Gengsi Demi Konten! Tas Hermes Birkin Kini Disewakan Rp 14 Juta Sebulan, Tren Flexing Dikritik

Selasa, 02 Jun 2026, 08:15 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Tas Hermes Birkin sudah lama melekat sebagai simbol puncak kemewahan, eksklusivitas, dan status sosial kelas atas.

Selain harganya yang selangit, sistem produksinya yang sangat terbatas serta proses pembelian yang berlapis dan rumit membuat tas ini menjadi barang yang sangat sulit dimiliki, bahkan oleh kalangan berduit sekalipun.

Ket. Foto: Hermes Birkin. — Sumber: Istimewa

Namun, dinamika kultur modern dan maraknya budaya flexing (pamer kekayaan) di media sosial kini melahirkan tren baru yang tak kalah mengejutkan: tas Hermes Birkin sekarang bisa disewa dengan tarif jutaan rupiah.

Layanan penyewaan tas super mewah ini disediakan oleh platform mode ternama asal New York, Vivrelle. Untuk bisa menjinjing tas ikonik ini, pelanggan harus merogoh kocek sebesar US$ 800 atau setara dengan Rp 14 juta per bulan.

Menurut sang pendiri, Blake dan Wayne Geffen, langkah ini diambil untuk mempermudah akses masyarakat terhadap barang-barang mewah. Mereka menilai industri fashion global saat ini sedang bergeser, di mana konsumen mulai lebih mementingkan aspek "akses memakai" dibandingkan dengan "hak kepemilikan".

Pro dan Kontra Tren Sewa Tas Mewah

Meskipun konsep ini terdengar inovatif bagi sebagian orang, langkah menyewa tas sekadar untuk gaya hidup memicu perdebatan sengit dan banjir kritik dari berbagai pihak. Berikut adalah beberapa poin yang menjadi sorotan:

  • Pemberian Rapor Pemborosan: Jika dihitung secara matematis, biaya sewa bulanan tersebut akan menghabiskan dana sekitar Rp 168 juta dalam setahun. Sana Roychowdhury, seorang kolektor Hermes vintage asal New York, berpendapat bahwa akumulasi uang sewa setahun itu sebenarnya sudah sangat cukup untuk membeli satu buah tas Hermes tipe Kelly vintage asli yang menjadi hak milik pribadi secara permanen.

  • Melunturkan Nilai Eksklusivitas: Di jagat media sosial seperti Reddit, banyak warganet yang menilai bahwa menyewa barang mewah demi konten hanya akan menjatuhkan nilai prestise dari tas itu sendiri. Tas yang awalnya kental dengan nuansa quiet luxury (kemewahan yang tenang dan berkelas) kini dianggap bergeser menjadi komoditas mainstream demi pemenuhan ego dan status palsu para influencer.

  • Kehilangan Nilai Sentimental: Para pencinta mode sejati berpendapat bahwa kepuasan memiliki sebuah tas mewah terletak pada proses merawat, mencintai, serta nilai sentimental untuk bisa diwariskan ke generasi berikutnya, sesuatu yang sama sekali tidak akan didapatkan dari barang sewaan.

Kehadiran jasa penyewaan tas Hermes Birkin seharga Rp 14 juta per bulan ini merefleksikan bagaimana media sosial mampu mengubah lanskap industri barang mewah.

Batasan antara gengsi realitas dan gengsi digital kini semakin bias, di mana sebagian orang rela mengeluarkan biaya besar demi bisa memamerkan gaya hidup glamor sesaat, terlepas dari fakta bahwa barang tersebut harus dikembalikan di akhir bulan.

Fenomena ini tentu memberikan sudut pandang baru mengenai cara pandang masyarakat modern terhadap sebuah arti kemewahan.

Jadi, bagaimana nih pendapat kamu mengenai tren menyewa tas mewah demi kebutuhan konten atau penampilan ini? Tulis tanggapanmu di kolom komentar bawah, ya!

  • Tren Sewa Tas Hermes Birkin
  • Fenomena Flexing

Redaktur: Sarah Ramadhani

Penulis: Sarah Ramadhani

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.