Perdebatan Pesugihan Gunung Kawi, Pesulap Merah dan MUI Beri Pandangan Berbeda
Senin, 25 Mei 2026, 19:15 WIBJAKARTA, KUCANTIK.COM - Gunung Kawi kerap dikaitkan dengan mitos pesugihan dan tumbal yang belakangan kembali ramai dibahas setelah Pesulap Merah atau Marcel Radhival membicarakannya dalam sebuah video viral.
âBanyak netizen ngajak saya untuk ungkap pesugihan Gunung Kawi apa pakai tumbal dan semacamnya. Setelah saya ngobrol-ngobrol sama kuncen juru kunci, dan luar biasanya juru kunci ini ngomong tidak pakai inisial-inisial ketika ditanya, dia ceplas-ceplos saja sebut nama,â kata si Pesulap Merah.
Ritual yang dilakukan di Keraton Gunung Kawi disebut mewajibkan peziarah membawa bunga serta dupa sebagai sarana menyampaikan doa serta harapan pada Tuhan Yang Maha Esa.
âSetelah saya upload (video eksplor Keraton Gunung Kawi), ternyata kuncen berbicara seperti itu bukan kali ini saja. Nama-nama yang disebutkan, di video teman saya yang juga meminta wawancara kuncen, juga menyebutkan nama-nama yang sama. Jadi sudah disebutkan jauh-jauh hari sama si kuncen ini,â jelasnya.
Marcel lebih lanjut mengatakan bahwa Keraton Gunung Kawi bukan sebagai tempat pesugihan atau sarang jin, melainkan bagian dari ritual Kejawen.
âKarena sebenarnya itu bukan ritual jin-jin, bukan, tapi itu ritual kepercayaan Kejawen. Kalau kita yang Muslim ya tentu tidak boleh menjalankan hal semacam itu, karena itu merupakan kepercayaan kejawen,â tandasnya.
Apa Kata MUI?
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur melalui Sekretaris Umum, Hasan Ubaidillah, turut buka suara terkait mitos pesugihan Gunung Kawi yang disebut-sebut memakan tumbal.
âKita harus memahami konteks pesugihan di Gunung Kawi Malang, apa yang disampaikan pesulap merah dan dipersepsi masyarakat sama atau tidak. Praktik ritualnya seperti apa? Maka kalau praktik terus ada ritualnya itu tentu kemusyrikan. Tentu hukumnya haram secara mutlak,â kata Hasan.
âKalau tawassul atau wasilah itu mendekatkan diri ke Allah, tanpa ritual apa pun, tanpa sesajen, murni berdoa saja. Tapi realitasnya di Gunung Kawi yang datang melakukan ritual khusus, dengan media-media tertentu seperti sesajen jelas itu haram,â jelasnya.
Lebih lanjut, ulama yang akrab disapa Gus Ebed ini menjelaskan bahwa para tamu yang datang membawa ritual khusus serta sesajen untuk mengharapkan sesuatu.
âKemusyrikan itu dalam artian bahwa ritual yang dilakukan di sana itu cenderung menyentuh pada aspek-aspek keyakinan. Misalnya meyakini ketika ritual di Gunung Kawi bisa mendatangkan uang yang banyak, pekerjaan yang lancar, dengan sesajen-sesajen tertentu. Maka di sini mengapa dikatakan musyrik karena meyakini bahwa dengan melakukan ritual tersebut akan mendatangkan rezeki atau uang,â kata Gus Ebed.
âLain dengan persoalan wasilah, ini memang bedanya sedikit sekali. Kalau wasilah itu dalam artian perantara, tapi perantaranya untuk mendekatkan diri ke Allah. Dalam surat Al-Maidah dijelaskan,â sambungnya.
Gus Ebed lantas membandingkan antara wasilah dengan praktik pesugihan Gunung Kawi yang sekilas dianggap tidak berbeda.
Wasilah merupakan momen saat seseorang berdoa tanpa ritual tertentu juga tanpa sesajen.
âSebagaimana dilakukan oleh banyak kalangan terutama di Indonesia seringkali tawassul atau wasilah ini dimaknai misalnya begini tawassul kepada Rasulullah saw, karena Rasulullah kekasih Allah Swt. Harapannya dengan kita menyambungkan ke Rasulullah, apa yang kita minta ke Allah dikabulkan kasihnya,â imbuhnya.
âKalau bahasa kasarnya kita itu kita tidak kenal sama presiden, tapi presiden punya orang dipercaya. Maka melalui orang yang dipercaya itu kita sampaikan sesuatu. Dan orang itu menyampaikan langsung ke presiden,â pungkasnya.
- Pesugihan Gunung Kawi
- Pesulap Merah Gunung Kawi
Redaktur: Fitrya A Kusumah
Penulis: Fitrya A Kusumah
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.