Pecah Tangis Maia Estianty di Pengajian El Rumi, Kenang Pedihnya Perjuangan Hak Asuh Anak Selama 7 tahun

Minggu, 26 Apr 2026, 09:30 WIB

JAKARTA, KUCANTIK.COM - Pecah tangis menyelimuti suasana pengajian menjelang pernikahan El Rumi, ketika Maia Estianty tak kuasa menahan haru saat mengenang perjalanan panjangnya sebagai seorang ibu.

Di momen yang sakral dan penuh doa itu, Maia menyampaikan isi hatinya dengan suara bergetar, membawa kembali ingatan pada masa-masa sulit yang pernah ia lalui bersama putra-putranya.

Ket. Foto: — Sumber: Instagram/@unniupdateofficial

Dengan nada lirih, Maia mengingat sebuah fase yang begitu membekas dalam hidupnya, saat El masih berusia delapan tahun.

Di usia yang seharusnya dipenuhi kehangatan dan kebersamaan, keadaan justru memaksa mereka untuk berpisah sementara waktu.

“Tapi kemudian di usiamu yang baru 8 tahun, kita pernah harus berpisah. Berpisah untuk sementara waktu itu sayangku,” ucap Maia, suaranya sarat emosi.

Perpisahan itu bukan hanya sekadar jarak fisik, tetapi juga luka batin yang mendalam. Maia mengakui bahwa pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya dalam menjalani peran sebagai ibu.

Ia harus belajar menerima kenyataan pahit, bahwa dirinya tidak selalu bisa hadir dalam setiap momen penting anak-anaknya.

“Dari hari itu Bunda belajar menjadi ibu yang tidak bisa memeluk kamu setiap hari sampai sekarang,” lanjutnya.

Kenang Perjuangan Hak Asuh Anak

Pasca perceraian dengan Ahmad Dhani, perjuangan Maia tidaklah mudah. Ia menghadapi berbagai konflik, termasuk kesulitan untuk sekadar bertemu dengan ketiga anaknya.

Dalam beberapa kesempatan, ia bahkan harus mencari cara diam-diam hanya untuk melepas rindu. Salah satu momen yang kerap dikenang adalah ketika Maia nekat memanjat pagar rumah demi bisa bertemu Al Ghazali di hari ulang tahunnya. 

Selama bertahun-tahun, Maia menjalani masa perpisahan yang panjang, bahkan hingga tujuh tahun lamanya. Namun, ia tidak menyerah. Ia terus memperjuangkan hak asuh anak-anaknya melalui jalur hukum, meskipun prosesnya penuh tekanan dan emosi.

Hingga akhirnya, pada 12 Januari 2011, Mahkamah Agung mengabulkan perjuangannya dan menetapkan hak asuh anak jatuh kepadanya.

Meski demikian, Maia memilih untuk tidak lagi berpegang pada ego. Ia mengaku menyerahkan segalanya kepada Tuhan, meyakini bahwa setiap proses memiliki makna dan hikmah tersendiri.

Baginya, yang terpenting bukan sekadar status hukum, tetapi kebahagiaan dan kenyamanan anak-anaknya.

Keputusan akhir pun memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk menentukan di mana mereka ingin tinggal.

Dari situlah, hubungan Maia dengan anak-anaknya perlahan kembali terjalin hangat, meski dibangun dari serpihan masa lalu yang penuh ujian.

Kini, di hari pengajian El Rumi menjelang pernikahannya, semua kenangan itu seolah kembali hadir.

Tangis Maia bukan hanya tentang kesedihan masa lalu, tetapi juga ungkapan syukur atas perjalanan panjang yang akhirnya membawanya ke titik ini.

Sebuah momen yang menjadi bukti bahwa cinta seorang ibu tak pernah benar-benar terpisahkan oleh jarak dan waktu.*

  • Maia Estianty

Redaktur: Weti Aprianti

Penulis: Weti Aprianti

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2025 - 2026 Kucantik.Com ®
All rights reserved.