- Home
-
- Entertainment
-
- Female Rage Makin Viral,...
Female Rage Makin Viral, Kenapa Kemarahan Perempuan Justru Dicari di Film dan Budaya Pop?
Rabu, 23 Sep 2026, 10:00 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Pernah melihat karakter perempuan di film yang marah besar, frustrasi, bahkan melakukan hal-hal ekstrem, tetapi justru membuat banyak penonton merasa, "Kok gue relate banget?" Fenomena tersebut belakangan semakin sering dibicarakan dengan istilah female rage.
Istilah female rage atau kemarahan perempuan memang bukan sesuatu yang benar-benar baru. Namun, popularitasnya semakin meningkat seiring banyaknya film, serial, karya seni, hingga konten media sosial yang berani menampilkan sisi emosional perempuan secara lebih kompleks.
Selama bertahun-tahun, karakter perempuan dalam budaya populer kerap identik dengan sosok penyabar, lembut, pengertian, dan mampu mengendalikan emosi. Ketika marah, perempuan bahkan sering dianggap terlalu emosional atau berlebihan.
Kini, gambaran tersebut mulai berubah. Kemarahan, rasa frustrasi, kekecewaan, hingga dorongan untuk melawan justru mulai mendapatkan ruang lebih besar dalam seni dan budaya pop.
Apa Itu Female Rage?
Secara sederhana, female rage adalah representasi kemarahan perempuan yang muncul akibat tekanan sosial, pengalaman personal, relasi, ketidakadilan, maupun ekspektasi masyarakat terhadap perempuan.
Melansir beberapa sumber, konsep female rage sebenarnya sudah lama hadir dalam berbagai bentuk seni dan budaya populer. Namun, istilah tersebut semakin ramai digunakan dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah mendapat perhatian besar di media sosial.
TikTok menjadi salah satu platform yang ikut membuat istilah ini semakin populer. Potongan adegan film, karakter tertentu, hingga karya seni yang memperlihatkan perempuan sedang marah atau memberontak banyak dibagikan dan didiskusikan.
Bukan sekadar karena adegannya terlihat dramatis, banyak perempuan justru menemukan pengalaman emosional mereka sendiri dalam representasi tersebut.
Kenapa Female Rage Terasa Begitu Relate?
Salah satu alasan female rage banyak mendapat perhatian adalah karena kemarahan perempuan sering kali memiliki latar belakang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Misalnya, tekanan untuk selalu terlihat baik, tuntutan agar menjadi pasangan yang sempurna, keharusan menjaga perasaan orang lain, hingga pengalaman berada dalam hubungan yang tidak sehat.
Dalam situasi tertentu, perempuan juga kerap didorong untuk menahan kemarahan agar tetap dianggap "baik". Akibatnya, ekspresi marah perempuan tidak jarang justru diberi label negatif.
Padahal, marah merupakan bagian dari emosi manusia.
Melansir The Trinitonian, pembahasan mengenai female rage dapat menjadi bentuk validasi kemarahan perempuan juga merupakan emosi yang manusiawi dan pantas mendapatkan ruang.
Karena itu, female rage tidak selalu harus dimaknai sebagai tindakan destruktif. Dalam konteks seni dan budaya pop, fenomena ini juga dapat menjadi cara untuk menggambarkan pengalaman, tekanan, dan konflik emosional perempuan yang sebelumnya kurang mendapat sorotan.
Dari Film hingga Serial, Karakter Perempuan Kini Nggak Harus Selalu "Baik"
Perubahan representasi tersebut dapat dilihat dari berbagai karakter perempuan dalam film populer. Mereka tidak selalu ditampilkan sebagai sosok protagonis yang sempurna dan mudah disukai.
Ada karakter yang egois, obsesif, penuh amarah, melakukan kesalahan, bahkan mengambil keputusan yang sulit dibenarkan. Namun, justru kompleksitas tersebut membuat mereka terasa lebih manusiawi.
Salah satu karakter yang sering dibahas dalam konteks female rage adalah Amy Dunne dalam Gone Girl (2014), yang diperankan Rosamund Pike.
Amy digambarkan sebagai perempuan yang berada dalam konflik dengan pernikahan, relasi, serta ekspektasi sosial mengenai bagaimana seorang istri seharusnya bersikap.
Ada pula Pearl dalam film Pearl (2022), yang diperankan Mia Goth. Karakter tersebut memperlihatkan kemarahan dan frustrasi yang berkembang dari tekanan hidup, keterbatasan pilihan, serta keinginan besar untuk mendapatkan kehidupan yang berbeda.
Sementara itu, Nina Sayers dalam Black Swan (2010), yang diperankan Natalie Portman, menghadirkan gambaran perempuan yang berada di bawah tekanan besar untuk memenuhi standar kesempurnaan.
Ketiga karakter tersebut memiliki cerita dan konflik yang berbeda. Namun, semuanya memperlihatkan satu hal yang sama: perempuan dalam budaya pop kini tidak harus selalu digambarkan tenang, sabar, dan menyenangkan untuk bisa menjadi karakter yang menarik.
Female Rage Bukan Sekadar Tren di Media Sosial
Maraknya pembahasan female rage di media sosial memang membuat istilah ini terlihat seperti tren baru. Namun, fenomenanya sebenarnya jauh lebih luas.
Female rage juga menjadi bagian dari diskusi mengenai bagaimana perempuan direpresentasikan dalam film, serial, seni, dan budaya populer.
Ketika karakter perempuan diperbolehkan untuk marah, kecewa, frustrasi, atau bahkan melakukan kesalahan, penonton mendapatkan gambaran pengalaman perempuan tidak selalu harus dikemas secara manis.
Bagi sebagian penonton, representasi tersebut bisa terasa melegakan karena ada pengalaman emosional yang akhirnya terlihat dan dibicarakan.
Pada akhirnya, female rage menunjukkan kemarahan perempuan tidak selalu harus dibungkam atau disembunyikan agar bisa diterima. Dalam dunia seni dan budaya pop, emosi tersebut kini justru menjadi bagian dari cerita yang membuat karakter perempuan terasa lebih kompleks, kontroversial, dan manusiawi.
- Female Rage
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.