Amerika Hantam Puluhan Target Militer Iran di Selat Hormuz, Ancaman Perang Besar Memanas Lagi!
Selasa, 14 Jul 2026, 09:40 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah militer AS melancarkan gelombang serangan terbaru yang menyasar puluhan fasilitas militer Iran. Operasi ini diklaim sebagai langkah strategis untuk melemahkan kemampuan Teheran dalam mengganggu jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz, salah satu rute perdagangan energi paling vital di dunia.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengungkapkan operasi militer tersebut dilakukan dengan menggunakan amunisi berpemandu presisi untuk menghantam berbagai sasaran strategis yang dinilai menjadi bagian dari kemampuan pertahanan dan serangan Iran. Target yang diserang mencakup sistem pertahanan udara, radar pantai, fasilitas rudal, pangkalan drone, hingga armada kapal cepat yang selama ini disebut berpotensi mengancam kapal-kapal dagang yang melintas di kawasan tersebut.
Dalam operasi berskala besar ini, militer AS mengerahkan berbagai alutsista modern, mulai dari pesawat tempur, kapal perang, drone udara serang sekali pakai (one way attack aerial drones), hingga teknologi terbaru berupa drone laut serang sekali pakai (one way attack sea drones). Penggunaan drone laut ini menjadi yang pertama kali dilakukan dalam operasi militer AS di kawasan Timur Tengah, menandai perubahan strategi Washington dalam menghadapi ancaman maritim.
CENTCOM menegaskan Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran internasional yang memiliki peran sangat penting bagi perdagangan global, terutama distribusi minyak dan gas dunia. Karena itu, Amerika Serikat menilai tidak ada satu negara pun, termasuk Iran, yang berhak menguasai atau menghambat kebebasan navigasi di kawasan tersebut.
Militer AS juga menyatakan pasukannya tetap berada dalam kondisi siaga penuh untuk memastikan kapal-kapal komersial dapat melintas dengan aman. Washington menuduh Iran terus melakukan intimidasi, ancaman, dan tindakan agresif terhadap aktivitas pelayaran internasional, sehingga operasi militer dianggap sebagai bentuk perlindungan terhadap stabilitas jalur perdagangan global.
Serangan terbaru ini menjadi sorotan karena terjadi hanya beberapa pekan setelah Washington dan Teheran sempat menunjukkan tanda-tanda meredanya konflik. Pada Juni lalu, kedua negara menandatangani nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan sebagai upaya mengakhiri perang yang meletus sejak akhir Februari.
Kesepakatan tersebut mencakup penghentian seluruh pertempuran di berbagai front, pencabutan blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap Iran, serta pembukaan kembali Selat Hormuz agar aktivitas pelayaran internasional dapat berjalan normal. Nota kesepahaman itu sempat dipandang sebagai langkah awal menuju perjanjian damai yang lebih permanen.
Namun, harapan tersebut kini kembali memudar. Dalam beberapa hari terakhir, kedua negara kembali saling melancarkan aksi militer yang dipicu sengketa mengenai keamanan lalu lintas kapal niaga di Selat Hormuz. Amerika Serikat mengklaim serangannya ditujukan untuk mencegah ancaman terhadap pelayaran internasional, sedangkan Iran membalas dengan menyerang sejumlah aset milik AS di berbagai kawasan.
Eskalasi terbaru ini memunculkan kekhawatiran komunitas internasional terhadap stabilitas kawasan Teluk. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama pengiriman sekitar seperlima kebutuhan minyak dunia. Gangguan sekecil apa pun di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi global, mengganggu rantai pasok internasional, hingga meningkatkan risiko konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Para pengamat menilai situasi saat ini masih sangat dinamis. Meski kedua negara sebelumnya menyepakati penghentian konflik, saling serang yang kembali terjadi menunjukkan perdamaian masih jauh dari kata aman.Â
Selama persoalan keamanan maritim dan kepentingan strategis di Selat Hormuz belum menemukan titik temu, potensi bentrokan antara Amerika Serikat dan Iran diperkirakan masih akan terus membayangi kawasan sekaligus menjadi perhatian serius dunia internasional.
- Amerika Serikat
- Amerika
Redaktur: Alfina Febriyana
Penulis: Alfina Febriyana
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.