Kurangi Impor! Industri Harus Cari Alternatif Bahan Baku Lokal

Rabu, 20 Mei 2026, 08:38 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM – Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan pelaku industri harus mencari alternatif pasokan bahan baku dari dalam negeri yang tidak terlalu banyak terdampak kurs, jika nilai turkar rupiah masih terus merosot.

Ie mangatakan industri bisa mencari mitra pemasok lokal sebagai alternatif pengganti (substitusi) bahan baku impor guma menghadapi dampak dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Ket. Foto: Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal — Sumber: istimewa

Adapun nilai tukar rupiah pada Selasa (19/5) per 11.02 WIB bergerak melemah 60 poin atau 0,34 persen menjadi 17.728 rupiah per dollar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.668 rupiah per dollar AS.

Sementara itu, pengamat ekonomi, Salamudin Daeng menilai kebergantungan pada bahan baku impor memang nyata terjadi di sektor industri Indonesia. Namun ia menyebut ada sisi lain yang membuat industri pengolahan tetap diuntungkan saat rupiah melemah.

“Sektor industri Indonesia memang bergantung pada bahan baku impor, namun kelebihannya industri pengolahan mengalami surplus perdagangan. Jadi walaupun nilai tukar rupiah menurun, sektor industri tetap diuntungkan karena memberikan surplus perdagangan,” kata Salamudin.

Agar kebergantungan pada bahan baku impor berkurang, maka pembangunan industri harus lebih terintegrasi dari hulu ke hilir. Dengan demikian, nilai tambah bisa tercipta di seluruh rantai produksi dan manfaat surplus ekspor bisa dinikmati lebih luas.

Peneliti Mubyarto Institute Awan Santosa mengatakan selain substitusi bahan baku, prinsip dasar lain yang harus diperkuat yaitu keswadayaan dan kebersamaan.

“Substitusi impor dengan bahan baku lokal dapat menjadi alternatif yang perlu digarap serius dalam jangka menengah panjang,” kata Awan.

Kebergantungan pada bahan baku impor membuat industri sangat rentan saat rupiah tertekan. Ketika biaya impor naik, struktur biaya produksi ikut terdorong sehingga daya saing melemah. Karena itu, penguatan rantai pasok lokal bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak.

Ia menekankan, upaya ini tidak bisa berjalan sendiri. Perluasan kerja sama dan jejaring antar pelaku usaha lokal menjadi faktor penting agar substitusi impor bisa benar-benar bekerja. Kolaborasi antara industri besar, UMKM, koperasi, hingga petani dan pemasok bahan baku perlu diperkuat agar tercipta ekosistem yang saling menopang.

“Pelaku usaha harus komitmen dan konsisten mendorong penggunaan produk dalam negeri. Tanpa konsistensi, program substitusi impor berpotensi berhenti di tengah jalan saat tekanan nilai tukar mereda,” katanya.

Dengan memperkuat produksi dan jaringan lokal, Awan meyakini industri nasional bisa lebih tahan terhadap gejolak eksternal sekaligus memperbesar nilai tambah yang dinikmati ekonomi domestik.

Biaya Pengiriman Melonjak

Ketua DPD ASMINDO DIY, Sapto Daryono menilai tekanan yang dihadapi industri mebel dan kerajinan ekspor saat ini bukan hanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, tetapi eskalasi konflik AS-Iran, turut memukul industri karena menyebabkan permintaan ekspor melemah dan biaya logistik internasional melonjak tinggi.

Sapto mengatakan perang membuat jalur perdagangan global terganggu, termasuk distribusi pelayaran internasional yang kini banyak melakukan pengalihan rute untuk menghindari kawasan konflik. Kondisi tersebut menyebabkan ongkos pengiriman kontainer dan biaya logistik naik signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

“Buyer di luar negeri banyak yang menahan pembelian karena situasi ekonomi dunia belum stabil, sehingga membuat pelaku industri ekspor di DIY menghadapi tekanan berlapis, mulai dari kenaikan biaya produksi, ongkos logistik, hingga penurunan order ekspor,” katanya.ers/YK/E-9

  • nilai tukar rupiah

Redaktur: Diapari S

Penulis: Diapari S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.