Mengenal Istilah Lipstick Effect: Saat Krisis Ekonomi, Segelas Kopi dan Lipstik Jadi Pelipur Lara

Rabu, 03 Jun 2026, 12:45 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Di tengah ketidakpastian ekonomi, masyarakat biasanya akan lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.

Pembelian barang-barang bernilai besar seperti mobil, rumah, atau gawai terbaru sering kali ditunda karena kondisi keuangan yang dianggap belum stabil.

Ket. Foto: Es Kopi — Sumber: Magnific.com

Namun menariknya, di saat yang sama, banyak orang tetap rela mengeluarkan uang untuk membeli barang-barang kecil yang memberikan kebahagiaan atau kepuasan emosional. Fenomena inilah yang dikenal sebagai Lipstick Effect.

Lipstick Effect merupakan fenomena psikologi ekonomi yang menggambarkan kecenderungan konsumen untuk mengurangi pembelian barang mewah berharga tinggi, tetapi tetap membeli produk-produk kecil yang terjangkau dan mampu memberikan rasa senang.

Barang tersebut tidak harus berupa lipstik, melainkan bisa berupa kopi favorit, makanan penutup, parfum, produk perawatan kulit, hingga aksesori sederhana.

Awal Mula Kepopuleran

Istilah Lipstick Effect dipopulerkan oleh mantan pimpinan perusahaan kosmetik Estee Lauder, Leonard Lauder, pada tahun 2008. Ia mengamati bahwa penjualan lipstik justru meningkat setelah peristiwa serangan teroris 11 September 2001 di Amerika Serikat.

Ketika masyarakat merasa khawatir terhadap kondisi ekonomi dan masa depan, mereka cenderung menahan pembelian barang-barang mahal, tetapi tetap mencari cara untuk memperoleh rasa nyaman dan penghargaan terhadap diri sendiri melalui produk yang lebih terjangkau.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui aspek psikologis manusia. Saat menghadapi tekanan ekonomi, seseorang tetap memiliki kebutuhan emosional untuk merasa bahagia, dihargai, dan memiliki kendali atas kehidupannya.

Karena tidak mampu atau tidak ingin mengeluarkan uang dalam jumlah besar, mereka mencari alternatif yang lebih murah tetapi tetap memberikan pengalaman menyenangkan.

Contoh Real di Kehidupan Sehari-Hari

Contoh yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah kebiasaan membeli kopi. Seseorang mungkin belum mampu membeli mobil baru atau mengganti telepon genggam dengan model terbaru.

Namun, ia masih bersedia mengeluarkan uang untuk membeli segelas kopi setiap hari. Bagi sebagian orang, kopi bukan sekadar minuman.

Saat menyeruput kopi, mereka merasakan ketenangan, kenyamanan, bahkan peningkatan konsentrasi untuk menjalani aktivitas. Pengeluaran yang relatif kecil tersebut dianggap sepadan dengan manfaat emosional yang diperoleh.

Hal yang sama juga terjadi pada produk kecantikan. Pada masa resesi atau krisis ekonomi, seseorang mungkin tidak memiliki anggaran untuk membeli pakaian desainer atau barang-barang mewah lainnya.

Namun, membeli lipstik kelas atas masih dianggap realistis karena harganya jauh lebih terjangkau dibandingkan produk mewah lain. Lipstik kemudian menjadi simbol self-reward atau hadiah kecil bagi diri sendiri di tengah situasi yang sulit.

Lipstick Effect menunjukkan bahwa perilaku konsumen tidak selalu ditentukan oleh kebutuhan praktis semata. Faktor emosi memiliki peran besar dalam keputusan belanja.

Ketika kondisi ekonomi memburuk, masyarakat memang cenderung berhemat. Namun kebutuhan untuk merasakan kebahagiaan, kenyamanan, dan optimisme tetap ada.

Karena itulah, produk-produk kecil yang mampu memberikan kepuasan emosional sering kali justru tetap diminati, bahkan mengalami peningkatan penjualan di masa-masa penuh ketidakpastian.*

  • Fenomena lipstick effect

Redaktur: Weti Aprianti

Penulis: Weti Aprianti

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.