Rupiah Melemah, Benarkah Indonesia Menuju Krisis 1998 Jilid 2? Ini Faktanya

Senin, 08 Jun 2026, 10:00 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Isu mengenai kemungkinan Indonesia kembali mengalami krisis ekonomi seperti 1998 kembali menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Pelemahan nilai tukar rupiah, gejolak pasar keuangan, hingga meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global membuat sebagian pihak mulai mempertanyakan apakah Indonesia sedang menuju situasi yang sama seperti hampir tiga dekade lalu.

Namun, sejumlah ekonom menilai kekhawatiran tersebut masih jauh dari kenyataan. Kondisi ekonomi Indonesia saat ini dinilai memiliki fondasi yang jauh lebih kuat dibandingkan masa krisis moneter 1998 yang sempat mengguncang hampir seluruh sektor kehidupan masyarakat.

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menegaskan membandingkan situasi ekonomi saat ini dengan krisis 1998 bukanlah hal yang tepat. Menurutnya, karakteristik dan tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini sangat berbeda dengan kondisi ketika krisis Asia melanda.

Pada 1998, Indonesia menghadapi kehancuran sektor perbankan, lonjakan inflasi yang sangat tinggi, serta depresiasi rupiah yang terjadi secara ekstrem. Saat itu, nilai tukar rupiah anjlok dari kisaran Rp4.000 per dolar AS hingga menembus lebih dari Rp16.000 per dolar AS. Kondisi tersebut memicu kontraksi ekonomi yang dalam dan berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat.

Sebaliknya, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini dinilai masih berada dalam batas yang dapat dikelola. Fluktuasi nilai tukar dan pasar keuangan lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen global, termasuk ketidakpastian ekonomi dunia, kebijakan suku bunga negara maju, hingga dinamika geopolitik internasional.

"Jika dibandingkan dengan 1998, situasinya sangat berbeda. Indonesia saat ini memiliki instrumen kebijakan yang lebih lengkap dan fondasi ekonomi yang lebih kuat untuk menghadapi berbagai tekanan eksternal," jelas Josua.

Dari sisi indikator makroekonomi, Indonesia juga masih menunjukkan performa yang relatif stabil. Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Meski demikian, Josua mengakui bahwa sebagian masyarakat memang masih merasakan tekanan terhadap kondisi keuangan mereka.

Menurutnya, fenomena yang terjadi saat ini lebih mencerminkan perubahan pola konsumsi masyarakat dibandingkan penurunan daya beli secara menyeluruh. Kenaikan harga sejumlah kebutuhan membuat masyarakat menjadi lebih selektif dalam mengatur pengeluaran dan menentukan prioritas belanja.

Di sisi lain, pemerintah terus memperkuat berbagai program perlindungan sosial guna membantu kelompok masyarakat rentan menghadapi tekanan ekonomi. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas konsumsi sekaligus mengurangi dampak dari ketidakpastian global.

Terkait sejumlah program unggulan pemerintah, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Josua menilai manfaatnya tidak bisa diukur hanya dalam hitungan bulan. Program-program tersebut dirancang sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi di berbagai daerah.

Ia juga menekankan kepercayaan publik menjadi faktor penting dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi. Optimisme yang dibangun berdasarkan data dan pemahaman yang tepat dinilai mampu membantu Indonesia menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang.

Dengan kondisi perbankan yang lebih sehat, kebijakan ekonomi yang lebih matang, serta berbagai instrumen pengamanan yang tersedia, Indonesia dinilai masih berada dalam posisi yang jauh lebih siap dibandingkan saat menghadapi badai krisis pada 1998. Meski tantangan global tetap ada, banyak ekonom meyakini bahwa Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda menuju krisis ekonomi seperti yang pernah terjadi hampir tiga dekade lalu.

  • pertumbuhan ekonomi
  • krisis ekonomi

Redaktur: Alfina Febriyana

Penulis: Alfina Febriyana

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.