Viral Tren Injak Garam Sebelum Tidur Bikin Tidur Lebih Nyenyak dan Hilangkan Stres, Fakta Medisnya Justru Mengejutkan

Senin, 22 Jun 2026, 10:45 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Fenomena tren kesehatan di media sosial kembali mencuri perhatian publik. Setelah berbagai metode relaksasi viral bermunculan, kini giliran kebiasaan menginjak garam Epsom sebelum tidur yang ramai diperbincangkan di TikTok. Banyak pengguna mengaku merasakan manfaat luar biasa, mulai dari tidur lebih nyenyak, tubuh lebih rileks, hingga berkurangnya rasa cemas setelah menjalani ritual sederhana tersebut.

Tren ini semakin populer setelah seorang kreator TikTok bernama Tammy Weatherhead membagikan rutinitas malamnya. Dalam video yang ditonton jutaan kali, Tammy terlihat menaburkan garam Epsom ke dalam loyang datar, lalu menggesekkan kedua telapak kakinya di atas butiran garam beberapa saat sebelum tidur.

Menurut Tammy, kebiasaan itu bukan sekadar perawatan kaki biasa. Ia mengklaim bahwa garam Epsom mampu membantu mengangkat sel kulit mati, mengurangi peradangan, menenangkan sistem saraf, bahkan menurunkan hormon stres kortisol dan meningkatkan serotonin yang berhubungan dengan suasana hati serta kualitas tidur.

"Rasanya luar biasa dan sulit dijelaskan dengan kata-kata," ungkapnya dalam video yang viral tersebut.

Tak butuh waktu lama, ribuan pengguna TikTok lainnya ikut mencoba metode serupa. Banyak yang membagikan pengalaman positif setelah melakukannya secara rutin. Sebagian mengaku lebih tenang saat tidur, sementara yang lain merasa tingkat kecemasan mereka berkurang secara signifikan. Bahkan, ada yang menyebut praktik ini sebagai teknik kuno untuk membersihkan energi negatif dan mengembalikan keseimbangan tubuh.

Namun di balik gelombang antusiasme tersebut, para pakar kesehatan mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai seluruh klaim yang beredar.

Dokter penyakit dalam Dr. Yoshua Quinones menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan berdiri di atas garam Epsom dapat meningkatkan kadar serotonin atau menurunkan hormon kortisol. Menurutnya, manfaat yang paling mungkin dirasakan berasal dari sensasi pijatan ringan dan proses eksfoliasi yang terjadi pada telapak kaki.

Ia menjelaskan bahwa tekstur garam yang kasar dapat memberikan rangsangan sensorik yang menenangkan. Efek rileks yang muncul kemungkinan besar berasal dari pengalaman tersebut dan kebiasaan meluangkan waktu untuk menenangkan diri sebelum tidur, bukan dari reaksi biologis tertentu yang dipicu garam.

Meski terlihat aman, metode ini juga tidak cocok untuk semua orang. Mereka yang memiliki luka terbuka, kulit kaki pecah-pecah, neuropati, atau komplikasi kaki akibat diabetes disarankan untuk menghindarinya karena berpotensi menyebabkan iritasi dan rasa tidak nyaman.

Pandangan serupa disampaikan oleh dokter spesialis tidur Dr. Saema Tahir. Ia menyatakan bahwa tidak ada bukti medis yang menunjukkan bahwa berdiri di atas garam mampu menenangkan sistem tubuh secara langsung. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan garam dalam jumlah tinggi justru dapat memicu aktivasi sistem saraf simpatik yang berhubungan dengan peningkatan detak jantung, tekanan darah, hormon stres, dan peradangan.

Sementara itu, psikiater Dr. Bonnie Mitchell menilai manfaat yang dirasakan sebagian orang kemungkinan berasal dari aspek psikologis. Ketika seseorang melakukan ritual tertentu secara rutin sebelum tidur, otak dapat mengasosiasikan aktivitas tersebut dengan waktu untuk beristirahat sehingga menciptakan rasa tenang.

Menurut Mitchell, klaim garam Epsom dapat mengubah kimia otak secara langsung tergolong berlebihan. Ia menjelaskan bahwa serotonin diproduksi di otak dan saluran pencernaan, sedangkan kortisol diatur oleh kelenjar adrenal. Sampai saat ini belum ada bukti klinis yang menunjukkan bahwa tekanan pada kristal garam kering dapat memengaruhi produksi kedua zat tersebut.

Kesimpulannya, tren injak garam sebelum tidur mungkin memang memberikan sensasi rileks bagi sebagian orang. Namun manfaat tersebut lebih mungkin berasal dari efek relaksasi, mindfulness, dan rutinitas menjelang tidur, bukan karena kemampuan ajaib garam Epsom untuk mengubah hormon atau kimia tubuh.

Jadi, sebelum ikut mencoba tren viral ini, pastikan Anda memahami fakta medis di baliknya dan tidak mudah percaya pada klaim yang belum terbukti secara ilmiah.

Ket. Foto: Ilustrasi garam. — Sumber: Istimewa
  • tren kesehatan
  • injak garam

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.