyarakat adat menjadi bagian dari diskusi mengenai kebijakan publik.
3. Sexy Killers, Menyoroti Industri Batu Bara dan Lingkungan
Sexy Killers merupakan film dokumenter investigatif produksi Watchdoc yang mendapat perhatian luas menjelang Pemilu 2019.
Film ini membahas industri batu bara, pembangkit listrik, serta dampak kegiatan pertambangan terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat. Selain itu, film ini menyoroti hubungan antara kepentingan bisnis dan politik.
Melalui pendekatan investigatif, Sexy Killers mengajak penonton mempertanyakan siapa yang memperoleh manfaat dari kegiatan industri dan siapa yang harus menanggung dampaknya.
4. Dirty Vote, Membahas Persoalan Pemilu dan Demokrasi
Dirilis menjelang Pemilu 2024, Dirty Vote menghadirkan analisis sejumlah pakar hukum tata negara mengenai kebijakan dan peristiwa yang dinilai berpotensi memengaruhi proses pemilu.
Film ini menyoroti isu netralitas kekuasaan, penggunaan sumber daya negara, dan integritas demokrasi. Kehadirannya memicu perdebatan publik mengenai penyelenggaraan pemilu dan akuntabilitas pejabat negara.
Sebagai dokumenter yang menyajikan argumentasi politik dan hukum, film ini dapat menjadi bahan diskusi yang perlu dilengkapi dengan pemeriksaan fakta serta pembandingan terhadap sumber independen.
5. Senyap, Mengingat Kembali Kekerasan Politik 1965
Senyap atau The Look of Silence merupakan film dokumenter karya Joshua Oppenheimer yang dirilis pada 2014.
Film ini mengikuti seorang penyintas yang berusaha memahami pembunuhan kakaknya dalam peristiwa 1965â1966. Melalui pertemuan dengan sejumlah orang yang dikaitkan dengan peristiwa tersebut, film ini mengangkat persoalan trauma, impunitas, dan ingatan sejarah.
Senyap menjadi salah satu karya yang membuka ruang diskusi mengenai pengalaman korban dan keluarga mereka dalam sejarah politik Indonesia.
6. Pulau Buru Tanah Air Beta, Kisah Mantan Tahanan Politik
Film dokumenter Pulau Buru Tanah Air Beta karya Rahung Nasution yang dirilis pada 2016 mengangkat pengalaman mantan tahanan politik yang pernah ditahan di Pulau Buru.
Film ini memperlihatkan bagaimana pengalaman penahanan berdampak terhadap kehidupan para penyintas, sekaligus mengangkat isu hak asasi manusia dan ingatan kolektif.
Melalui kisah personal, film ini mengajak penonton memahami sejarah politik dari sisi orang-orang yang mengalami langsung dampaknya.
Demo Turunkan Biaya Hidup, Ketika Persoalan Ekonomi Menjadi Tuntutan Publik
Selain melalui film, demonstrasi menjadi sarana masyarakat menyampaikan keresahan mengenai kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah.
Isu biaya hidup mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari pangan, tempat tinggal, transportasi, pendidikan, hingga kesehatan. Ketika pengeluaran meningkat sementara pendapatan tidak bertambah sebanding, daya beli masyarakat dapat tertekan.
Persoalan upah juga menjadi perhatian kelompok buruh. Pada akhir Desember 2025, sejumlah buruh menggelar aksi menolak penetapan Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta 2026 karena menilai besaran upah belum mencerminkan kebutuhan hidup layak.
Tuntutan mengenai biaya hidup menunjukkan bahwa persoalan ekonomi tidak hanya berkaitan dengan harga kebutuhan pokok, tetapi juga kebijakan upah, perlindungan pekerja, dan pemerataan kesejahteraan.
Film dan Demonstrasi, Dua Cara Menyampaikan Kritik Sosial
Film dokumenter dan demonstrasi memiliki cara berbeda dalam menyampaikan kritik. Demonstrasi menyuarakan tuntutan secara langsung kepada pemangku kebijakan, sedangkan film merekam pengalaman dan menghadirkan perspektif yang dapat memperluas pemahaman publik.
Eksil dan Senyap mengangkat persoalan sejarah, Pesta Babi menyoroti pembangunan dan lingkungan, sementara Sexy Killers dan Dirty Vote membahas industri serta demokrasi.
Setiap film memiliki pendekatan dan argumentasi tersendiri sehingga penonton perlu mencermati sumber informasi dan bukti yang disajikan.
Pada akhirnya, film dan aksi massa dapat menjadi bagian dari diskusi publik mengenai persoalan bersama. Keduanya membuka ruang bagi masyarakat untuk mempertanyakan kebijakan, memahami pengalaman kelompok terdampak, dan mendorong pembahasan yang kritis serta bertanggung jawab.
- Film Indonesia Kritik Pemerintah
- Film tentang Kritik Pemerintah
Redaktur: Fitrya A Kusumah
Penulis: Fitrya A Kusumah
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.