Gaji Kurang dari UMR Bisa Masuk Desil 10, Kok Bisa? Ini Penjelasannya

Senin, 17 Agu 2026, 20:00 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Status desil belakangan ini ramai diperbincangkan karena hasil yang muncul tidak selalu sesuai dengan kondisi ekonomi yang terlihat sehari-hari. Ada orang yang penghasilannya di bawah UMR, mepet UMR, bahkan sedang tidak bekerja tetapi tercatat di desil 8, 9, atau 10.

Kondisi tersebut memunculkan anggapan bahwa desil 10 berarti seseorang termasuk orang terkaya di Indonesia.

Ket. Foto: Gaji Kurang dari UMR Bisa Masuk Desil 10, Kok Bisa? Ini Penjelasannya — Sumber: Freepik

Padahal, angka desil tidak dibuat untuk mengurutkan masyarakat berdasarkan besar kecilnya gaji, melainkan pemeringkatan kondisi sosial ekonomi keluarga berdasarkan data DTSEN (Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional).

1. Desil 10 Bukan Berarti Masuk 10 Persen Orang Terkaya

Desil membagi keluarga ke dalam 10 kelompok berdasarkan peringkat kesejahteraan. Desil 1 berada di kelompok 10 persen terbawah, sedangkan desil 10 berada di kelompok 10 persen teratas.

Jadi, desil 10 menunjukkan posisi dalam kelompok 10 persen teratas, bukan berarti gaji seseorang masuk 10 persen tertinggi di Indonesia. Desil juga bukan peringkat kekayaan pribadi. Tidak ada aturan seperti Rp3 juta berarti desil 3, Rp5 juta desil 5, atau Rp20 juta otomatis desil 10.

2. Orang yang Tidak Bekerja Pun Bisa Masuk Desil 10

Status pekerjaan seseorang tidak berdiri sendiri karena data dibaca berdasarkan kondisi keluarga. Seseorang yang tidak bekerja tetap menjadi bagian dari keluarga tempat dirinya terdaftar.

Misalnya, anak yang belum bekerja tetapi tinggal bersama orang tua yang memiliki penghasilan dan rumah sendiri. Kondisi tersebut tidak otomatis membuat keluarganya masuk kelompok kesejahteraan rendah.

Sebaliknya, orang dengan penghasilan Rp5 juta belum tentu memiliki kondisi ekonomi keluarga lebih tinggi. Ia bisa menjadi satu-satunya pencari nafkah, memiliki banyak tanggungan, atau tinggal di rumah sewa dengan pengeluaran besar.

Karena itu, status bekerja atau tidak bekerja bukan penentu tunggal angka desil.

3. DTSEN Punya Banyak Indikator

DTSEN memuat berbagai informasi mengenai kondisi sosial ekonomi penduduk, seperti pendidikan, pekerjaan, tempat tinggal, sanitasi dan air minum, kesehatan dan disabilitas, kepemilikan aset, hingga kepemilikan usaha.

Dalam ground check DTSEN, terdapat 39 variabel yang terdiri dari 13 variabel individu dan 26 variabel keluarga. Artinya, penilaian kondisi keluarga tidak berhenti pada penghasilan.

Dua keluarga dengan anggota yang sama-sama berpenghasilan Rp4 juta per bulan bisa memiliki posisi berbeda karena kondisi tempat tinggal, jumlah pencari nafkah, aset, dan anggota keluarga lainnya.

Karena itu, punya rumah atau kendaraan tidak otomatis membuat seseorang masuk desil 10. Begitu pula gaji di bawah UMR tidak otomatis menentukan angka desil tertentu.

4. Desil Bukan Batas Pengeluaran Bulanan

Desil bukan batas pengeluaran keluarga dalam sebulan atau setahun. Misalnya, pengeluaran Rp2 juta tidak otomatis berarti desil 2 dan pengeluaran di atas Rp10 juta tidak otomatis desil 10.

Desil menunjukkan peringkat relatif, bukan nominal pengeluaran dengan batas tetap. Hal ini berbeda dengan garis kemiskinan yang dihitung BPS menggunakan pendekatan pengeluaran per kapita per bulan.

Dengan demikian, tidak ada nominal gaji maupun pengeluaran yang bisa dijadikan patokan universal untuk menentukan desil.

5. Desil Bisa Berpengaruh pada Bantuan Sosial

Status desil menjadi salah satu dasar dalam penentuan sasaran sejumlah program bantuan sosial. Berdasarkan keterangan resmi Cek Bansos, keluarga desil 1–4 atau 40 persen terbawah dapat diusulkan sebagai penerima PKH dan Sembako, sedangkan desil 5 dapat diusulkan sebagai peserta PBI-JK.

Keluarga yang tercatat di desil 10 berada di luar kelompok desil 1–4 yang menjadi sasaran pengusulan PKH dan Sembako. Namun, desil 10 bukan berarti seseorang otomatis tidak berhak atas seluruh bantuan pemerintah karena setiap program memiliki persyaratan masing-masing.

Jika hasil desil tidak sesuai kondisi ekonomi saat ini, penyebabnya bisa karena data belum diperbarui.

Masyarakat dapat mengajukan pemutakhiran melalui pemerintah desa atau kelurahan, dinas sosial, maupun kanal Cek Bansos. Data tersebut kemudian perlu melalui proses verifikasi sebelum memengaruhi pemeringkatan berikutnya.

Jadi, bergaji di bawah UMR, pas UMR, atau sedang tidak bekerja tetapi mendapat desil 10 bukan berarti termasuk 10 persen orang terkaya di Indonesia.

Desil menunjukkan posisi keluarga dalam pemeringkatan kesejahteraan berdasarkan data sosial ekonomi, sehingga nominal gaji satu orang tidak bisa digunakan untuk menebak angka desil.

  • Gaji UMR Masuk Desil 10
  • Gaji UMR

Redaktur: Fitrya A Kusumah

Penulis: Fitrya A Kusumah

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.