Dari Beras hingga Tahu-Tempe, Ini 8 Bahan Makanan yang Terancam Naik Imbas Dolar AS
Rabu, 10 Jun 2026, 13:15 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Nilai tukar rupiah kian melemah terhadap dolar AS, memicu pembengkakan biaya impor komoditas pangan yang transaksinya menggunakan mata uang dolar. Akibatnya, harga berbagai bahan makanan yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari berpotensi ikut melonjak.
Berikut adalah 8 komoditas bahan makanan yang terdampak kenaikan dolar AS:
Gandum dan Meslin
Gandum dan meslin (gandum hitam) adalah bahan baku tepung terigu untuk membuat mi instan, roti, kue, hingga pakan ternak (pollard dan bran gandum).
Komoditas ini diimpor dari AS, Australia, Ukraina, Kanada, dan Argentina. Berdasarkan data BPS, nilai CIF JanuariâDesember 2025 mencapai 3,05 miliar USD (sekitar Rp54,78 triliun dengan kurs Rp17.960,80/USD). Melemahnya rupiah otomatis akan menaikkan harga pangan berbasis tepung.
Gula
Meskipun menjadi produsen tebu, Indonesia masih mengimpor gula dalam bentuk raw sugar dan gula rafinasi untuk kebutuhan industri makanan, minuman kemasan, dan susu.
Nilai CIF JanuariâDesember 2025 komoditas ini menembus 1,9 miliar USD (sekitar Rp34,13 triliun). Dampaknya, harga gula dan produk minuman kemasan di pasar terancam semakin mahal.
Kakao
Bahan utama pembuatan cokelat ini harus melewati proses fermentasi, pengeringan, hingga pemanggangan. Kebutuhan industri dalam negeri diimpor dari Ekuador, Pantai Gading, Kongo, Papua Nugini, dan Liberia.
Dengan nilai CIF JanuariâDesember 2025 sebesar 1,7 miliar USD (sekitar Rp30,53 triliun), harga cokelat di minimarket berpotensi ikut naik.
Kedelai
Kedelai merupakan bahan baku tahu dan tempe sebagai sumber protein nabati. Karena produksi lokal belum mencukupi, kedelai diimpor dari AS, Kanada, Bolivia, Tiongkok, dan Malaysia. Nilai CIF komoditas ini sepanjang JanuariâDesember 2025 tercatat sebesar 1,187 milar USD (sekitar Rp21,32 triliun).
Susu
Susu sangat penting untuk pemenuhan gizi dan industri turunan seperti keju serta yogurt. Pasokannya masih bergantung pada impor dari Selandia Baru, Belgia, Australia, AS, dan Jerman. Nilai CIF susu selama periode JanuariâDesember 2025 mencapai 960 juta USD (sekitar Rp17,24 triliun).
Daging Sapi
Daging lembu/sapi digunakan untuk konsumsi harian serta bahan industri olahan seperti bakso, sosis, dan kornet. Indonesia mengimpor komoditas ini dari Australia, Brasil, India, AS, dan Selandia Baru. Nilai CIF daging sapi pada JanuariâDesember 2025 mencapai 609 juta USD (sekitar Rp10,94 triliun).
Bawang Putih
Bumbu dapur ini sebenarnya bisa ditanam di dataran tinggi lokal, namun produksinya belum mampu memenuhi tingginya permintaan pasar. Bawang putih diimpor dari Tiongkok dan India dengan nilai CIF JanuariâDesember 2025 mencapai 608 juta USD (sekitar Rp10,92 triliun).
Beras
Beras merupakan makanan pokok utama karbohidrat masyarakat Indonesia. Untuk mengamankan stok nasional, beras diimpor dari India, Pakistan, Myanmar, Tiongkok, dan Thailand.
Nilai CIF beras pada JanuariâDesember 2025 mencatatkan angka 217 juta USD (sekitar Rp3,90 triliun). Kenaikan dolar AS dipastikan memicu lonjakan harga beras di toko sembako.
Itulah deretan komoditas bahan makanan yang harganya terdampak akibat naiknya dolar Amerika Serikat. Semoga keadaan ekonomi segera membaik!
- Harga Bahan Makanan
- Harga Bahan Makanan yang Naik
Redaktur: Fitrya A Kusumah
Penulis: Fitrya A Kusumah
Berita Terkait:
-
5 Ide Short Trip Hemat Saat Libur Semester, Destinasi Dekat Jabodetabek yang Cocok untuk Healing Tanpa Menguras Kantong
-
Disentil Ruben Onsu! Ini Sosok Joe Octavianus, Suami Wendy Lo yang Diduga Bicara Kasar Saat Thalia Live TikTok
-
Clairine Clay Bagikan Pengalamannya Menjalani LAMS hingga Buang 2 Liter Lemak
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.