- Home
-
- Entertainment
-
- Jutaan Followers Raffi A...
Jutaan Followers Raffi Ahmad, Ria Ricis, hingga Atta Halilintar Dipertanyakan, Mana Suaranya Soal Karhutla dan MBG?
Selasa, 13 Okt 2026, 11:00 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Jumlah pengikut di media sosial yang mencapai puluhan juta membuat Raffi Ahmad, Ria Ricis, dan Atta Halilintar menjadi figur dengan jangkauan audiens yang sangat besar. Namun, besarnya popularitas mereka kini justru menjadi bahan kritik setelah sebuah unggahan warganet mempertanyakan sikap para selebritas tersebut terhadap sejumlah persoalan di Indonesia.
Kritik itu menyoroti jumlah pengikut ketiganya yang fantastis, tetapi mempertanyakan mengapa mereka dinilai belum banyak menyuarakan isu publik, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga persoalan koperasi desa.
Unggahan yang dibagikan akun Mustapha Shobri sekitar dua jam sebelum tangkapan informasi tersebut beredar menyinggung perbandingan antara popularitas para selebritas dan suara mereka terhadap isu-isu yang dianggap penting bagi masyarakat.
Dalam unggahan itu, Raffi Ahmad disebut memiliki 74,9 juta pengikut, Ria Ricis 36,7 juta pengikut, dan Atta Halilintar 38,1 juta pengikut. Angka tersebut menjadi dasar pertanyaan mengenai seberapa jauh pengaruh figur publik dapat dimanfaatkan untuk menyoroti persoalan sosial.
Raffi Ahmad hingga Ria Ricis Disorot Gegara Jutaan Followers
Dengan jumlah pengikut sebesar itu, aktivitas media sosial Raffi Ahmad, Ria Ricis, dan Atta Halilintar berpotensi menjangkau audiens dalam jumlah besar. Tidak mengherankan jika sebagian warganet berharap para figur publik tersebut tidak hanya menggunakan platform mereka untuk konten hiburan, promosi, atau aktivitas sehari-hari.
Sebagian masyarakat menilai popularitas bisa menjadi modal untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap isu lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan kebijakan sosial. Apalagi, informasi yang dibagikan figur publik berpotensi menarik perhatian orang-orang yang mungkin tidak mengikuti perkembangan berita setiap hari.
Namun, harapan tersebut juga memunculkan perdebatan. Apakah selebritas dengan jutaan pengikut memang memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan setiap persoalan yang sedang ramai dibicarakan?
Jawabannya tidak sesederhana itu. Figur publik memang memiliki kesempatan untuk menggunakan pengaruhnya demi kepentingan sosial, tetapi keputusan untuk berbicara mengenai isu tertentu tetap bergantung pada pilihan dan tanggung jawab masing-masing.
Karhutla hingga Keracunan MBG Jadi Sorotan
Isu kebakaran hutan dan lahan merupakan persoalan lingkungan yang dapat berdampak luas, mulai dari kualitas udara hingga kesehatan masyarakat dan aktivitas ekonomi. Karena itu, perhatian publik terhadap penanganan karhutla tidak hanya datang dari pemerhati lingkungan, tetapi juga masyarakat yang merasakan dampaknya.
Di sisi lain, program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut menjadi perhatian ketika muncul laporan mengenai dugaan keracunan yang melibatkan penerima manfaat di sejumlah lokasi. Persoalan semacam ini membutuhkan penanganan serius, termasuk pemeriksaan penyebab kejadian, evaluasi keamanan pangan, dan transparansi informasi kepada masyarakat.
Selain dua isu tersebut, pembicaraan mengenai koperasi desa juga berkaitan dengan harapan masyarakat terhadap pembangunan ekonomi dan pengelolaan program di tingkat lokal.
Berbagai persoalan itu kemudian menjadi latar kritik terhadap figur publik yang dinilai memiliki jangkauan besar. Warganet yang melontarkan kritik mempertanyakan apakah popularitas yang dimiliki para selebritas dapat dimanfaatkan untuk membantu menyebarkan informasi dan meningkatkan kepedulian terhadap masalah publik.
Meski demikian, anggapan bahwa ketiganya sama sekali tidak pernah menyuarakan isu tersebut perlu dibuktikan melalui penelusuran aktivitas media sosial mereka secara menyeluruh. Kritik dalam unggahan warganet tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa mereka tidak pernah memberikan perhatian terhadap persoalan sosial.
Artis Pendukung 02 Ikut Terseret dalam Kritik
Kritik dalam unggahan tersebut juga meluas kepada selebritas lain yang pernah berkampanye atau menyatakan dukungan terhadap pasangan calon nomor urut 02 dalam Pilpres 2024.
Sebagian warganet mempertanyakan apakah para figur publik yang dahulu aktif menyampaikan dukungan politik juga menunjukkan perhatian terhadap persoalan masyarakat setelah pemilihan selesai.
Perbandingan ini memperlihatkan bagaimana aktivitas politik selebritas dapat membentuk ekspektasi publik. Ketika seorang figur terkenal menggunakan popularitasnya untuk mendukung kandidat tertentu, sebagian masyarakat mungkin berharap ia juga bersedia menyampaikan kritik atau perhatian terhadap kebijakan dan persoalan yang muncul kemudian.
Meski begitu, dukungan politik pada masa pemilu tidak otomatis membuktikan seseorang bertanggung jawab atas seluruh kebijakan pemerintah. Demikian pula, tidak membahas suatu isu di media sosial tidak selalu berarti seseorang tidak peduli terhadap persoalan tersebut.
Pada akhirnya, kritik terhadap Raffi Ahmad, Ria Ricis, Atta Halilintar, dan selebritas lainnya membuka diskusi lebih luas mengenai peran figur publik di tengah masyarakat. Dengan jangkauan audiens yang besar, mereka memang memiliki peluang untuk membantu menyebarkan informasi penting.
Namun, penilaian terhadap sikap mereka perlu didasarkan pada rekam jejak yang bisa diperiksa, bukan semata-mata asumsi. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana popularitas dapat digunakan secara bertanggung jawab untuk meningkatkan kesadaran publik, tanpa mengabaikan fakta dan konteks dari setiap persoalan yang dibicarakan.
- Ria Ricis
- Raffi Ahmad
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.