Benarkah Anak ADHD Terlalu Banyak Diberi Obat? Pakar Ungkap Fakta yang Perlu Diketahui Orang Tua

Kamis, 06 Agu 2026, 15:00 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Kasus Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada anak terus menjadi perhatian di berbagai negara. Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gangguan ini, jumlah anak yang didiagnosis ADHD juga ikut bertambah. Namun, di balik tren tersebut, muncul peringatan dari para ahli mengenai meningkatnya penggunaan obat-obatan sebagai penanganan utama, yang dinilai berpotensi dilakukan secara berlebihan.

Kekhawatiran ini mengemuka setelah laporan terbaru menunjukkan pemberian resep obat untuk anak-anak dengan ADHD di Inggris mengalami peningkatan signifikan. Meski obat dapat membantu mengendalikan gejala tertentu, sejumlah pakar menilai pendekatan yang terlalu bergantung pada pengobatan belum tentu menjadi solusi terbaik bagi semua anak.

Salah satu suara kritis datang dari pakar Attention Deficit Disorder (ADD), Dr. Gabor Mate. Menurutnya, ADHD tidak bisa dipandang semata-mata sebagai gangguan medis yang hanya disebabkan oleh kelainan pada otak. Ia menilai kondisi lingkungan, pola pengasuhan, serta pengalaman hidup anak juga memiliki peran penting terhadap munculnya gejala ADHD.

Dr. Mate berpendapat penanganan ADHD sebaiknya tidak hanya berfokus pada pemberian obat. Setiap anak memiliki kondisi yang berbeda sehingga pendekatan terapi perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing, termasuk mempertimbangkan faktor psikologis, sosial, dan lingkungan tempat anak tumbuh.

Apa Itu ADHD?

ADHD sendiri merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan kesulitan mempertahankan perhatian, perilaku hiperaktif, dan kecenderungan bertindak impulsif. Dalam beberapa tahun terakhir, diagnosis ADHD meningkat seiring semakin banyak orang tua dan tenaga kesehatan yang mengenali tanda-tandanya sejak dini.

Namun, menurut Dr. Mate, beberapa perilaku yang sering dikaitkan dengan ADHD juga dapat muncul sebagai respons anak terhadap tekanan emosional. Misalnya, anak yang tampak sulit berkonsentrasi atau mudah teralihkan bisa saja sedang berusaha melindungi dirinya dari stres yang dialami.

Ia menjelaskan ketika anak berada dalam situasi penuh tekanan, otak dapat mengalihkan perhatian sebagai mekanisme untuk mengurangi beban emosional. Karena itu, perilaku tersebut tidak selalu bisa disimpulkan sebagai gangguan yang murni berasal dari faktor biologis.

Selain itu, kondisi keluarga juga dinilai berpengaruh besar terhadap perkembangan emosional anak. Tekanan ekonomi, masalah sosial, maupun konflik dalam keluarga dapat memengaruhi hubungan antara orang tua dan anak. Dalam beberapa kasus, anak menyerap tekanan tersebut dan mengekspresikannya melalui perubahan perilaku.

Selama ini banyak penelitian menyebut bahwa ADHD dipengaruhi oleh faktor genetik. Namun, Dr. Mate memiliki pandangan bahwa yang mungkin diwariskan bukanlah gangguannya secara langsung, melainkan tingkat sensitivitas anak terhadap lingkungan. Anak yang sejak lahir memiliki sensitivitas tinggi dinilai lebih mudah terdampak oleh stres maupun tekanan yang terjadi di sekitarnya.

Perdebatan juga muncul terkait penggunaan obat ADHD dalam jangka panjang. Menurut Dr. Mate, obat memang dapat membantu mengurangi gejala tertentu, tetapi belum tentu memperbaiki penyebab yang mendasari kondisi tersebut.

Ia mengaku pernah meresepkan obat untuk pasien ADHD saat masih aktif sebagai dokter. Namun, berdasarkan pengalamannya, manfaat obat lebih banyak dirasakan dalam membantu mengendalikan gejala untuk sementara, bukan sebagai solusi menyeluruh bagi setiap anak.

Karena itu, orang tua disarankan untuk aktif berdiskusi dengan dokter mengenai pilihan terapi yang paling sesuai. Penanganan ADHD dapat melibatkan kombinasi berbagai pendekatan, seperti terapi perilaku, dukungan psikologis, penyesuaian lingkungan belajar, hingga penggunaan obat bila memang diperlukan berdasarkan penilaian tenaga medis.

Selain memahami manfaatnya, orang tua juga perlu mewaspadai kemungkinan efek samping obat. Mengacu pada The Royal Children's Hospital Melbourne, beberapa reaksi yang perlu diperhatikan antara lain sakit perut atau muntah, sakit kepala, pusing, ruam atau gatal, hingga reaksi alergi berat (anafilaksis) yang dapat terjadi pada kasus tertentu.

Agar penggunaan obat tetap aman, orang tua dianjurkan selalu mengikuti petunjuk dokter atau apoteker, memastikan dosis diberikan dengan tepat, menggunakan alat ukur khusus untuk obat cair, tidak menghancurkan tablet tanpa anjuran tenaga kesehatan, serta segera berkonsultasi apabila anak mengalami keluhan atau reaksi yang tidak biasa setelah mengonsumsi obat.

Para ahli menekankan setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, keputusan mengenai penggunaan obat ADHD sebaiknya dilakukan berdasarkan evaluasi medis yang menyeluruh, dengan mempertimbangkan manfaat, risiko, serta kondisi individual anak, bukan semata-mata mengikuti tren atau kekhawatiran yang berkembang di masyarakat.

Ket. Foto: Ilustrasi anak dengan ADHD. — Sumber: Istimewa
  • ADHD
  • Penyakit ADHD

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.