Bukan Sekadar Makan Sushi, Ini 5 Fakta Omakase yang Ramai Dibahas Gegara Tepe

Rabu, 07 Okt 2026, 15:00 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Restoran dengan konsep omakase tengah menjadi perbincangan setelah Raditya Dika dan Teguh Prakoso alias Tepe membuat konten saat menikmati hidangan di sebuah restoran sushi omakase di Jakarta.

Raditya Dika diketahui mentraktir Tepe dalam kesempatan tersebut. Namun, konten yang diunggah pada 3 Oktober 2026 justru memunculkan respons beragam dari warganet.

Ket. Foto: Bukan Sekadar Makan Sushi, Ini 5 Fakta Omakase yang Ramai Dibahas Gegara Tepe — Sumber: Youtube/Raditya Dika

Sejumlah netizen menilai Tepe kurang memahami konsep bersantap omakase. Dalam video tersebut, Tepe terlihat menolak wasabi yang disajikan di atas piring.

Ia juga sempat memanggil chef dengan suara bernada tinggi serta melakukan sejumlah tindakan lain yang dinilai kurang sesuai dengan etiket makan omakase.

Lantas, sebenarnya seperti apa konsep omakase dan etiket yang berlaku saat menikmatinya? Berikut lima fakta mengenai omakase.

1. Apa Itu Omakase?

Omakase merupakan istilah dalam bahasa Jepang yang merujuk pada konsep bersantap dengan menyerahkan pilihan makanan sepenuhnya kepada chef.

Konsep tersebut banyak ditemukan di restoran Jepang, termasuk restoran yang menyajikan sushi. Istilah omakase sendiri memiliki makna kurang lebih "saya serahkan kepada Anda", sehingga pelanggan mempercayakan pilihan hidangan kepada chef.

Dalam konsep ini, chef biasanya memilih dan menyiapkan bahan-bahan segar untuk kemudian diolah menjadi rangkaian hidangan. Makanan disajikan dengan tampilan yang sederhana, tetapi tetap memperhatikan unsur artistik.

Tempat duduk pelanggan di restoran omakase umumnya berada langsung di depan chef. Dengan demikian, chef dapat berinteraksi dengan pelanggan sekaligus menjelaskan atau menyajikan hidangan secara langsung.

Menu yang disajikan umumnya merupakan kuliner Jepang. Salah satu bentuk omakase yang paling populer adalah sushi omakase yang kini dapat ditemukan di sejumlah restoran di Jakarta.

2. Sejarah Omakase

Konsep omakase mulai muncul sekitar dekade 1990-an. Kemunculannya berkaitan dengan fenomena Economic Bubble atau gelembung ekonomi yang membuat banyak orang kaya baru bermunculan di Jepang.

Pada masa tersebut, orang-orang kaya baru ingin menikmati sushi dengan harga mahal dan kualitas premium. Namun, sebagian dari mereka tidak memahami jenis ikan maupun etika ketika memesan sushi.

Daripada terlihat tidak mengetahui pilihan makanan atau salah dalam memesan, mereka memilih mengatakan "omakase" dan menyerahkan seluruh pilihan kepada chef.

Dari situlah konsep tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu pengalaman bersantap khas Jepang yang dikenal hingga sekarang.

3. Alur Penyajian Omakase

Restoran dengan konsep omakase tidak menyajikan makanan secara sembarangan. Hidangan biasanya diberikan berdasarkan alur atau tingkatan rasa, mulai dari yang ringan hingga semakin kuat.

Sebagai contoh, rangkaian makanan dapat diawali dengan hidangan bercita rasa ringan seperti sashimi ikan berdaging putih. Setelah itu, hidangan secara bertahap beralih ke makanan dengan rasa yang lebih gurih dan kandungan lemak lebih tinggi, seperti tuna hingga wagyu.

Setelah seluruh hidangan utama selesai, restoran omakase biasanya menyediakan dessert sebagai hidangan penutup. Dessert yang diberikan umumnya memiliki sensasi rasa yang lebih segar untuk menutup rangkaian pengalaman bersantap.

4. Omakase Dibanderol Mahal

Konsep omakase dikenal sebagai pengalaman bersantap yang eksklusif sehingga harga yang ditawarkan relatif tinggi. Untuk menikmati satu set omakase, pelanggan biasanya perlu mengeluarkan biaya hingga jutaan rupiah per orang.

Harga tersebut sebanding dengan kualitas bahan makanan, pelayanan, serta pengalaman yang diberikan oleh restoran. Sejumlah restoran bahkan mendatangkan langsung bahan-bahan segar atau ikan musiman dari Jepang untuk menjaga kualitas hidangan yang disajikan.

Selain kualitas makanan, pengalaman berinteraksi langsung dengan chef juga menjadi salah satu daya tarik utama omakase. Jumlah pelanggan dalam satu sesi biasanya juga terbatas sehingga suasana makan terasa lebih privat dan personal.

5. Etiket Makan Omakase

Ada sejumlah etiket yang sebaiknya diperhatikan ketika menikmati omakase agar pengalaman bersantap berjalan nyaman dan sesuai dengan konsepnya.

Karena omakase berarti menyerahkan pilihan makanan kepada chef, pelanggan pada dasarnya tidak memilih sendiri hidangan yang akan disajikan. Pengecualian dapat diberikan apabila pelanggan memiliki alergi atau kondisi tertentu yang perlu disampaikan kepada restoran.

Pengunjung juga dianjurkan menikmati setiap hidangan dengan tidak terburu-buru. Satu sesi omakase biasanya berlangsung sekitar 90 hingga 150 menit, tergantung rangkaian menu yang disediakan.

Ketepatan waktu juga menjadi hal penting. Pelanggan sebaiknya tiba sekitar 5 hingga 10 menit sebelum jadwal yang telah ditentukan.

Hal tersebut karena pengalaman bersantap omakase biasanya berlangsung mengikuti ritme penyajian chef secara serentak. Keterlambatan pelanggan dapat mengganggu alur penyajian maupun pengalaman bersantap secara keseluruhan.

Viralnya konten Raditya Dika dan Tepe pun membuat konsep omakase kembali menjadi perhatian publik.

Di balik kontroversi mengenai sikap saat bersantap, fenomena tersebut sekaligus membuat lebih banyak orang mengenal konsep makan Jepang yang mengutamakan kepercayaan pelanggan terhadap chef.

  • restoran omakase
  • omakase Raditya Dika

Redaktur: Fitrya A Kusumah

Penulis: Fitrya A Kusumah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.